Jurkam dan Tukang Obat

Sumber Tulisan : Disini

Sudah jelas bahwa “jurkam” tidak sama dengan tukang obat. “Jurkam” itu orang sekolahan, bahkan ada yang profesor, ada yang tokoh partai, ada yang mantan pejabat, dan hidupnya di dalam gedung-gedung megah. Hubungan dan pergaulan sehari-harinya dengan orang-orang penting dan bergengsi. Jelaslah “jurkam” tidak sama dengan tukang obat.

Apa tukang obat? Remehlah dia. “Jurkam” orang dari golongan kelas menengah, bahkan mungkin kelas atas. Tukang obat? Dia cuma orang pinggiran jalan. Dia kelas kaki lima. Memang, keduanya sama-sama tukang jualan. Namun, itu pun berbeda. “Jurkam” jualan politik, berbahasa politik, dengan sikap politik, langkah, dan strategi yang dipakainya pun politik. Beda sekali.

Berjualan politik itu ada kalanya berarti dia menjual partai, platform partai, aspirasi partai, dan rencana-rencana partai. Partai mau melakukan apa dan untuk apa semua dijelaskan dengan suara orang terpelajar dan meyakinkan, kemudian berteriak: “pilihlah partai kami”.

Itu kalau partai yang dijual. Dalam pemilihan langsung, yang dijual tokoh, bisa tokoh partai, bisa tokoh lain, pokoknya orang, pribadi, manusia, yang jelas sosoknya. Kalau dia berkampanye untuk diri sendiri, dia menjual diri. Di sini kesannya agak negatif. Kata menjual diri di sini berarti jualan mengenai apa yang belum ada. Soalnya, dia berteriak: “Kami mau begini, kami mau begitu”, banyak sekali maunya. Apa intinya, bila bukan bicara tentang barang yang belum ada? Barang yang belum ada ini biasanya tak akan pernah ada.

Ini menipu. Namun, tipu-menipu di sini tak dianggap dosa karena sudah menjadi kelaziman. Apalagi antara yang menipu dan yang ditipu sama-sama ada, sama-sama bertepuk tangan. Dalam tepuk tangan itu jelas, yang ditipu setuju dirinya ditipu. Ini tipu-menipu atas dasar suka sama suka. “Jurkam” yang tidak bohong bukan “jurkam” namanya.

Orang terdidik, profesor, dan hidup berkecukupan, bahkan kaya raya, bohong? Ya. Bohong. Itu sudah biasa. Mau apa lagi kita. Bahkan kalau “jurkam” dan ketua partai dijagokan masyarakat, dijamin bakal terpilih dan menang, dan akhirnya betul-betul menang, tak berarti mereka tak akan bohong. “Jurkam” itu lidahnya panjang, bisa menjilat hidung, seperti lidah ular. Apa salahnya ular berbohong?

Bahkan andai kata ada kesepakatan politik, ada perjanjian yang diatur dalam pasal-pasal, yang menjadi pegangan rakyat untuk kelak menagih janji pada “jurkam” yang terbukti menang, o…maaf, jangan bermimpi janji itu akan dipenuhi. Profesor bohong ada. Mantan pejabat bohong tak kurang jumlahnya. Tak jarang, “jurkam” itu rohaniwan, tokoh kebenaran, wakil dari “langit” yang seharusnya tidak bohong, tapi “jurkam” mana yang tidak berbohong. Di mana-mana “jurkam” itu identik dengan tukang bohong. Bagaimana tidak bohong, kalau yang dijual itu barang-barang yang tidak ada?

Kehilangan Kontrol
Ya, “jurkam” memang golongan atas, terdidik, hidup berkecukupan, bahkan kekayaannya melimpah. Namun, jangan terlalu kejam pada dia. Kita harus merasa kasihan. Soalnya “jurkam” itu ada yang semula bercita-cita menjadi presiden. Setelah tak ada yang mencalonkan dan partai lain pun bangkrut, mereka masing-masing mencari tumpangan di partai lain maka apa yang harus dilakukan calonnya calon presiden yang tak dicalonkankan ini?

Susah sekali dia melangkah. Mau ikut aliansi politik bersama partai-partai lain, dia tak punya partai. Satu-satunya jalan yang dianggap masuk akal—siapa tahu kelak bisa menjadi menteri—ya hanya menjadi “jurkam” itu agak ngenes dan mungkin sedikit memalukan. Kesannya dia “merangkak-rangkak” di depan tokoh partai yang banyak pengikutnya untuk meminta belas kasihan agar “sudi apalah kiranya” yang punya partai itu mengakomodasinya.

Terjun dari langit yang begitu tinggi, sebagai calon yang minta dicalonkan menjadi presiden, lalu terjun, ambles ke bumi yang tampak hina-dina ini, menjadi “jurkam”. Betapa getir cara orang membela ambisi politiknya. Apa salahnya kalau kita tak dicalonkan? Lagi pula kenapa kita tak mawas diri, tak bisa menilai diri sendiri, dan terlalu ambisius, hingga kita yang ibaratnya bukan apa-apa berani-beraninya membayangkan diri kita calon presiden?

Mungkin di situ pangkal persoalannya. Keinginan terlalu tinggi. Ambisi besar yang dalam ukuran lumrah telah menjadi watak ambisius. Kita kehilangan kemampuan melakukan kontrol diri. Beda dibandingkan dengan tukang obat.

Dia menjual barang yang jelas ada. Obatnya ada di tas. Benda itu bisa dibuka, dilihat jenis dan kategori, serta khasiatnya. Obat panu untuk menghilangkan panu. Ada obat kudis, obat batuk, obat kuat laki-laki, obat oles buat bikin badan hangat, bahkan ada obat yang bisa menyembuhkan segala penyakit. Penyakit apa pun, katanya, bisa disembuhkan dengan obat yang satu itu.

Ini tidak benar. Ini tukang obat yang mirip “jurkam”: menjual barang tak ada, dan tak bakal pernah ada. Mana bisa satu jenis obat bisa menyembuhkan segala macam penyakit? Dari bagian yang agak gelap, di belakangnya, saya berbisik pelan agar tak didengar penonton dan tak membuat dia malu: “Mengapa kau bohong? Mana ada obat seperti itu?”

Dia menjawab pelan sambil menengok wajah saya: “Ah, bohong sedikit, Pak. Saya hanya meniru ‘jurkam’. Bedanya, saya betul-betul hanya bohong sedikit, bohong kecil-kecilan, ‘jurkam’ bohong besar. Hampir semua yang dikatakannya bohong.”
Kasihan si “jurkam”. Belum tentu kebagian jabatan yang diimpikannya, sudah dicaci-maki orang, bahkan termasuk oleh tukang obat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s