Nembang

Sumber Tulisan : Disini

Oleh Mohamad Sobary

Pak SBY itu pemberani sejati. Di zaman rusuh, dan tidak aman dari
pencurian seperti ini berani-beraninya beliau mengarang “tembang” dan
kemudian me-“nembang”-kannya.

Saya tak berani “nembang” karena ada trauma berat. Trauma ini dimulai
di zaman Pak Habibie. Sebagai Presiden, di zaman yang belum aman dari
krisis, beliau “nembang” sepasang mata bola, lagu yang konon
digemarinya? Seluruh negeri menyaksikannya, kecuali saya. “Pemerintah”
“nembang” di zaman macam itu bagi saya buruk. “Nembang” merupakan
tindakan yang tidak pada tempatnya. Dan itu terbukti buruk betul bagi
nasib politik beliau.

Ketika Gus Dur menjadi Presiden, beliau punya acara di Hotel Mulia.
Saya juga hadir di tengah banyak undangan. Mas Tantowi Yahya, yang
menjadi pemandu acara, mengumumkan, akan banyak kejutan malam itu. Gus
Dur akan “nembang”. Mbak Nur, “the first lady”, juga disebut akan
“nembang”.

Dan saya pun “minggat” dengan tertib, hampir tak seorang pun tahu.
Saya tak mau mendengar “tembang” apa pun dari “pemerintah”.

Dengan sendirinya saya tidak tahu Gus Dur “nembang” apa, “nembang”
sendiri atau berduet dengan Mbak Nur? Dan saya tak ingin tahu.

Beberapa lama kemudian, Pak Gubernur Sumatera Selatan datang ke kantor
saya, ditemani Mas Tantowi dan Mas Helmi. Rupanya, ini khusus
tamu-tamu Palembang

“Kenapa malam itu Anda buru-buru pergi?” tanya Mas Tantowi. Dan saya
menjawab, saya tak suka mendengar, apalagi menyaksikan, “pemerintah”
“nembang”. Boleh jadi Pak Habibie jatuh bukan karena beliau “nembang”
di zaman masih rusuh. Tapi, saya tetap merasa takut. Dan ketakutan ini
menjadi sebuah trauma.

“Lho saya ini pemerintah juga dan tiap saat saya juga ’nembang’ dan
itu baik-baik saja,” kata Pak Gubernur.

Saya kaget. Saat itu beliau sedang siap-siap mencalonkan diri kembali
menjadi Gubernur untuk periode kedua. Posisi beliau sangat kuat.
Prestasi bagus. Hubungan publik bagus. Menurut ukuran akal sehat
beliau pasti menang. Maka, saya pun agak malu mendengar jawaban itu.
Tapi jiwa saya memberontak.

“Tidak baik ya tidak baik,” bisik hati saya. Ini memang “hanya”
perasaan, dan bukan sebuah logika politik yang mudah diurai secara
rasional.

Tetapi kemudian terbukti, hati dan ketakutan saya tidak bohong. Pak
Gubernur kalah secara tak masuk akal dalam pilkada. Hanya kalah satu
angka? Dan kemudian Gus Dur pun tak bisa bertahan lama.

Adapun Pak SBY, saya sebut pemberani tulen, karena beliau tak takut
pencurian. Padahal, “tembang” kita sudah dicuri tetangga sebelah.
Pencuri itu tidak malu-malu. Pulau-pulau dicuri. Batik dicuri.
Ukiran-ukiran kayu dicuri. Kayu-kayu di hutan pun dicuri.

Novel Indonesia, “Pulang” karya Toha Mohtar, juga dicuri pengarang
negeri sebelah, diganti nama-nama tokoh dan nama tempat, dengan judul
“Senja Belum Berakhir”, oleh Azizi Haji Abdullah.

Mereka bukan hanya tak tahu malu, tapi juga congkak, angkuh, sombong,
adigang adigung. Saya ingat Bung Karno. Tokoh ini berani melecehkan
mereka sebagai “boneka”. Tapi Bung Karno sendiri sudah pula “dicuri”
dan lahirlah di tetangga itu Bung Karno kecil.

Malinglah “tembang” Pak SBY. Malinglah, kalau lidah kalian cocok,
semua tembang Jawa: Pangkur, Dandanggula, Asmaranda, Gambuh, Mas
Kumambang. Kami masih kaya. Dan akan tetap kaya biarpun maling
menggerogoti lewat pagar yang tak terjaga. Malinglah kalau tak malu
disebut bangsa maling dan negara maling.

Di kampung saya, ada juga orang yang suka maling. Tapi kami punya
etika: jangan maling milik tetangga sebelah. Malinglah jauh-jauh dari
desa kita sendiri.

Secara etis, tetangga sebelah itu kita pandang keluarga kita sendiri.
Maka haram jadahlah maling milik tetangga.

Bung Karno dulu berteriak “Maphilindo”: Malaya, Philipina, Indonesia,
sebagai saudara serumpun. Dan kita harus menggalang kekuatan
menghadapi neokolonialisme dan imperialisme. Lalu mereka pun kagum
kepada kita.

Baru beberapa puluh tahun lalu mereka minta guru kita, minta diajari
ilmu pengetahuan. Mereka mengagumi sastrawan-sastrawan kita. Mereka
benci tapi diam-diam mengagumi Bung Karno kita. Dan banyak tokoh agama
kita diminta mengajari mereka agama.

Sukses ekonomi beberapa tahun terakhir ini membuat mereka adigang
adigung adiguna. Menghina kita “indon”, semata karena para pekerja
kita mencari penghidupan ke sana. Dalam sastra saat ini mereka masih
terbelakang. Dalam urusan media mereka belum apa-apa. Lebih-lebih
dalam perkara demokrasi.

Bangsa yang pernah miskin dan bodoh memang punya rasa minder. Untuk
menutupi sifat minder itu mereka berkotek-kotek dengan suara berisik,
yang bisa membangunkan macan tidur.

Kita memang macan yang sedang tidur. Kalau mereka berkotek terus, saya
kira kita akan bangun, dan merokok bersama-sama untuk menutup rumah
tetangga sebelah dengan kabut. Dan mereka akan batuk-batuk. Dan pingsan.

Tapi kita tak akan mencuri milik mereka. Ajari lagi mereka etika hidup
bertetangga baik. Kita ajari pula mereka makna “koeksistensi damai”,
yang artinya kita tak akan mengganggu tetangga. Bahkan, dalam tidur
mereka, kita jaga agar milik mereka aman. Kalau ada yang mengganggu
mereka, kita usir.

Jangan lupa, tetangga sebelah itu saudara. Dan tembang yang mengalun
dari tetangga sebelah bisa membuatmu tenteram. Tapi tembang itu bukan
milikmu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s