Persatuan yang Belum Terwujud

Oleh: Mohamad Sobary

Tak diragukan bahwa zaman berpengaruh pada manusia. Tiap zaman bahkan memiliki “semangat” dan “logika” yang bukan hanya berpengaruh, melainkan juga “membentuk” wawasan, sikap, dan tingkah laku para warga masyarakat yang hidup di zaman itu.

Di zaman Orde Lama dulu, kita berbicara mengenai revolusi yang belum selesai. Bung Karno sering menyebut “revolusi multikompleks” atau “pancamuka” untuk menggambarkan kompleksitas dan kedalaman revolusi yang sedang kita tempuh. Di zaman itu, hidup tanpa revolusi bukan hidup. Bagi kita, hidup itu revolusi. Bung Karno juga bicara tentang “merombak” dan “menjebol”.

Itu inti sebuah revolusi. Jauh sebelum maupun lama sesudah merdeka, kita tetap berevolusi. Ini agenda seluruh bangsa. Oleh karena itu, persatuan bangsa diprioritaskan. Revolusi tidak akan terwujud kalau bangsa kita terceraiberai, tidak utuh, tidak menyatu. Tekad dan semangat untuk bersatu harus bulat. Makna persatuan itu sendiri yaitu persatuan bangsa juga sebuah agenda kerja yang belum selesai. Bung Karno bekerja keras, lahir batin, untuk persatuan bangsa.

Beliau disebut pemersatu bangsa dan persatuan itu sudah terbentuk. Kesadaran kita, semua warga negara, bahwa kita bangsa Indonesia, membahagiakan. Tapi wujud kesadaran itu masih bisa digoyahkan dan dalam arti tertentu, seperti revolusi yang belum selesai tadi, persatuan bangsa pun bisa disebut belum selesai. Persatuan kita belum teruji dengan sebaik-baiknya di dalam sejarah kita sendiri.

Di zaman Orde Baru, dua agenda besar yang belum selesai itu diabaikan secara mutlak karena alasan politik yang tak pernah dikemukakan secara jelas. Diam-diam Pak Harto berniat “menghabisi” Bung Karno. Pengaruh besar politiknya yang luas dan mendasar dihabisi. Idiom-idiom politik Bung Karno dihabisi. Gaya pemerintahan populis Bung Karno dihapus bersih. Kalau pengaruh Bung Karno masih terasa, Pak Harto tak akan bisa berbuat apa pun. Beliau akan “hilang” ditelan kewibawaan Bung Karno.

Tapi Pak Harto bukan tokoh biasa. Dilenyapkannya pengaruh politik Bung Karno membuat Pak Harto mampu membangun suatu logika politik tersendiri. Beliau berbicara mengenai pembangunan. Pidato pagi pembangunan. Pidato siang pembangunan dan pada malam hari masih bicara pembangunan. Sepanjangzaman pemerintahannya hanya ada pembangunan dan pembangunan semata.

Saat itu, terasa betul bahwa kata pembangunan memang memiliki kekuatan sihir dan daya pesona yang besar. Pak Harto menjadi pusat segalanya. Loyalitas kepada beliau menjadi ukuran loyalitas kepada negara. Beliau galak kepada siapa pun yang memiliki pemikiran lain. Itu tanda tidak loyal. Tapi kepada para penjilat dan siapa saja yang bersedia menjadi “bayangannya”, Pak Harto murah hati.

Ibaratnya, orang minta sebuah gunung dipindahkan untuk kesenangan pribadinya, Pak Harto siap memenuhinya dengan sikap welas asih seorang raja kepada hamba sahayanya yang setia. Dan, pelan-pelan, setelah apa yang merupakan keagungan pribadi ini terpenuhi, Pak Harto bicara pula tentang persatuan dan kesatuan. Pada saat itu, tiap makhluk yang bisa berbicara, dalam kesempatan apa pun, pasti bicara pula persatuan dan kesatuan tadi. ABRI paling fasih mengucapkan kata itu.

Di masa-masa sesudah reformasi di zaman kita “merdeka”, di masa keterbukaan yang seterbuka-terbukanya, kalangan elite di berbagai daerah sebentar-sebentar meneriakkan ancaman untuk memisahkan diri agar daerahnya bisa berdiri sebagai negara sendiri. Di sana kelihatan dua jenis sikap politik yang menandakan watak antidemokrasi.

Pertama, ada sikap “tengil” yang begitu arogan dan merasa pada tempatnya menggunakan bahasa ancaman di dalam dialog kebangsaan untuk menata kehidupan lebih adil. Kedua, sikap kekanak-kanakan yang mudah merajuk, mudah “menarik diri” tapi sebetulnya agresif, yang bertentangan dengan jiwa demokrasi.

Bagi kita, esensinya jelas: “tengil” atau tidak, antidemokrasi atau tidak, semua gejala tingkah laku politik tadi menunjukkan bahwa agenda nasional kita mengenai persatuan dan kesatuan bangsa itu sebetulnya belum “solid”, belum kukuh, dan masih mudah dimainkan untuk digoyanggoyang. Dengan kata lain, ini juga agenda yang belum selesai.

Dan jika pemerintah tidak sensitif, kurang memberi perhatian serius terhadap kelompokkelompok rentan di dalam masyarakat, risikonya akan terasa besar. Mungkin pula bisa menimbulkan rasa penyesalan kemudian, yang tak lagi berguna. Sampai hari ini, kita memiliki cukup alasan, yang agak melimpah, untuk cemas memikirkan nasib persatuan bangsa yang bisa dianggap belum menentu itu.

Sikap dan tingkah laku politisi yang main “genggengan”, klik-klikan, dan segenap tingkah laku yang menunjukkan gejala mau menang sendiri, mau benar sendiri, dan mau enak sendiri, jelas meresahkan. Andaikata mereka tak memiliki agenda merusak persatuan bangsa, setidaknya jelas bahwa tingkah laku politik mereka itu tidak mendukung sama sekali agenda persatuan itu. Ini juga tanda kekanakkanakan yang sudah bukan masanya.

Mereka mengabaikan tanggug jawab politik. Panggung politik nasional, yang bergengsi dan memiliki wibawa besar itu, dijadikan tempat “main-main” seenaknya. Belum lagi semangat korup, yang selama ini terbukti dilakukan partai besar yang berkuasa. Kabinet yang bertekad memberantas korupsi malah menyegarkan iklim korupsi. Di dalam kabinet itu hampir semua tokoh pentingnya terlibat korupsi. Betapa mengerikannya.

Kecenderungan politik di kalangan politisi untuk membangun hubungan berdasarkan perkawinan di antara anakanak mereka, dan mereka sendiri bangga dengan hubungan “besan dengan besanan” di dalam suatu partai politik atau antarpartai, bagi kita hanya kesan negatif yang terasa. Orang tua dan menantu, besan dengan besan, bisa menggunakan posisi politik partai mereka untuk bekerja sama dan saling melindungi di dalam kejahatan politik. Juga di dalam korupsi.

Besan yang korup akan dilindungi oleh besan yang belum korup, tapi masih berkuasa. Menantu yang korup bakal dilindungi dengan sepenuh hati oleh mertua yang merasa masih jaya. Apa ini semua hubungannya dengan negara, dengan politik dan persatuan bangsa?

Politik besanan dan besanan politik memang mengandung persatuan. Tapi bukan wujud persatuan bangsa. Kita belum pernah melihat suatu aliansi politik yang sungguh-sungguh dibangun untuk suatu persatuan bangsa. Mungkin hal itu tidak akan pernah ada? []

Koran SINDO, Senin, 26 Januari 2015
Mohamad Sobary, Esais, Anggota Pengurus Masyarakat Bangga Produk Indonesia, untuk Advokasi, Mediasi, dan Promosi. Penggemar Sirih dan Cengkih, buat Kesehatan.
Di ‘copy paste’ dari milis KMNU2000

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s