Belajar Dari Sejarah Makna Kesadaran Sejarah dan Kekuasaan Orde Baru

Dua abad lalu Nikolai Gogol, pengarang besar Rusia, menulis naskah drama satire “Inspektur Jenderal”. Dalam karya puncaknya ini Gogol menelanjangi jiwa manusia–para pejabat daerah–di sebuah kota kecil di Rusia di zaman Tsar, di awal abad 19. Para pejabat lokal itu–Walikota, Kadin Sosial, Kadin Kesehatan, Kadin Pendidikan dan Pengajaran, hakim dan kepala pos daerah– sangat gelisah mendengar berita bakal datangnya “sidak” (inspeksi mendadak) oleh inspektur jenderal yang sedang mengemban tugas rahasi.
“Ini namanya baru celaka,” keluh Ammos Fedorovich.

“Seolah penderitaan kita belum cukup berat,” tambah Artemy Filippovich.

“Ya Tuhan, dengan tugas rahasia lagi,” sambung Luka Lukich.

Kalau tuan inspektur jenderal datang secara terang-terangan mungkin perkaranya bisa diatur hingga bila sang tuan menemukan kesalahan, mudah diadakan kompromi untuk mencari jalan keluar. Celakanya, orang “pusat” itu datang dengan incognito, dan wali kota serta kepala dinas tidak tahu di mana dan kapan mesti menemuinya. Mereka bahkan khawatir jangan-jangan saat ini pun beliau sudah ada di antara mereka, dan sudah menemukan borok-borok dalam birokrasi yang mereka pimpin.

Dalam kecemasan seperti itu, tiba-tiba di sebuah penginapan ditemukan orang tak dikenal, seorang pemuda kota, dengan lagak aristokratis, dan terpelajar, tetapi tidak bisa membayar apa saja yang sudah dimakan di penginapan selama beberapa hari. Hal ini mencurigakan. Dan Wali kota pun langsung mengambil kesimpulan, tak bisa lain, dialah inspektur jenderal yang bakal datang dengan tugas rahasia itu.

Merasa dirinya lebih lihai daripada inspektur jenderal, dan bahwa ia tidak bisa dikelabui oleh sikap pura-pura kehabisan uang, wali kota mengambil inisiatif mendatangnya. Saat itu si pemuda sedang bersitegang dengan bujang si pemilik penginapan yang menagih bayaran.

“Mengapa tuan tidak menginap di penginapan lain? Di sini masih ada penginapan lain yang lebih baik,” kata Wali kota.

“Aku tidak sudi. Yang tuan maksud penginapan lain itu penjara, bukan? Tidak. Aku tidak mau,” jawab pemuda penuh curiga kepada Wali kota.

Wali kota merasa, jawaban itu menandakan bahwa tuan inspektur jenderal ternyata malah sudah pergi ke penjara, dan sudah menemukan kekurangan-kekurangan di sana. Maka ia pun berusaha terus mendesak, dengan mohon belas kasihan.

“Tuan, mohon dimaafkan. Ini semua berkat kekurangan pengalaman. Ini semua karena kelemahan kami di sini. Tolonglah tuan, jangan celakakan saya, saya punya anak dan isteri.”

“O, jadi karena tuan punya anak dan isteri maka saya harus mau masuk penjara, begitu?” jawab si pemuda. Tapi, lama-lama si pemuda yang ternyata lebih cerdas dari Wali kota itu menangkap kenyataan, dan kini ia bersedia bermain menjadi orang yang seperti yang dibayangkan sang Wali kota. Apa boleh buat. Ia berspekulasi. Dan menang mutlak.

Semua hutangnya di penginapan dibayar Wali kota. Ia malah masih diberi pinjaman uang secukupnya. Kemudian disuruh menginap di rumah Walikota yang lebih baik daripada di penginapan. Dalam hati Wali kota, kalau orang “pusat” ini sudah dilayani begini tentu tak akan lagi mencelakakan posisinya, meski pun ia kedapatan bersalah.

Kemudian seluruh pejabat daerah datang memperkenalkan diri. Masing-msaing, dengan sikap menjilat yang khas watak bawahan, pura-pura mohon petunjuk kalau memang ada instruksi baru, dan seolah siap menerima pekerjaan lebih berat, sambil menanyakan bila sang tuan memerlukan sesuatu. Dan si pemuda, dengan sikap “priyayi” berkata bahwa ia tak butuh apa-apa selain sedikit uang. Dan itupun akan segera diganti.

“Ah, tuan tak perlu repot-repot mengganti. Saya benci pada sikap menyuap, tapi ini hanya sekedar kenang-kenangan.”

Satu persatu tiap pejabat daerah menyerahkan sejumlah uang. Dan sempurnalah “ketotolan” mereka di mata si pemuda. Merasa sudah menggenggam jiwa orang-orang daerah, si pemuda makin merajalela. Ia mengatakan bahwa posisinya begitu penting, hubungannya dengan para diplomat asing dan menteri-menteri dekat sekali, dan bahwa ia sering mondar-mandir ke istana dan dengan enak bisa memarahi sekretaris negara. Orang-orang daerah yang lugu, dan kagum itu menduga, bahwa pemuda ini pasti seorang jenderal. Bahkan mungkin lebih dari itu.

Tak mengherankan, Walikota merasa seperti diayun-ayun sampai ke langit ketika si pemuda melamar anaknya. Ia membayangkan dirinya sendiri akan segera diangkat ke jenjang yang lebih tinggi, dan akan tinggal pula di kota besar. Jabatan Walikota dirasanya cuma remeh belaka.

Kedok si pemuda terbongkar ketika suratnya yang ditujukan kepada temannya di kota, dibuka oleh kepala kantor pos yang diam-diam merasa curiga. Dan benar. Ia bukan inspektur jenderal, melainkan cuma seorang pemuda berandalan biasa.

Kota kecil itu gempar lagi. Mereka merasa tertipu mentah-mentah. Dan di tengah kegemparan itu, mendadak datang berita lain: inspektur jenderal yang asli, yang mereka tunggu-tunggu itu, kini sudah tiba. Ia tinggal di penginapan.

NIKOLAI Gogol menghasilkan karya besar lain, seperti sebuah novel “Tarras Boulba”, yang ditulis berdasarkan hasil penelitian sejarah. Karya-karyanya bersifat realis. Drama ini tidak ada hubungannya dengan sejarah. Ia hasil rekaan sang pengarang.

Meskipun begitu pengarang dimanapun, terutama pengarang besar, menulis berdasarkan ketajaman pengamatan batinnya dalam menangkap fenomena kehidupan. Karyanya mungkin tidak bisa menjawab pertanyaan sejarah — kalau sejarah disini diartikan rentetan peristiwa aktual, sebab musabab terjadinya peristiwa itu, dan bagaimana para aktor bersikap di dalamnya – tetapi tidak bisa diingkari, karyanya mencerminkan semangat zaman. Secara lebih teknis kita bisa mengatakan karangannya itu merupakan dokumen budaya, karena didalamnya tercermin fragmen-fragmen kebudayaan masyarakat yang ditulisnya.

Sastra, bagi saya, bukan cuma bacaan dengan bahasa indah, yang harus disentuh dan dipahami di dalam batas-batas wilayah sastra itu sendiri. Dalam kerangka pemikiran ilmu sosial, sastra juga merupakan data yang bisa berbunyi, terutama dalam kaitan dengan penelitian bidang kebudayaan.

Dengan argumen ini saya mencoba menempatkan drama “Inspektur Jenderal” kedalam setting sosial, politik dan kebudayaan yang lebih besar, yang terkait dengan corak kesadaran sejarah orang Rusia di zaman Tsar pada saat Gogol menuliskannya.

“Tapi apa urusannya dengan kita, di Indonesia, yang hidup hampir dua abad kemudian?”

Kita dan bangsa Rusia – yang dipisahkan oleh jarak geografis, oleh rentang waktu yang panjang, oleh perbedaan warna kulit, dan oleh inspirasi sosial, politik dan kebudayaan dalam membangun bangsa – ternyata diam-diam berbagi kesadaran sejarah yang sama sejarah bagi kita sekarang, dan bagi mereka saat itu, sama belaka maknanya. Ia berputar di sekitar kehidupan kaum elit. Dan wawasan sejarah kita dan mereka pun dengan begitu bersifar elit sentris.

Tiap-tiap usaha yang menampilkan corak konstruksi sejarah dari bawah – misalnya gagasan-gagasan alternatif dari para pemikir atau para ahli di berbagai bidang langkah-langkah para aktivis LSM, dan renungan kontemplatif kaum seniman, semua ditolak karena sudah ada satu corak – hanya boleh satu – kebenaran sejarah a la penguasa, atau kaum elit.

Kesadaran sejarah ini disebut elitis karena ditandai dua hal mencolok. Pertama, para aktor sejarah menulis – atau menyuruh orang lain menulis – peran sejarahnya sendiri, dengan tentu saja, penyimpangan besar di sana sini, sehingga seorang tokoh yang dibenci rakyat pun tidak malu mengklaim lewat bukunya, bahwa ia dielu-elukan dan dicintai rakyat, dan dianggap tokoh yang dekat dengan hati rakyat. Dalam “proyek” ini memang ada warna pelacuran tertentu, termasuk dari si orang yang ditugasi menulsi sejarah itu. Ironisnya, orang itu ada kalanya golongan kaum terpelajar juga.

Kedua, ruang gerak buat menampilkan watak kerakyatan, dan segenap para rakyat dalam sejarah, tak boleh hadir. Wawasan kosmologi kaum elit mengatakan di dunia ini rakyat tidak penting, dan karena itu mereka hanya boleh ada sejauh kehadirannya melayani kepentingan penguasa, yang merupakan turunan dewa-dewa, dan bahkan dianggap Tuhan “mengejewantah” alias Tuhan yang “nyalira” titah.

Ini tampak dalam hampir semua peninggalan agung sejarah kita, dimana para sejarawan dan para arkeolog hanya bisa mengenali identitas kaum elitnya, dan rakyat tak tercatat. Tak berlebihan jika monumen-monumen agung dalam sejarah kita juga harus dilihat sebagai monumen penindasan.

Di masyarakat kita pun, mungkin suatu saat kelak diketahui bahwa jalan-jalan tol, mal-mal, gedung-gedung, supermarket, perumahan-perumahan mewah bakal dibuka kedoknya sebagai monumen penindasan juga karena tak kurang-kurangnya disana terjadi penindasan atas hak manusia dan perampasan semena-mena hak rakyat yang tak berdaya.

Wawasan kosmologi kaum elit ini pula yang di suatu zaman melahirkan corak sastra kraton sentris, karena sastra berkisah cuma tentang raja-raja dan keluarga kaum bangsawan lainnya, dan betapa raja telah berwatak “ambek para marta”, “berbudi bawa leksana”. Lagak palsu yang ditampilkan para “adipati” dan “nara praja” dalam kaitan krisis moneter ketika memberi makan kaum buruh di warung murah atau warung gratis.

Usaha menjinakkan pers dengan berbagai berbagai kontrol resmi maupun tidak resmi – lewat telepon agar suatu peristiwa tertentu tidak diberitakan – harus juga dibaca dalam konteks dominasi simbolik untuk kembali melahirkan sejenis karya “kraton sentris” di zaman ketika bentuk pemerintahan republik modern telah menjadi konsensus bersama.

DRAMA Gogol, dengan tegas menampilkan segenap kesibukan, harapan dan kecemasan kaum elit bukan lantaran memikirkan rakyat melainkan karena sangat sibuk mencemaskan nasib mereka sendiri. Ini merupakan potret dinamika kekuasaan dalam usahanya melangsungkan kekuasaan itu sendiri, dan tak ada hubungannya dengan suatu semangat atau komitmen sosial buat menata kehidupan yang lebih adil dan merata. Semangat sastra dalam drama Gogol bagi saya sama dengan semangat sastra klasik Jawa, wayang kulit, yang berbicara hanya mengenai perkara kaum penguasa.

Bedanya, Gogol hanya menyindir kekuasaan, dan wayang bicara mengenai dirinya sendiri. Tulisan ini dibangun bukan untuk menyatakan bahwa ide – dalam bentuk kesadaran sejarah – menentukan tindakan. Juga bukan sebaliknya, bahwa tindakan yang menentukan kelahiran sebuah ide, yaitu kesadaran sejarah tadi. Sebaliknya, dalam tulisan ini dikemukakan peran individu dalam hubungan dialektis antara ide dan tindakan dalam suatu konstruksi sosial, politik dan kebudayaan yang didikte oleh kekuasaan yang berada di tangan satu orang.

Gagasan dasarnya menyatakan bahwa orang atau individu – apalagi yang berkuasa – tak larut di dalam struktur sosial, politik dan kebudayaan. Dia, sebaliknya, malah sangat berperan menentukan segalanya.

Pendekatan yang digunakan untuk menganalisis kekuasaan Orde Baru selama ini selalu diletakkan dalam kerangka hubungan “state dan society”, dengan fokus kajian buat buat menentukan apakah struktru atau kultur yang dominan.

Hal ini tidak memadai, karena mengabaikan peran individu, yang begitu penting tadi. Dibalik konstruksi kesadaran sejarah, berdiri individu yang memegang remote control, untuk mewujudkan suatu tindakan tertentu buat membangun struktur sosial, politik dan kebudayaan. Sebaliknya, di balik struktur tersebut berdiri pula orang yang sama, yang siap memainkan – dan mungkin juga memanipulasi – kesadaran sejarah yang diinginkan.

Maka tak mengherankan bila didalam benak mayoritas warga negara kita terbentuk kesadaran sejarah palsu bahwa pemilu sudah demokratis karena dilindungi dan diawasi pemerintah. Selebihnya pemilihan presiden dan wakil presiden selalu dianggap demokratis karena semuanya dilakukan oleh wakil-wakil rakyat. Agak jarang orang yagn sempat berpikir siapa wakil-wakil rakyat itu, dan bagaimana mereka dulu dipilih.

Permainan simbol yang diperankan individu sangat baik dan berjalan mulus, sehingga dominasi simbolik di bidang politik, sosial dan kebudayaan hampir tak dirasakan oleh rakyat. Kelanjutan dominasi simbolik yang kukuh ini ditunjang pula oleh corak hubungan patron-klien dalam spektru yang luas. DPR-MPR, dan berbagai lembaga negara lain hanya merupakan klien bagi negara. Parpol, ICMI dan berbagai organisasi sosial keagamaan pun tiap saat berhubungan dengan negara, tak pernah dalam posisi sederajat, karena mereka cuma klien negara. Tapi negara disini sangat sering harus dibaca lain, individu.

Mungkin tak berlebihan bila dikatakan dalam batas tertentu, banyak hal — lembaga-lembaga negara, aturan, undang-undang, tradisi resmi kenegaraan, maupun tindakan-tindakan yang dalam kaca mata resmi sangat penting — ternyata hanya asesori yang diberi fungsi simbolik belaka. Sidang Umum MPR yang megah, dengan jelas menggambarkan kesibukan negara seperti kesibukan drama ” Inspektur Jenderal” tadi.

Tapi apa relevansinya dengan kepentingan rakyat? Pertanyaan ini lebih baik diganti. Benarkah Sidang Umum MPR berlangsung di dalam semangat yang bersifat rakyat “oriented”? Saya kira jawabnya jelas, sidang itu berlangsung dalam kerangka hegemoni simbolik. Dan dengan begitu drama “Inspektur Jenderal” yang ditulis hampir dua abad silam itu kurang lebih sama dan sebangun dengan drama “Sidang Umum MPR” baru-baru ini.

SEKARANG, bila setidaknya secara tentatif kita dihadapkan pada partai yang bisa mengubah situasi seperti ini agar kita bisa hidup didalam tatanan lebih substantif, lebih blak-blakan dan tidak sekedar bersikap lamis dan seba semu dengan permainan simbolis. Pada tingkat teori saya kira diperlukan seorang Ranajit Guha, sejarahwan India, dan ahli politik ekonomi, yang mendobrak kesadaran sejarah lewat bukunya”Selected Subaltern Studies” yang memberi arti penting kontribusi rakyat dalam sejarah.

Rakyat bukan tak berarti apa-apa, dan sejarah bukan milik kaum elit. Maka cara penulisan sejarah India, yang dilakukan sejarahwan kolonial dan para pengikut mereka yang bersifat elitis harus dihentikan. Perang kemerdekaan kita pun bukan cuma perangnya kaum elit yang sekarang berkuasa. Rakyat, yang dengan berbagai cara menyumbang pergolakan revolusi, mereka pun harus diperhitungkan.

Dengan kutipan ini saya hendak mengatakan kesadaran sejarah memiliki arti penting dalam pembentukan dunia sosial dan kekuasaan politik. Tapi arti penting ini bisa hilang bila seorang aktor yang gigih memainkan manipulasi tak dihentikan dengan satu dan lain cara. Ia masih akan menempatkan rakyat dalam posisi terus bergulat melawan hegemoni dan aneka corak penindasan yang lebih canggih, dan lebih tersembunyi dibalik simbol-simbol.

Karya Guha menggambarkan proses pemberdayaan agar masyarakat yang lebih terteindas menjadi lebih artikulatif. Tapi kasus Indonesia mungkin berbeda. Rakyat tak kurang artikulatifnya. Tiap artikulasi mereka dibalik tembok hegemoni simbolik yang mengklaim tindakan-tindakan mereka konstitusionil, dan berlandaskan azas Pancasila. Dan bahwa mereka yang menuntut dipulihkannya hak itu malah dianggap anti Pancasila.

Harus diakui, sementara ini gairah perjuangan kerakyatan tampaknya berhadapan dengan jalan buntu. Maka jawaban yang bisa diberikan cuma ini: mungkin perubahan akan berlangsung diluar kendali manusia. Dan itu berarti bahwa kita, dalam tatanan kolektif, seolah tak kunjung mampu belajar dari sejarah. Kita tahu betapa getirnya tragedi, tapi kita malah tampak seperti sengaja menantang.

Sumber Tulisan: Tempo

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s