Fitnah “Center”

Oleh: Mohamad Sobary

Jokowi bermandikan fitnah. Ia disebut nonmuslim, kafir dan gelar haji (H) di depan namanya dibuat menjadi nama nonmuslim. Statusnya hanya “boneka” dan banyak lagi fitnah yang di dalam hukum pidana kita dikategorikan sebagai perlakuan tak menyenangkan. Anehnya, Jokowi ayem saja.

Siapa yang memfitnah? Kita tidak tahu persis. Tapi, ia pastilah tukang fitnah. Mengapa memfitnah? Apa lagi alasannya kalau bukan karena iri, dengki, dan segenap penyakit jiwa lainnya. Mengapa ia iri? Itu karena Jokowi baik, lurus, jujur, tulus, dan hebat. Watak-watak tersebut—juga kehebatan—memang menjadi sumber iri dan dengki. Mungkin rasa-rasa itu sampai di ubun-ubun.

Mengapa ia tak bersyukur karena ada orang baik, lurus, jujur, tulus, dan hebat? Ini karena ia sendiri tidak baik, tidak lurus, tidak jujur, tidak tulus, apalagi ia juga tidak hebat. Begitulah kenyataan hidup. Begitulah watak iri dan dengki yang selalu berkembang dalam diri macam itu.

Siapa dia sebenarnya? Dulu di zaman perang dingin, ketika penguasa dunia hanya di tangan Amerika Serikat (AS) dan Uni Soviet—dua musuh bebuyutan yang tak mungkin diajak kompromi—ada “dalil moral-politik” yang menyebutkan, barang yang menguntungkan Soviet, merugikan AS. Dengan sendirinya, begitu juga sebaliknya.

Di saat ini, dalil itu berlaku: barang yang menguntungkam Jokowi, merugikan musuh-musuhnya. Tentang siapa dia tadi, jawabnya jelas: musuhnya. Kata “musuh” ini dibuat di sini bukan oleh Jokowi sebab ia tak punya musuh. Kepada pihak sana, ia menyebutnya “mitra tanding”.

Mitra itu pasangan, partner. Kata-kata itu artinya bukan musuh, melainkan lebih dekat kepada makna kawan. Jokowi tak menyebutnya lawan, bukan pula musuh.

Tetap Kalem

Pada zaman genting, masa “goro-goro” yang membikin hidup ini gonjang-ganjing, sekitar 1965-1966, berlaku “adagium moral-politik” yang lain: fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan.

Ini ungkapan serius. Dalam pergaulan sehari-hari antarteman, jika ada yang kebetulan menyatakan fitnah yang lebih kejam dari pembunuhan tadi, ada saja yang segera menimpali: meskipun begitu, lebih baik aku difitnah daripada dibunuh.

Orang-orang ketawa. Ya, begitulah kehidupan. Ketika satu pihak menyatakan ketegangan, yang lain mencari yang terasa rileks. Ketika seorang kawan bersikap serius dengan rasa marah, kawan lain bersikap “setel kendo”, jangan tegang-tegangan supaya jantung tidak terlalu dipaksa bekerja keras. Ini hukum keseimbangan alam. Saat orang lain panas, selalu ada yang menghadirkan diri sebagai air.

Begitu juga sikap Jokowi. Ketika orang lain “ngeden-ngeden” supaya kelihatan hebat, ia bersikap “setel kendo”. Ketika orang lain bicara keras biar dianggap tegas, Jokowi tetap kalem, tapi menyatakan sikap dengan serius dan diam-diam “menyindir” lembut dengan cara Solo, “Saya juga bisa bersikap tegas.” Ketika orang lain tampak berusaha menjadi orator yang meniru orang besar yang tak mungkin ditiru, Jokowi bicara dengan hati nuraninya, dengan langgamnya sendiri.

Ia tak perlu meniru, tak perlu bergaya. Ia tampil autentik, genuine, apa adanya. Ia tak ingin menjadi orang lain karena dalam hidup, orang hanya akan menjadi diri sendiri. Barang siapa berani menjadi dirinya sendiri, ia bisa menjadi pemimpin autentik, genuine, sejati, bukan tiruan, bukan loyang, tapi emas murni.

Mengapa yang lain meniru-niru gaya tokoh besar yang bukan bandingannya? Ya boleh saja, tidak apa-apa. Boleh jadi ia tak punya apa-apa yang bisa dipamerkan. Untuk pamer autentisitasnya mungkin ia merasa dalam dirinya tak ada yang layak dipamerkan. Ya, begitulah kenyataan hidup.

Kita berkaca kepada Jokowi. Ia itu dianggap nonmuslim diam, difitnah ia diam, dianggap hanya boneka jua diam. Kenapa harus risau? Bukankah yang penting adalah dia dan hanya ingin menjadi dia sendiri? Ke mana pun dia pergi, ibaratnya setinggi apa pun dia terbang, Jokowi ya Jokowi.

Orang ini percaya diri. Ia punya pesona dan memancarkan karisma. Semuanya tulen, asli, autentik, murni; semurni emas, yang bukan niru-niru. Ia bukan loyang tadi.

Di Jawa, banyak orang kalem seperti Jokowi. Tapi, mereka bukan golongan pemimpin. Seperti Jokowi, tapi mereka bukan Jokowi. Jadi, jangan pula niru-niru Jokowi karena hanya ia yang bisa menjadi Jokowi.

Dalam hidup yang penuh humor—Anda tahu, humor itu serius—ada masa ketika di sela sebuah seminar, saya dan teman-teman bertukar cerita. Ada yang serius sekali menyebut fitnah, yang menjengkelkan hatinya, dan seorang teman dengan kalem—seperti tak merespons apa pun—berkata bahwa fitnah “center” sekarang ada di mana-mana.

“Fitnah ‘center’?” teriak seorang. Ia tak mengerti hubungan kata itu dengan fitnah yang disebutkan temannya. Ia juga tak memahami pelesetan yang kreatif itu. Tak tahu pelesetan “fitness center“, tak berdosa, Mas. Tak usah ngeden-ngeden seperti capres, percumalah, lagi pula belum tentu menang, kan? []

SINAR HARAPAN, 02 Juli 2014
Mohamad Sobary ; Budayawan
Di ‘copy paste’ dari milis KMNU2000

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s