Sekolah yang Memerdekakan

Oleh: Mohamad Sobary

KELIHATANNYA kita mulai memiliki dalil pendidikan yang mengejutkan. Bunyinya: Sekolah yang baik hanya ‘mengantarkan’ anak didik untuk menjadi diri mereka sendiri. Mengantarkannya pun tak perlu jauh-jauh. Tiap anak sudah membawa bakat masing-masing.

Dalil ini bukan hanya menyangkut metode pendidikan, melainkan juga sistem yang utuh dan komprehensif mengenai arah pendidikan: ke mana anak hendak dibawa. Guru memfasilitasi kebutuhan anak untuk menapak di jalur kehidupan yang bisa membuat mereka menjadi diri sendiri tadi.

Tekanan utamanya jelas: anak ‘diantarkan’ atau ‘ditemani’ dalam perjalanannya untuk menjadi pribadi yang merdeka. Hanya itu. Dan itu sudah ‘sempurna’.

Sulit sekali menemukan filosofi dasar selain ini yang bisa dipegang untuk mengembangkan potensi besar setiap anak. Sistem tak pernah percaya pada anggapan bahwa ada anak bodoh. Sebaliknya, setiap anak dipandang ‘istimewa’ dan sekolah mengemban peran membangun pribadi yang merdeka.

Kita bisa bicara tentang apa yang ada, dan bukan berteori secara muluk dan abstrak. Ada contoh nyata, yaitu di Nitiprayan, Ngestiharjo, Kasihan, Bantul, Yogyakarta, ada SALAM, Sanggar Anak Alam. Ini sebuah lembaga pendidikan yang hingga kini sudah mengasuh anak-anak pada tingkat bermain sampai sekolah menengah pertama. Jadi belum lama.

Barang siapa melihat sendiri kegiatan ‘pendidikan’ di dalamnya, niscaya akan secara otomatis mengatakan bahwa ini ‘sekolahan’ istimewa. Keistimewaannya terletak pada komitmen untuk membangun sebuah sekolah alternatif.

Jika kita perhatikan sistem pendidikan yang diterapkan di sana, apa yang istimewa itu bukan terletak pada kata, melainkan pada tindakan memilih cara, metode, atau pendekatan yang dijadikan pilihan untuk menyampaikan pelajaran. Pengalaman menggambarkan, pelajaran yang sukar bisa ‘dibikin’ menjadi mudah dan anak-anak didik mengerti.

“Membuat anak didik mengerti Itu sebuah seni,” kata Toto Rahardjo, aktivis senior di bidang pendidikan sejak puluhan tahun lampau. Bersama istrinya, seorang guru, dan sejumlah tokoh pendidikan bergabung, dengan semangat mengabdi pada dunia pendidikan. Hasilnya sekolah ini. Toto, berpuluh tahun lalu, pernah magang di lembaga pendidikan ‘Edukasi Dasar’ pimpinan almarhum Romo Mangunwijaya.

Lembaga asuhan Romo Mangun dulu ‘keren’ bukan karena Romo seorang budayawan terkemuka dan memiliki wawasan alternatif secara mendasar di bidang pendidikan, tetapi juga karena isi dan metode pendidikan yang diterapkannya. Tak mengherankan Romo memang akrab dengan gagasan pendidikan Paulo Freire yang sangat ‘subversif’ itu.

Pemikirannya mengguncang dunia pendidikan. Kita dibikin menjadi yakin bahwa sistem pendidikan di seluruh dunia pada dasarnya salah.

Bagi Paulo Freire, metode pendidikan seluruh dunia diibaratkannya seperti gaya bank. Anak-anak dididik dengan cara yang mirip orang memasukkan uang dalam tabungan.

Anak didik dijejali dan disuruh menelan apa saja yang disampaikan guru tanpa pernah terlibat di dalam proses awalnya. Rupanya, ‘terlibat’ di sini menjadi kata kunci penting dalam pendidikan. Juga yang berlaku di SALAM. Di sini anak-anak terlibat ‘full’ dalam proses pendidikan yang berlangsung.

Sekolah itu terletak di tengah lahan persawahan yang hijau segar. Orang tua murid dan guru bekerja sama menyelenggarakan pendidikan bagi anak-anak mereka.

Anak-anak diajari tentang fakta. Dalam hitungan, 5×5 hasilnya 25 bukan diajarkan secara abstrak seperti sistem pendidikan konvensional kita melainkan dengan melihat fakta lapangan.

Anak disuruh mengambil 5 butir batu untuk ditaruh di suatu tempat, kemudian anak tadi mengambil 5 butir batu lagi, berturut-turut hingga 5 kali, ditaruh di suatu tempat tadi. Semua anak menyaksikan, hasilnya 25 sebagai benda nyata, faktual, dan bukan imajinasi abstrak.

Diam-diam ini praktik meneliti suatu benda secara sederhana. Kata ‘meneliti’ dan ‘menghitung’ itu tergabung menjadi satu pikiran dan satu tindakan. Ini mengajarkan anak-anak tentang cara berpikir faktual, nyata, dan bisa dibuktikan. Bukti bisa diulang-ulang tanpa mengalami perubahan.

Siapa pun yang mengambil 5 butir batu dan bolak-balik 5 kali akan terbukti hasilnya sama saja: 25. Akan menjadi kesalahan besar kalau kita mengira bahwa proses pendidikan itu hanya menyangkut persoalan menghitung 5×5. Bukan hanya itu.

Ini juga menyangkut segi pendidikan lain, yang biasanya baru diberikan secara sistematis di perguruan tinggi. Ini bisa disebut metode riset secara sederhana tapi mendasar. Di sini, sejak kecil anak-anak sudah dilatih melakukan suatu penelitian secara saksama.

Apa makna teoretis yang terkandung di dalamnya? Membangunkan ‘the sleeping giant’. Di lembaga ini ada kesadaran bahwa tiap anak memiliki potensi besar. Sistem di sini mengubah potensi ‘the sleeping giant’ itu menjadi kekuatan nyata. Potensi itu ada wujudnya.

Toto Rahardjo gandrung pada apa yang disebut nyata, faktual, dan wujud ini. Dia tak ingin mengajarkan apa yang hanya berupa omong yang tidak ada juntrungnya.

Di sini anak dilatih membuktikan diri bahwa mereka punya potensi bawaan yang besar. Caranya, dilatih meneliti secara sederhana tadi. Ini yang dimaksud mengantarkan anak tak perlu jauh-jauh. Begitu jalan dibuka, mereka bisa menempuh sendiri perjalanan secara merdeka untuk ‘menjemput’ sosok pribadi yang tak lain kecuali dirinya sendiri.

Ini diajarkan karena guru dan orang tua yang terlibat di dalam sistem itu menyadari bahwa penelitian lapangan itu suatu urusan penting. Penelitian itu suatu proses membuktikan sesuatu secara mandiri dan merdeka. Dan ini membuat—sekali lagi—mereka menjadi manusia merdeka.

Di sini tidak ada murid ‘nyontek’ seperti terjadi di tempat-tempat lain. Makna jujur, mandiri, dan memiliki integritas pribadi yang utuh bukan diomongkan, seperti dalam pendidikan ‘ceriwis’, melainkan diwujudkan, diamalkan, dan menjadi suatu tradisi intelektual yang kukuh dan terhormat. Semua ini masih dalam wujud sederhana tapi mendasar seperti disebut di atas.

SALAM tidak tiba-tiba memahami ini semua. Seperti para murid, lembaga ini juga bermula dari tidak tahu. Tapi pelan-pelan, bersama para murid, menghayati apa yang dilakukan dan mencoba memetik makna terdalam dari tindakannya. Mereka paham makna ungkapan: pengalaman merupakan guru terbaik.

Kalau anak-anak yang dididik seperti ini kelak menjadi peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) atau lembaga lain, kita tak perlu heran bila mereka sudah tampak istimewa dibanding mereka yang berasal dari produk sistem pendidikan yang lain.

Berbagai pelajaran menjadi pengalaman hidup yang dihayati oleh semua pihak, mungkin terutama oleh anak-anak. Kita tahu bahwa ini sudah merupakan bagian dari pembentukan watak, sifat,dan karakter yang kuat. Di sini sudah dibangun tradisi akademik yang ‘terhormat’ sejak dini.

Di sini suatu pelajaran bisa dimuai dari pertanyaan. Anak-anak memang dilatih bertanya mengenai berbagai hal secara kritis. Kalau anak bertanya mengenai ikan dan cara memancing ikan, guru dan orang tua ‘mengantar’ mereka untuk menemukan buku dan mereka sendiri yang membaca.

Buku bacaan tentang ikan sudah dipahami, kemudian mereka membuat suatu presentasi sederhana. Mereka juga membaca penjelasan tentang memancing. Kemudian presentasi lagi. Lalu secara sederhana menyusun rencana memancing hingga pertanyaan tentang ikan dan memancing ikan tadi terjawab. []

KORAN SINDO, 14 Januari 2017
Mohamad Sobary | Esais, Anggota Pengurus Masyarakat Bangga Produk Indonesia, untuk Advokasi, Mediasi, dan Promosi. Penggemar Sirih dan Cengkih, buat Kesehatan.

Sekolah Tanpa Stres

Oleh: Mohamad Sobary

PROBLEM pokok dunia pendidikan kita mungkin terletak pada bahasa. Mulai dari kelompok bermain, taman kanak-kanak, sekolah dasar, sekolah menengah pertama, kemudian sekolah menengah atas hingga perguruan tinggi, anak didik berbicara dalam bahasa orang tua.

Ungkapan sehari-hari anak-anak cerminan ungkapan orang tua. Anak-anak memandang dunia dengan kaca mata orang tua. Di sini orang tua itu guru. Mungkin kepala sekolah berpidato resmi setiap Senin dalam citarasa orang tua dan mengira anak-anak mendengarkannya.

Kelihatannya ada anggapan yang tak dinyatakan, tetapi dipraktikkan di dalam kehidupan sehari-hari bahwa anak merupakan orang tua dalam bentuk kecil. Tak begitu mengherankan bila praktik pendidikan kita memaksa menjadikan anak sama dengan orang tua.

Padahal anak-anak adalah anak-anak. Mereka itu bocah-bocah yang memiliki dunianya sendiri. Mereka memiliki bahasa sendiri: khas bahasa anak-anak. Mereka juga memiliki cara pandang sendiri dan kegemaran sendiri.

Anak-anak bukan orang tua. Mereka ingin menikmati dunia dengan cara anak-anak. Cara berpikir mereka penuh warna, imajinatif, alamiah, dan murni. Begitulah dunia anak-anak. Dunia itu memiliki bahasanya sendiri.

Kegagalan orang tua memahami anak-anak dijadikan kegagalan anak untuk menyesuaikan diri dengan aturan sekolah. Problem guru dijadikan problem anak-anak. Mereka disebut anak-anak bermasalah. Padahal jelas itu problem guru yang tak memahami anak-anak.

Guru selalu lebih berkuasa menghadapi anak-anak. Dan guru yang lebih berkuasa itu pula yang memutuskan anak yang dianggap bermasalah harus dikeluarkan dari sekolah. Anak bermasalah dipindah ke sekolah lain. Berbahagialah anak-anak kalau sekolah lain tadi betul-betul lain.

Tapi sekolah kita, di mana pun, kurang lebih sama saja. Jika di sekolah yang baru itu anak-anak juga gagal, jelas bahwa mereka itu korban sistem dan orang tua yang tak paham dan tak pernah ingin paham akan dunia dan bahasa anak-anak.

Buktinya, tidak ada guru yang merasa prihatin atas nasib anak-anak yang dipindahkan. Guru tak pernah mencoba tahu bagaimana nasib anak-anak yang diusir dari sekolah tadi. Di sini guru kelihatan tidak bertanggung jawab atas keputusannya.

Di Jepang ada Sekolah Tomo, sekolah istimewa yang diceritakan di dalam buku klasik yang judulnya Toto Chan, gadis kecil di tepi jendela. Buku ini mengisahkan seorang gadis kecil yang selalu berisik, tidak rapi, tidak menurut tata tertib yang ditetapkan sekolah.

Sudah jelas, kalau sedang belajar di dalam kelas, anak-anak harus tenang, tertib, dan tak membuat suara-suara apa pun. Tapi gadis kecil ini lain. Sebentar-sebentar dia mengeluarkan buku-buku dan pensil di dalam lacinya. Kemudian memasukkannya kembali. Suaranya jelas berisik.

Pernah bahkan dia berdiri di tepi jendela dan bercakap-cakap dengan orang lain di luar sana. “Sedang apa kau ini?” tanya si gadis kecil.

Dan guru menanyakannya dengan siapa dia berbicara dan si gadis itu menjawab, dia bertanya kepada seekor burung yang hinggap di suatu dahan di luar gedung sekolah itu. Guru merasa kewalahan. Gadis kecil itu disuruh pindah ke sekolah lain.

Orang tuanya sedih. Dicobanya mencari sekolah yang mungkin bisa menerima kebiasaan anaknya dan ditemukan. Sebuah sekolah aneh yang ruang belajarnya gerbong kereta api.

Suasana itu menarik bagi anak-anak. Waktu belajar guru mengawasi mereka dengan penuh kesabaran. Guru memahami bahwa anak-anak ya anak-anak. Dunia mereka itu campur aduk antara yang nyata dan yang imajinatif. Aturan sekolah ada. Tapi tak dijejalkan begitu saja kepada mereka.

Sekolah Tomo dibuat untuk anak-anak dan bukan sebaliknya seperti di sini: anak-anak dibuat demi sekolah. Situasi sekolah serba-menyenangkan. Aturan makan sehat dan bergizi jelas ada. Waktu makan siang bersama guru berkata: “Mari kita buka yang dari laut dan dari gunung.”

Suasana meriah. Anak-anak menikmati strategi pendidikan seperti ini. Apa yang dari laut itu? Maksudnya ikan. Lauk sehat bagi manusia di mana pun. Yang dari gunung? Itu semua jenis sayuran.

Ikan dan sayuran makanan sehat bagi mereka dan bagi siapa pun. Diam-diam ini pendidikan mengenai kesehatan dan anak-anak bahkan tak begitu menyadarinya, tetapi mereka mempraktikkannya.

endidikan tak usah terlalu banyak kata. Pendidikan bukan khotbah. Lakukan, amalkan. Tradisikan semua yang baik. Ini yang paling mendasar. []

Koran Sindo, 7 Januari 2017
Mohamad Sobary | Esais, Anggota Pengurus Masyarakat Bangga Produk Indonesia, untuk Advokasi, Mediasi, dan Promosi. Penggemar Sirih dan Cengkih, buat Kesehatan.

Aku Punya Cinta

Oleh: Mohamad Sobary

MANUSIA punya cinta. Mungkin ada cinta pertama. Orang bilang cinta pertama itu suci. Dia lahir dari hati nurani. Mungkin tempatnya di lubuk hati yang terdalam.

Mungkin lubuk hati itu sebuah dunia tersendiri, yang tak terselami oleh panjangnya akal. Juga tidak oleh banyaknya aneka ragam pengalaman. Apalagi pengalaman manusia yang hanya dangkal. Pengalaman terdalam pun tak sampai sedalam lubuk hati—kadang kita menyebutnya hati nurani—yang menyimpan cinta suci tadi.

Di dalam cinta suci tak terdapat kalkulasi. Karena kalkulasi itu bikinan akal, sedangkan cinta suci bikinan hati. Buah hati. Dambaan hati. Mungkin cinta—juga cinta suci tadi—erat hubungannya dengan tragedi. Kelihatannya itu tidak mustahil.

Sebelum tragedi terjadi, cinta—biarpun sesuci salju yang belum tersentuh setitik pun debu— bawaannya membikin resah. Begitulah para seniman besar melukiskannya dalam novel, dalam puisi, dan juga drama, maupun film.

Romeo dan Juliet mungkin contoh klasik dan abadi. Tapi di negeri kita sendiri kisah macam itu tak kurang-kurangnya. Soalnya kita juga punya cinta. Seniman— juga seniman kita— sering menampilkan tragedi cinta itu sedemikian ekstrem, bisa berlebihan, dan menguras air mata pembaca novel atau puisi, penonton drama atau film. Dalam derita menanggung rindu, ibaratnya ”air diminum rasa duri, nasi dimakan rasa sekam”.

Begitu idiom kita jika menyangkut urusan cinta. Bukan hanya itu pula. Tak jarang cinta juga membuat kita merasa begitu melankolis, seperti dalam puisi Chairil Anwar, Cintaku Jauh di Pulau: Cintaku jauh di pulau/Gadis manis sekarang iseng sendiri/. Chairil rindu di mata, rindu di hati. Tabiat orang rindu, membuat apa yang jauh di mata menjadi begitu dekat di hati.

Tapi kedekatan tak identik dengan rasa tenteram. Dekat di hati tapi gelisah juga tak mustahil. Dalam cinta, Chairil juga bicara tentang kematian: Mengapa ajal memanggil dulu/Sebelum sempat berpeluk dengan cintaku/. Kemudian dia menutup puisinya dengan kelamnya kematian: Manisku jauh di pulau/ Kalau kumati, dia mati iseng sendiri//.

Orang bilang, cinta di dalam kategori ini umumnya lebih berarti pemilikan, bahkan penguasaan. Sumpah mengenai cinta sampai mati dan pesan untuk dikubur dalam satu liang buat dua jasad yang saling mencintai sebagaimana gambaran khas mengenai apa yang bisa disebut ”kisah kasih tak sampai” sangat digemari—dan menjadi sejenis mode—dalam ekspresi seni di kalangan kaum seniman zaman dulu.

Chairil Anwar tak termasuk kategori seniman zaman dulu. Maka kalau dia bicara perkara lain, dia begitu tegar: Aku ini binatang jalang/Dari kumpulannya terbuang/. Dan dia bukan hanya tak bicara tentang kematian. Sebaliknya, dia bahkan memproklamasikan: Kumau hidup seribu tahun lagi!

Dalam lagu cinta—gubahan Panbers—mungkin agak lain. Ada kesedihan, tapi tanpa kematian. Dia tegar: aku gagal kali ini/tanpa tangis dan duka/ hanya titik air mata dan senyum kehancuran/.

Kelihatannya ini hancur biasa, tapi sekali lagi, tak menyentuh kematian. Gagasan bahwa hidup ini layak—jauh lebih dari layak— untuk dipertahankan, tak pernah menghampiri kaum seniman klasik, yang jika cinta tak terwujud, hanya ada satu jalan pembebasan: mati.

Sangat remaja jiwanya. Rupanya, aku—manusia— punya cinta, tapi tak punya kebebasan. Cinta digambarkan bersebelahan dengan mati. Maka, bila terjadi kesalahan pada cinta tadi, bukan hidup dengan berbagai alternatif yang dimunculkan, melainkan kematian. Apakah cinta sejati yang tak sampai harus berujung kematian? Dalam kisah cinta yang lain, yang artinya pengabdian, atau penyerahan— dan bukan pemilikan atau penguasaan—cinta tampil dalam wajah yang begitu semringah. Hidup dipenuhi cinta. Kita tak memiliki.

Bahkan tak memiliki diri kita sendiri. Kita seperti tidak ada. Kita hanya ada untuk cinta. Kita tidur dalam alam cinta. Melek dalam dunia cinta. Duduk, berdiri, berjalan, berlari, tak pernah menawarkan makna lain selain bahwa kita duduk, berdiri, berjalan dan berlari dalam cinta yang diberkahi. Dan di sini tak disinggung apakah ini cinta pertama atau terakhir. Cinta ya cinta. Di dalamnya bukan hanya tak pernah ada kalkulasi, tapi ini lain: cinta berarti mengabdi.

Tak pernah ada pamrih. Tak pernah ada ”klaim” ini dan itu. Cinta ya cinta, seperti disebut tadi. Hidup untuk cinta. Jika ada balasan? Kita tak berharap. Kita di sini mewakili tokoh perempuan di dunia sufi: Rabiyah Al-Adawiyah. Dia memiliki ungkapan cinta yang dalam dan menggetarkan jiwa, ”Aku menyembah-Mu bukan karena takut neraka-Mu. Aku menyembah-Mu juga bukan karena berharap akan surga-Mu. Tapi aku menyembah-Mu karena aku memang harus menyembah-Mu.”

Mungkin inilah cinta yang memiliki semangat pembebasan. Cinta yang sama sekali tak terikat. Dan di dunia ini memang tak ada kekuatan yang mengikatnya. Surga-neraka bukan apa-apa, karena talinya tak bisa mengikat jiwa perempuan suci ini. ”Kalau Kau ingin memberiku tempat di neraka, berikan itu pada musuh-musuh-Mu. Kalau surga yang hendak Kau berikan padaku, berikan saja pada sahabat-sahabat-Mu. Dan aku? Engkau cukup bagiku.”

Bagaimana kita sekarang beragama? Mengapa kita tak meneladani kemuliaan cinta tokoh sufi ini? Mengapa ketika kita bersumpah dalam doa: kepada-Mu aku menyembah, tetapi sebenarnya kita menyembah politik dan segenap kepentingan politik kita?

Mengapa ketika kita bersumpah hanya kepada-Mu aku mohon pertolongan, tapi kita mohon pertolongan pada orang, sesama manusia, yang bisa menjanjikan posisi yang serba enak dan nyaman? Mengapa cinta kita tiba-tiba terasa begitu murah?

Mengapa kita bercinta sambil sekaligus mendengki? Mengapa kita bicara gerakan damai tapi di balik gerakan yang kasat mata ada agenda tersembunyi yang sama sekali tak berhubungan dengan cinta? Kita, tiap orang, bicara ”aku punya cinta”, tapi apa sebabnya hidup kita begitu gersang, penuh agenda kedengkian, penuh rencana mencelakai pihak lain?

Mengapa kita menutup akhir tahun bukan dengan cinta, bukan dengan keindahan yang bisa kita sebarkan pada sesama, dengan cara orang yang betulbetul punya cinta, melainkan sebaliknya: mengapa kita menghidupkan kedengkian? ”Aku punya cinta” seharusnya tak berarti lain, selain ”aku punya cinta” sebagaimana rasa dalam jiwa kita. []

Koran Sindo, 31 Desember 2016
Mohamad Sobary | Esais, Anggota Pengurus Masyarakat Bangga Produk Indonesia, untuk Advokasi, Mediasi, dan Promosi. Penggemar Sirih dan Cengkih, buat Kesehatan.

Mencari Pemimpin Sejati

Oleh: Mohamad Sobary

KITA hidup di zaman yang mungkin tak kita pahami dengan baik justru karena ulah kita sendiri. Kita, umat manusia, telah menciptakan ilmu pengetahuan dan teknologi yang mampu mengubah dunia dalam sekejap.

Teknologi informasi, media, dengan mudah mengubah manusia yang kemarin sore bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa, pagi ini telah membuatnya menjadi orang ternama. Media—tentu saja termasuk media sosial—berhasil menciptakan ustad, filsuf, jago motivasi, dan pemimpin masyarakat.

Ustad bikinan televisi kita berkhotbah untuk meyakinkan umat bahwa agama itu mudah. Filsuf mengajari pemirsa program televisinya tentang rahasia hidup bahagia, dengan cara begitu mudah dan sederhana. Dan, para pemirsa tergila-gila.

Jago motivasi berbicara dengan fasih mengenai rahasia sukses dalam hidup, dalam politik dan dalam bisnis. Dan pemimpin masyarakat? Ini lebih mudah.

Media cukup mengatakan bahwa dia jenis manusia istimewa, termasuk dalam ‘one hundred most influential young leaders’ . Ini bisa dicetak di dalam koran atau majalah, dan dibagi secara gratis ke sebanyak mungkin pembaca yang tak tahu apa-apa mengenai kebenaran orang yang ditokohkan tersebut.

Cukup wajahnya dipotret, disuruh nyengir, dan agak miring ke kanan tetapi di bagian lain, wajah nyengir itu disuruh miring ke kiri. Dan jadilah sudah.

Dia telah menjadi seperti yang ditulis. Tidak diperlukan proses apapun. Ini hanya sejenis ‘kun fa yakun’ masa kini. Dan para pembaca pun tersihir oleh pesona mengerikan itu.

Ustad, filsuf, jago motivasi dan pemimpin masyarakat diciptakan oleh media kita dengan proses yang mungkin serupa. Mereka hanya muncul, omong sedikit–termasuk menguraikan hal yang tak diketahuinya dengan baik—dan beres.

Dia telah terkenal di muka bumi. Media, pendeknya, membuat orang untuk cukup diam tak mengerjakan apa-apa, tak memiliki komitmen apa pun, tapi bisa dibikin terkenal tanpa tandingan.

Di dalam abad teknologi informasi ini, ilmu pengetahuan dan teknologilah yang harus maju. Dan manusia, ironisnya, tak begitu harus. Manusia cukup ‘plonga-plongo’ apa adanya, agak idiot sedikit juga boleh, dan ilmu pengetahuan serta teknologi bakal menutupi dengan sempurna segenap kekurangannya.

Ilmu pengetahuan dan teknologilah yang maju menjadi joki, menggantikan peran kemanusiaan, atau peran orang yang disebut pemimpin tadi, untuk tampil meyakinkan. Di dalam situasi seperti ini, masih mungkinkah kita mencari kebenaran mengenai sosok pemimpin yang tak terkontaminasi media? Masih mungkinkah sekarang kita menemukan contoh seorang calon pemimpin yang tak dipoles-poles secara manipulatif oleh kepentingan politik-ekonomi media?

Dengan kata lain, masih mungkinkah kita mencari pemimpin sejati di dalam masyarakat yang secara kebangetan memuliakan duit, popularitas, dan kemuliaan citra, tanpa memedulikan kenyataan bahwa semuanya itu hanya kecanggihan menata kebohongan?

Kata pemimpin sejati di sini jangan diartikan seperti makna guru ‘sejati’ di dalam dunia ilmu makrifat, ilmu batin, yang niscaya terlalu tinggi dan mungkin sudah tidak ada lagi. Pemimpin sejati di sini, di zaman penuh kesintingan, ambisi dan keserakahan, kira-kira hanya manusia yang tak tergoda untuk turut menjadi serakah, tak terlalu ambisius dan tidak sinting memandang jabatan sebagai segalanya.

Pemimpin sejati di sini orang yang tampil apa adanya, dengan segenap komitmen sosial politik yang jernih, untuk memimpin orang banyak demi panggilan hati nurani yang dilengkapi kemampuan teknis yang lebih dari sekadar memadai, dan kekuasaannya tak bakal dipakai buat kekuasaan itu sendiri melainkan buat menata kehidupan yang adil, manusiawi dan tentu saja demokratis.

Tidak ada ambisi pribadi yang berlebihan. Tidak muncul pamrih untuk terlalu memuliakan diri sendiri. Dia memimpin untuk membuat dunia yang penuh ketidakadilan ini menjadi lebih adil. Di tangannyalah hidup yang terlalu manipulatif ini ditata kembali menjadi corak kehidupan yang meluhurkan kebenaran.

Memang, di zaman kemajuan ini orang harus maju. Orientasi keilmuan menjadi sangat penting. Teknologi informasi harus dinikmati untuk memfasilitasi secara adil dan manusiawi langkah-langkah kita menjelaskan kepada publik komitmen sosial-politik kita. Teknologi itu fasilitas zaman yang harus disyukuri.

Tapi kita tak bisa dijajah oleh teknologi. Ciptaan kita bisa kita kendalikan. Sebaliknya, kita tak bisa menggunakannya menurut nafsu kita. Di sini mungkin kita berbicara mengenai etika. Mungkin etika keilmuan dan teknologi.

Siapakah di zaman seperti ini yang masih ingat akan etika, untuk mengendalikan ambisinya yang bergejolak seperti gelombang samudra yang diterpa badai? Ambisi manusia sering jauh lebih besar dari gelombang samudra. Orang tahu, teknologi bisa digunakan untuk memenuhi ambisinya. Di sini tidak ada yang salah. Manipulasi dianggap tidak salah. Berbohong dengan teknologi itu bagian dari kemajuan zaman? Bagaimana seharusnya kita memahami kemajuan?

Ini zaman yang sukar. Kiblat kehidupan kita ditentukan oleh teknologi. Mungkin karena kita terlalu memuja teknologi. Dan terlalu yakin bahwa teknologi telah memenuhi janjinya untuk membuat hidup kita lebih mudah, lebih enak.

Nilai-nilai hidup berubah. Etika jauh dikesampingkan. Apa yang berbau kemarin, masa lalu, dianggap tak lagi penting. Manipulasi dianggap wajar selama hal itu dilakukan untuk meraih kemajuan masa depan. Apa yang lebih penting dari kemajuan masa depan?

Hidup bergelimang dengan manipulasi sudah dianggap kewajaran. Kemajuan dan demokrasi dipahami dengan cara kaum muda sekarang memandang hidup. Kaum muda yang tak memiliki apa-apa, yang tak pernah memimpin apa-apa, dengan nyaman menyatakan dirinya sebagai kaum muda yang paling berpengaruh.

Kepada siapa pengaruh itu berkembang? Siapa yang memperoleh manfaat dari pengaruh yang sebenarnya tidak ada?

Dalam ketiadaan macam ini juga wajar kaum muda “nyalon’ ini ‘nyalon’ itu. Maju dalam pemilihan ini dan pemilihan itu.

Kita tidak bisa lagi menerapkan prinsip etis: mengapa tidak malu? Mengapa hidup dibangun hanya di atas ambisi demi ambisi, dan bukan di atas kebenaran yang menerangi kegelapan jagat raya?

Masih adakah kesempatan bagi kita sekarang memikirkan kemungkinan mencari atau menemukan pemimpin sejati? Ada problem serius di dalam dunia kepemimpinan kita zaman ini.

Kita wajib memilih. Ada dua pilihan yang tersedia. Satu, pemimpin ambisius yang manipulatif dan menjual diri kepada basis pemilih dengan penuh kebohongan. Dua, pemimpin yang berjuang dengan gigih melawan segenap manipulasi tadi. Dengan kata lain, ini tawaran tentang pemimpin sejati, yang tak menipu kita. []

Koran Sindo, 24 Desember 2016
Mohamad Sobary | Esais, Anggota Pengurus Masyarakat Bangga Produk Indonesia, untuk Advokasi, Mediasi, dan Promosi. Penggemar Sirih dan Cengkih, buat Kesehatan.

Jokowi ‘Ngluruk Tanpo Bolo’

Oleh: Mohamad Sobary

DALAM sebuah diskusi yang bersifat akademis, ada peserta yang kelihatannya secara meyakinkan menyatakan bahwa demo itu bagian tak terpisahkan dari demokrasi. Dalam pernyataannya ada semangat menyalahkan aparat keamanan yang mengingatkan bahwa demo tak dilarang selama tak menimbulkan sikap anarkistis.

“Demo sebagai bagian dari demokrasi tak usah dihubung-hubungkan dengan watak anarkistis,” kata peserta diskusi tersebut.

“Bagaimana kalau demo dibiayai? Diskusi akademis seperti ini tak pada tempatnya menyinggung kecurigaan-kecurigaan adanya pihak yang menunggangi massa yang sedang berdemo. Juga kurang pantas berbicara mengenai pihak yang membiayai suatu demo.

Seandainya dugaan atau pernyataan pihak yang didemo bahwa adanya pihak yang membiayai demo itu bukan sekadar ilusi, bukan omong kosong, bagaimana Anda memahami ini?” tanya salah seorang peserta.

“Membiayai demo seperti itu sama dengan membiayai tumbuhnya demokrasi di negeri ini. Jadi membiayai demo baik sekali,” jawabnya.

Bagaimana logika ini bisa muncul dalam benak peserta diskusi tadi? Membiayai demo jelas merusak demokrasi karena demo dilakukan bukan demi aspirasi politik untuk menumbuhkan semangat demokrasi, tetapi demi uang. Membiarkan orang membiayai demo seperti itu akan membuat banyak kalangan selalu siap turun ke jalan untuk melakukan demo, tetapi motivasinya bukan politik, bukan demokrasi, melainkan uang.

Demo, uang. Demo, uang. Dengan begini lalu akan tumbuh kebiasaan, orang menurunkan barisan pendemo, tetapi khalayak sudah tahu bahwa demo telah berubah menjadi suatu perusahaan yang mendatangkan uang. Demo menjadi pekerjaan pokok. Mungkin demo lalu erat hubungannya dengan pengangguran dan kesukaran mencari pekerjaan.

Diskusi itu terjadi sesudah demo besar 4 November dan dekat menjelang demo besar berikutnya tanggal 2 Desember 2016 di Jakarta. Demo demi demo melanda kehidupan kita.

Demo demi demo, biarpun itu merupakan pupuk yang menyuburkan demokrasi, juga merupakan suatu potensi ancaman kekerasan di dalam masyarakat. Ini bukan karena niat menjelekkan demo, melainkan karena pengalaman yang selalu terjadi menunjukkan bahwa hal itu benar.

Kalangan etnik China atau minoritas lain takut trauma yang sudah pernah terjadi akan terjadi lagi. Mungkin ketakutan seperti ini bukan dibuat-buat. Mereka takut karena demo yang demokratis itu bisa berkembang ke arah yang tak kita bayangkan sebelumnya.

Dapatkah dalam situasi politik seperti itu kita bicara bahwa membiayai demo berarti membiayai demokrasi? Demokrasi macam apa kalau di dalamnya bisa muncul aneka macam kekerasan, membakar kota, dan memerkosa orang-orang yang tak berdosa? Ucapan apa yang harus kita berikan kepada orang yang berjasa membiayai demokrasi macam itu? Mengapa demokrasi menimbulkan kebakaran, kematian dan trauma berat bagi korban-korban pemerkosaan?

Dua demo besar yang disebut di atas, terutama demo 2 Desember, disebut sebagai aksi damai dan doa untuk bangsa. Kita pandai memilih ungkapan. Media percaya pada ungkapan polesan itu. Media membesarkan berita: aksi damai. Doa untuk bangsa.

Ini damai yang berisi niat menjatuhkan Presiden? Gosip politik beredar. Namanya juga gosip. Belum tentu semuanya benar. Tapi belum tentu pula semuanya salah. Tapi bagaimana kalau ternyata benar seperti kabarnya diucapkan oleh tokoh hebat dari Yogyakarta yang sudah punya prestasi turut mendalangi langkah politik menjatuhkan Gus Dur dulu?

Tokoh ini dikabarkan—atau digosipkan—telah mengatakan di suatu masjid bahwa bangsa Indonesia mendapat fasilitas Tuhan untuk menjatuhkan Presiden Jokowi. Kita semua menjadi saksi bahwa dia sangat benci dengan Presiden Jokowi.

Gejala apa yang bisa dengan enak dia terjemahkan sebagai fasilitas Tuhan itu? Apa dalam benaknya Tuhan bisa meridai tindak durjana dan aneka macam kekerasan yang memamerkan kebencian terhadap sesama? Bagaimana aksi tersebut bisa pada saat yang sama disebut aksi damai dan doa buat keselamatan bangsa?

Apakah ada kedamaian yang di dalamnya sekaligus terdapat kebencian untuk menjatuhkan presiden yang sah memangku jabatannya? Apa ada kata damai tapi dengki? Lalu logika apa yang bisa dipakai untuk menyebut kedamaian itu ada hubungannya dengan doa untuk keselamatan bangsa?

Ancaman keselamatan bangsa macam apa yang direspons secara massal dengan doa? Siapa yang mengancam dan siapa yang diancam? Kita tahu jawabannya.

Dan tokoh dari Yogya itu niscaya menari-nari dalam hati melihat massa sebanyak itu turun ke jalanan untuk menyambut fasilitas dari Tuhan?

Apa dia ingin menyatakan Tuhan membiayai demo itu? Apa dia juga bisa dengan nyaman berkata bahwa Tuhan bersamanya ketika menari-nari dalam hati mensyukuri banyaknya massa yang penuh damai menyambut turunnya fasilitas Tuhan tadi?

Jokowi tahu situasi. Ketika orang-orang yang jiwanya penuh rasa damai itu salat di Monas, Jokowi memutuskan ikut bersama mereka. Kabarnya—mungkin ini juga gosip—aparat keamanan melarang beliau turun. Tapi Jokowi punya perhitungan sendiri. Sekali memutuskan ikut, tetap ikut.

Peta situasi mungkin sudah diurai dengan baik dan tepat sehingga turun ke lapangan di tengah-tengah mereka menjadi kewajiban yang tak usah ditunda. Jutaan orang dihadapinya dengan tenang. Jokowi ibarat “buruan” masuk ke dalam jaring yang dipasang para pemburu?

Bisa saja dimaknai begitu. Tapi itu bukan satu-satunya makna. Bagaimana kalau kita memberi tafsir bahwa kehadiran Jokowi di tempat penuh damai tersebut sebagai representasi peribahasa Jawa ngluruk tanpo bolo, melabrak barisan musuh yang begitu besar sendirian dengan penuh sikap kesatria?

Ngluruk tanpo bolo itu berbahaya. Maka mungkin Jokowi tetap waspada, tetapi tidak dikuasai kemarahan atau rasa dengki. Marah tak perlu dibalas marah. Dengki tak bisa dibalas dengki. Tapi prajurit yang begitu banyak cukup dihadapi sendiri. Ngluruk tanpo bolo cukup sendiri, dalam keyakinan Tuhan memihak kebenaran dan tak mungkin memfasilitasi segenap penyimpangan. []

Koran Sindo, 10 Desember 2016
Mohamad Sobary | Esais, Anggota Pengurus Masyarakat Bangga Produk Indonesia, untuk Advokasi, Mediasi, dan Promosi. Penggemar Sirih dan Cengkih, buat Kesehatan.

Ki Patih pun Punya Ambisi

Oleh: Mohamad Sobary

Dalam teater Jawa tradisional, yang bersumber pada sejarah Kerajaan Majapahit, disebutkan bahwa situasi politik mencemaskan. Kekuasaan raja putri, Dyah Ayu Kencanawungu, terancam. Jika Sri Baginda jatuh, Majapahit akan mengalami kekacauan. Dan, musuh akan bertahta menempati tahta raja putri itu. Tapi, Sri Baginda memperoleh jawaban meyakinkan.

Pada waktu bermeditasi terdengarlah sabda langit yang menyatakan bahwa bila Sri Baginda bisa menemukan seorang pemuda dari Desa Paluombo bernama Damarwulan, kerajaan akan tetap aman sentosa. Pemuda itulah yang bakal maju ke medan laga untuk mengusir musuh yang meniupkan ancaman menakutkan tadi.

Sri Baginda pun merasa lega. Diadakannya sidang darurat, terbatas, dan cepat. Hanya beberapa tokoh penting diundang. Intinya, Sri Baginda menjatuhkan perintah kepada Ki Patih Logender untuk segera menemukan pemuda desa tersebut.

”Carilah dan bawa menghadap kepadaku,” perintah Sri Ratu.

”Duh sesembahanku. Di mana hamba mencarinya? Di seluruh wilayah Kerajaan Majapahit tidak ada anak muda seperti itu,” jawab Ki Patih.

”Anak muda itu bahkan sudah ada di Istana Kepatihan,” sabda Sri Ratu lagi dengan sikap tegas.

”Sri Ratu sesembahanku yang aku muliakan. Di Kepatihan tidak ada anak itu. Yang ada kedua anakku sendiri, Seta dan Kumitir, dua anak muda perkasa yang bakal mampu menghadapi musuh kerajaan. Apakah dua anakku itu yang dikehendaki Sri Ratu?”

Ki Patih bertanya begitu karena Sri Ratu bersabda bahwa anak muda dari desa itu bakal menang menghadapi musuh dan dia bakal memperoleh hadiah sangat besar: duduk di tahta Majapahit dan memperistri Sri Ratu.

Inilah yang membuat Ki Patih gelap mata. Ambisinya meluap-luap tak terbendung lagi. Pemuda desa yang sebenarnya sudah ada di Kepatihan dan sudah menjadi suami putrinya, Anjasmara Arimami, dianggap tidak ada. Dia tak rela membiarkan kesempatan besar ini jatuh pada menantunya.

Ki Patih sudah merancang angan-angan agar dua anaknya itu yang berhak menerima hadiah luar biasa istimewa tadi. ”Aku tak menghendaki anak-anakmu. Pemuda desa yang namanya Damarwulan atau Damar Sasangka itu yang kucari. Dialah yang mampu mengatasi kemelut di dalam Kerajaan Majapahit.”

”Tetapi, anak itu tidak…”

”Ki Patih…” Sri Ratu memotong ucapan Patihnya dengan wajah merah padam. ”Aku perintahkan padamu. Cari pemuda itu. Atau, kau kupecat dari jabatanmu?”

Tanpa bisa berkutik lagi, Ki Patih akhirnya bersedia membawa Damar Wulan menghadap Sri Baginda. Ringkas cerita, Damar Wulan dipercaya memimpin suatu pasukan kecil, tapi terpilih untuk memasuki kerajaan musuh, Minakjingga di Belambangan, dengan diam-diam.

Digambarkan, Damar Wulan menantang Minakjingga berperang tanding. Dan, pemuda itu menang.

Masih ada akal licik Ki Patih untuk merebut kemenangan Damar Wulan itu agar dianggap sebagai kemenangan kedua putranya. Inilah Ki Patih untuk menguasai kerajaan.

Tapi, mungkin lebih baik kisah keculasan Ki Patih ini diakhiri di sini dengan satu catatan: meskipun seseorang sudah menduduki jabatan tinggi, selama ada jabatan lain yang lebih tinggi lagi, orang itu tak akan pernah bisa merasa puas. Jabatan lebih tinggi tetap lebih menarik.

Pangkat, jabatan, dan singgasana selalu memiliki pesonanya sendiri. Pesona itu memancarkan cahaya menyilaukan yang menggoda dan merangsang ambisi yang mungkin tak terbatas. Untuk memenuhi ambisi seperti itu, orang rela menipu. Ini pengkhianatan terhadap kebenaran. Tapi, apa salahnya berkhianat demi suatu jabatan, atau kedudukan, atau singgasana yang memancarkan cahaya kewibawaan dan keagungan?

Untuk menjadi orang ternama, dengan kedudukan tinggi, bahkan yang tertinggi, menipu, dan berkhianat itu perkara kecil. Demi posisi seperti itu, orang bahkan rela menikam teman seiring. Untuk memenuhi ambisinya, orang rela membunuh, sambil tersenyum, siapa pun yang harus dibunuh.

Pengkhianatan dalam politik dulu pun sudah terasa canggih. Apa yang ditempuh Ki Patih terasa seperti kekejaman yang tak bisa ditemukan bandingannya. Kita ngeri menyaksikan drama dalam politik kerajaan yang ditampilkan di dalam teater Jawa tradisional.

Drama modern, di dalam sistem politik modern, yang mengadopsi tata pemerintahan demokratis, akal-akalan, tipu menipu yang terlalu transparan untuk dilihat orang banyak, mengapa masih terjadi? Manusia modern, dalam peradaban modern, yang menjunjung tinggi sikap demokratis, ternyata bisa bertindak lebih mengerikan.

Justru dalih demokratis itu yang dimainkan. Orang mudah berdalil: kita hidup demokratis. Siapa saja berhak melakukan tindakan politik selama tindakannya demokratis. Ini dijamin konstitusi. Patih modern, dalam jabatan modern, juga bisa bertindak seperti Ki Patih Logender. Sikapnya lembut, licin, tak terdeteksi.

Pada zaman modern, zaman penuh pergerakan massa, penuh demo yang membiarkan kekuatan massa bergerak ke mana-mana, orang mudah bersembunyi. Apalagi, kekuatan massa itu terdiri atas berbagai golongan. Dan, di antara banyak golongan itu ada golongan kita sendiri. Mereka kita fasilitasi dengan baik. Mereka kita tata dengan tertitip. Mereka juga kita pesan agar tak menyebut nama kita, identitas kita, dan segenap ambisi yang kita miliki.

Dengan sedikit suntikan semangat ideologis, anak-anak itu akan taat pada kita. Mereka bahkan kagum pada kita. Sedikit uang, sedikit ideologi, sedikit kebohongan, siapa bisa mengetahuinya?

Menipu tidak dianggap nista. Berbohong dianggap lumrah. Menyimpangkan keluhuran nilai-nilai seperti ini tak mungkin ada yang tahu. Orang tak sempat memikirkannya secara kritis apa yang sebenarnya terjadi. Mereka mudah diajak keliru.

Dalam situasi seperti itu, Ki Patih duduk nyaman, minum teh, susu atau kopi, atau cokelat, di ruang sejuk dan megah, dengan perasaan lega. Dia memperhatikan dengan rasa puas layar televisi, yang merasa sedang menyiarkan realitas.

Tampaknya siaran itu tak menyadari bahwa realitas tak pernah tunggal. Tafsir realitas tak pernah menyajikan hanya satu makna. Kebenaran di lapangan telah dimanipulasi. Orang media tak terlalu menyadarinya? Mereka tak memahami ada manipulasi?

Tahu atau tidak, menyadari atau tidak, Ki Patih sudah puas. Dengan gigi emas yang gemerlap seperti gigi pedagang beras di pasar induk, dia tersenyum. Dia berbisik dalam hati: dunia ini penuh manipulasi. Gerakan massa bisa dimanipulasi. Jiwa manusia bisa dimanipulasi.

Dia pernah melakukan manipulasi. Kini dia mengulanginya. Dan, kelak akan mengulangi dan mengulangi terus-menerus karena Ki Patih pun punya ambisi yang harus dipenuhi. []

KORAN SINDO, 3 Desember 2016
Mohamad Sobary | Esais, Anggota Pengurus Masyarakat Bangga Produk Indonesia, untuk Advokasi, Mediasi, dan Promosi. Penggemar Sirih dan Cengkih, buat Kesehatan

Politik Gerakan Massa

Oleh: Mohamad Sobary

MASSA-sekadar sebutan massa-pun sudah memiliki arti politik yang membawa getaran psikologis tertentu. Memang tak jarang kata massa itu betul-betul digunakan untuk menggertak atau meneror pihak lain. Apakah pihak lain tadi merasa terteror atau tidak, gentar dan ketakutan atau tetap tenang dan siap menghadapi segenap kemungkinan yang bakal terjadi, itu soal lain.

Mungkin pihak lain tersebut membuat kalkulasi rasional, apakah massa itu relevan untuk dibawa-bawa ke dalam suatu persoalan yang sebenarnya tidak ada sama sekali urusannya dengan massa? Apakah kekuatan politik massa tadi bisa dijadikan pertimbangan untuk menentukan kebenaran? Apakah suara massa dianggap suara Tuhan? Bagaimana membuktikan kebenaran anggapan itu? Bagaimana kalau ada anggapan lain bahwa suara massa selalu tercampur aduk dengan suara nafsu, ambisi, dan kemarahan yang bertentangan dengan ke-murahan dan keadilan Tuhan?

Di dalam kehidupan demokratis, politik punya aturan dan etika yang menggariskan apa yang boleh dan tak boleh dilakukan. Apa yang boleh itu kita anggap hak, yang tak boleh dianggap batil. Dan apa yang batil harus dijauhi agar rentetan panjang tindakan demi tindakan politik menjadi cerminan apa yang hak dan bisa dijadikan suri teladan umat. Di sini kata umat itu bukan terbatas dalam pengertian umat suatu kelompok agama atau politik tertentu, melainkan umat manusia pada umumnya. Jika kita menghendaki ketepatan, umat di sini boleh saja diganti dengan warga negara, tanpa pengecualian apa pun.

Kita merasakan betapa tak mudahnya menempatkan kebenaran dan keadilan di pusat aturan politik yang menjadi pedoman hidup dalam segenap tindakan kita. Sejak dahulu kala hingga hari ini kesukaran itu seperti tak pernah berubah: kesukaran tetap kesukaran. Ada suatu contoh di dalam sebuah perang besar yang disebut ”Bharatayudha”. Perang besar ini diatur secara ketat apa yang boleh apa yang tidak, dan apa yang mulia serta apa yang nista.

Menyerang musuh secara diam-diam dianggap nista. Bersikap sabar dan hanya menanti tanda dimulainya perang, jadi tidak melakukan tindakan yang dianggap sebagai provokasi, atau memancing kemarahan pihak lain, dianggap keluhuran budi. Tapi, Pangeran Dursasana, pihak Kurawa, melanggar telak aturan dan etika perang.

Diam-diam, sembunyi-sembunyi, dengan sikap culas dia melempar Bima yang sedang berdiskusi untuk memikirkan tindakan lebih lanjut di dalam kemahnya dengan tombak runcing dan tajam. Tombak sang pangeran meluncur dengan kecepatan tinggi dan tepat mengenai dada Bima, yang membuatnya roboh seketika. Kemah-sebutannya pakuwon-Randu Kumbala gempar. Bima yang roboh digotong. Tapi dia berkata: jangan gugup. Tapi orang-orang, para senapati pendamping di dalam pakuwon itu, tetap gugup.

Bima bilang: menangislah. Menangis keras, dan tunjukkan kecemasan yang dalam supaya musuh yang menyerang secara gelap-gelapan atau sembunyi-sembunyi itu merasa puas telah menjatuhkan aku. Dan pakuwon Randu Kumbala pun seperti sungguh-sungguh memancarkan hawa kematian. Sedih-biarpun buatan-dan tangis-juga buatan- memperkuat suasana bahwa di sana betul-betul ada kematian. Maka, Pangeran Dursasana pun dengan girang hati muncul dari persembunyian dan mendatangi pakuwon yang sedang dirundung duka itu dengan dada tengadah. Dia puas telah berhasil membunuh musuh terbesarnya dengan begitu sederhana, mudah dan tak meneteskan setitik pun keringat.

Tapi alangkah kaget, dan kecewanya pangeran itu ketika Bima menyambutnya di depan pakuwon, dalam keadaan segar-bugar, tegak seperti tugu raksasa. Bima, gambaran seorang ksatria sejati, menyesali keculasan itu. Dia tidak kalap, tidak mengamuk. Sebaliknya, dengan tenang disuruhnya pangeran Kurawa itu kembali ke pasukannya, dan mengenakan tanda senapati, kalau memang siap melawan Bima dalam suatu perang tanding yang diatur dengan aturan nyata dan etika perang yang jujur.

Bima, kita tahu, juga seorang pangeran. Mereka itu bersaudara. Mungkin karena sudah terlanjur malu, Dursasana justru mulai kalap. Dia menyerang lagi Bima. Dan Bima yang perkasa menepisnya. Perang berlanjut. Dan intinya, Dursasana gugur. Sebenarnya dia takut pada Bima. Takut kalah, takut mati. Tapi, dia malah menjemput kekalahan dan kematian sekaligus. Di sini jelas, ketakutan membuatnya kalap. Sikap kalap, gelap mata, gelap hati, gelap pikiran, membuatnya nekat.

Ini contoh seorang satria yang tak bersikap ksatria. Dia mengerti hukum-hukum dan etika perang tetapi melanggar semuanya. Kita tahu sebenarnya dia merasa tak sepadan dalam berbagai hal untuk menghadapi Bima. Pangeran Pandawa ini terlalu kuat, terlalu mulia, dan tak terkalahkan. Otomatis dia tak yakin bakal bisa menang bila harus berhadapan dengan Bima secara jujur.

Serangan secara diam-diam itu merupakan pameran watak nista, dan sikap culas yang memalukan. Tapi malu, dalam suatu situasi tertentu, tak perlu diingat, tak perlu menjadi kiblat moral yang penting.

Di dalam budaya politik kita, sebagaimana tercermin di dalam tingkah laku politik kita sehari-hari, mungkin banyak jenis Pangeran Dursasana. Mungkin kita juga sadar bahwa kita tak bisa mengalahkan lawan politik kita. Kita begitu yakin musuh politik kita tak bakal tergoyahkan.

Berbagai macam strategi harus dibuat untuk menggertaknya. Tak peduli orang menyebutnya gertak sambal. Biarpun sambal, gertak adalah gertak juga. Mungkin kita juga meneror. Supaya teror itu agak terasa halus, mungkin bisa diberi embel-embel demi apa, demi apa, untuk menutupi wajah kita agar ketakutan itu tak terlalu tampak.

Mungkin inilah kecanggihan permainan politik kita. Kasus demi kasus pilkades, pilkada dan pilpres tiap saat, di mana pun, penuh warna-warni trik, akal, strategi, yang tak mengindahkan sopan santun dan etika politik. Di dunia sepak bola dunia, orang mengejek tim Brasilia yang selalu bermain indah, dengan pernyataan bahwa keindahan tak penting karena yang terpenting menang. Tim yang keras dan culas mengembangkan sikap itu. Dan di dunia politik kita pun mungkin sama. Calon yang lemah berusaha kuat dalam permainan taktik, strategi, dan tipu muslihat. Kita tak lupa, fitnah-fitnah dan segenap cara melumpuhkan lawan, tampil dalam pemilihan presiden yang belum lama berselang. Berbagai pihak, yang masih memiliki kepentingan politik, ikut bermain untuk menyerang lawan yang kuat.

Fitnah politik tak begitu manjur. Pemilihan ya pemilihan. Fitnah tak mungkin dipercaya semua pihak. Bahkan, fitnah tak mungkin dipercaya mayoritas. Jadi, sederas apapun hujan fitnah itu, yang kuat akan tetap kuat, calon juara akan tampil sebagai juara. Dalil politik bisa disusun dengan ratusan variasi. Tapi hukum-hukum alam, yang paham akan siapa yang kuat dan siapa yang pura-pura kuat, yang tulus dan yang pura-pura tulus, atau yang jujur dan yang pura-pura jujur, tak dapat ditipu.

Begitu juga strategi politik untuk menang dengan menggerakkan massa. Kita sudah belajar dari berbagai kasus pilkades, pilkada dan pilpres, bahwa massa bisa membikin kita agak keder. Massa bisa menggertak. Tapi jangan lupa, massa yang kelihatan banyak itu tak semuanya memegang hak pilih, dan dengan sendirinya tak semua memilih. Massa tak bisa menentukan sebuah pemilihan yang bakal dilakukan di tempat lain, pada waktu yang lain.

Dalam berbagai kasus, massa bisa menggertak dan membikin lawan merasa keder, tapi massa tak bisa menentukan kebenaran. Massa pun tak pernah menentukan kemenangan dalam suatu pemilihan-termasuk dalam pilkada-karena massa dibariskan di suatu lapangan, sedangkan pemilihan dilakukan di ruang tertutup yang bebas dengan landasan kejujuran dan hati nurani yang sukar dinodai oleh teriakan massa. Gerakan massa bukan obat segala luka. Gerakan massa tak punya janji yang mengikat kita. []

Koran SINDO, 5 November 2016
Mohamad Sobary | Esais, Anggota Pengurus Masyarakat Bangga Produk Indonesia, untuk Advokasi, Mediasi, dan Promosi. Penggemar Sirih dan Cengkih, buat Kesehatan.