Anjing

Sumber Tulisan: Disini
Karya:Mohamad Sobary

Jangan khianati anjing sekalipun
Kalau cuma demi sekeping sorga
(Spiritualis Puntadewa)

Chamid,lengkapnya Abdul Chamid-sahabat saya di Yayasan Indonesia Sejahtera-pernah dilanda duka karena Bruno,anjingnya,mati.Persahabatan dengan anjingnya begitu dalam,dan bagai tak tergantikan.Dibanding anjingnya,saya kira saya bukan apa-apa.

Di antara teman-teman YIS,di Badran,Solo,yang menaruh empati mendalam atas duka Chamid,cuma Merry Johnston,almarhum.Teman-teman lain,umumnya bahkan menggoda,wong hanya kematian anjing saja “kok sajak le tenan-tenano”,seperti begitu seriusnya.
Dan Chamid,yang lembut itu,diam-diam tersinggung,dan ia membawa luka hati itu pada saya,di Jakarta.
“Kamu jangan ikut-ikutan mereka,yang meremehkan arti persahabatanku dengan Bruno,semata cuma karena ia seekor anjing.Kamu tahu sehampa apa rasanya akibat kehilangan itu?”
“Aku kira aku tahu,Mid.”
“Aku tak suka orang-orang biadab,tak tahu perikebinatangan,”keluhnya.Dan sesudah itu ia diam-dan lama sekali-seolah saya tak ada disana.
Waktu menjawab”aku mengerti” tadi,terus terang saya mencoba menunjukkan saling pengertian.Saya tak pernah memelihara anjing,dan tak bisa menghayati makna persahabatan itu.Tapi ketika ia mengucapkan kata biadab tadi,pelan-pelan saya mengerti beratnya sebuah kehilangan.
——————–
Pada akhir perang Bharata yang mengenaskan,Pandawa yang menang akhirnya.Menuju sorga loka secara badani.Tapi dari lima bersaudara,dan permaisuri Drupadi,Cuma tinggal Puntadewa dan anjingnya yang tahan menggapai depan pintu gerbang sorga.Dewa Narada menyambutnya dengan ramah,tapi melarang Puntadewa masuk dengan anjingnya.
“Ini sorgamu,sorganya manusia.Anjing,anakku,dilarang masuk.”
“Kalau begitu lebih baik aku tak memperoleh sorga.”
‘Kau harus,Nak.Ini takdirmu,”kata Narada
“Tapi aku tak bisa membiarkannya menunggu di luar,sambil menderita haus dan lapar saat aku bermewah diri di sorgaku.”
“Dia cuma anjing.Lupakan saja.”
“Aku tak bisa mengkhianatinya hanya demi sekeping sorga loka.”

Mendadak sontak anjing itu lenyap dalam kerdipan mata Puntadewa,dan di sana,hadir dewa Dharma.Tanpa salam pendahuluan apa pun ia langsung memeluk Puntadewa.
Pelukan tanpa kata-kata itu tanda pernyataan bahwa Puntadewa lulus ujian kesetiaan tingkat akhir.Kesetiaan perlu diuji,dan dibuktikan ulang.Di sana ada pesan simbolik:”Jangan khianati anjing sekalipun,semata demi sekeping sorga yang dijanjikan.”
Ringkasnya ,Puntadewa pun kemudian melangkah masuk ke taman sorga loka,dan masya Allah,di sana ke empat saudaranya,dan sang permaisuri Drupadi,ternyata sudah menantinya.
Puntadewa membikin para dewa sendiri malu atas kesetiaannya.Mereka pun cemburu.Rupanya benar,Puntadewa,tak ada sorga yang gratis.
—————-

Bila kita menyebut anjing,diikuti kucing,kuda,beruk,merpati,kura-kura,siput,dan cumi-cumi,kita tahu,barangkali kita sedang membahas ilmu hewan.Kita pun tahu,anjing di sini kita posisikan netral,senetral kehidupan anjing itu sendiri di tengah hewan-hewan lain.
Namun,anjing bisa menjadi umpatan,bahkan umpatan kasar.Ia tanda kemarahan.Anjing kita lahirkan sebagai konsep yang sarat nilai,kita beri beban,dan muatan-muatan.
Dalam bahasa Jawa anjing itu asu.Tapi apakah asu tanda kemarahan,atau bukan,bahkan menjadi pujian,tergantung bagaimana roman muka orang yang mengucapkannya,dan bagaimana tekanan suaranya.
Dikalangan sesama sahabat,asu bisa menjadi pujian.Misalnya”wah ,asu tenan” bisa menjadi pujian pada bagusnya semesan lawan kita dalam main tennis.
Orang jawa bisa dengan tandas memaki orang lain asu,anjing,tanpa menyebut nama itu sebab kemarahan orang jawa sering tak terpancar di wajahnya.Ucapan “njegog sak penake dewe”(menggonggong seenaknya sendiri),meskipun tak secuil pun tanda kemarahan di wajahnya,ia tetap menyebut orang lain asu,suatu penghinaan yang dalam,dan serius.Biasanya ini kemarahan para priyayi.
Anjing,seperti halnya kucing,atau siput,juga ciptaan Tuhan:ciptaan tak berdosa.Ia menjadi anjing bukan karena maunya anjing itu sendiri.Ia Cuma taat,dan patuh memenuhi kodrat alamnya,karena diam-diam ia pun memanggul dharma hidup khusus,yang tak dapat dibebankan pada hewan lain.Ia punya fungsi di jagat raya ini.
Kabarnya ada orang yang bahkan lebih sayang kepada anjingnya daripada terhadap anaknya sendiri.Ini tentu hanya gurau,atau hanya terjadi pada orang yang mungkin teralienasi dalam hidup,dan kehilangan kepercayaan atas kebaikan sesama manusia.Ini mungkin sebuah pelarian akibat suatu jenis luka sosial tertentu.

Belajar dari Chamid dan Puntadewa,saya berhati-hati pada anjing.Belum pernah saya membencinya,tapi juga tidak memujanya.Saya tahu anjing makhluk yang paling setia.Tapi saya tahu dalam kepepet dia menggigit.

Dimana-mana,disekitar kita,ada anjing.Ada yang netral,ada yang menjilat,ada yang menggigit.Tapi-ini rahasianya-segalak-galaknya anjing,ia takut orang jongkok.Sekeras apapun anjing “njegog”,kalau kita jongkok,apalagi menggemgam batu,ia pasti “njegog” sambil sebentar-sebentar mundur.Dan lari.Maka,sekali lagi,saya tak membenci,meskipun juga tak memuja,anjing.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s