Petani yang Teraniaya dalam Sejarah

Oleh: Mohamad Sobary

Peta dunia pertanian pada abad ke-18, ke-19, dan awal abad ke-20—abad yang belum lama lewat—menggambarkan suasana penuh gejolak, keresahan, dan pertumpahan darah.

Pada abad-abad tersebut, di negeri China, Rusia, Vietnam, Indonesia, dan negara-negara Amerika Latin, kaum tani menjadi kekuatan paling revolusioner di dunia. Sejarah petani negeri-negeri tersebut merupakan sejarah pergolakan revolusi. Mungkin dari sinilah Bung Karno menemukan gagasan bahwa petani merupakan soko guru revolusi.

Kelihatannya Bung Karno membuat generalisasi bahwa kaum tani yang melakukan gerakan seperti itu bukan hanya kaum tani Indonesia. Soko guru revolusi menjadi bahasa politik yang sakral. Mungkin bahkan tampak ”garang”. Dan kaum tani, yang kemudian bermetamorfosis menjadi kaum marhaen, ditampilkan dengan penuh harga diri. Petani dianggap kekuatan mahadahsyat.

Dari dalam diri golongan orang-orang yang kelihatannya diam, penuh kesabaran, dan nrimo apa pun yang terjadi, timbul ledakan ”amuk” massa yang tak terkendali. Jiwa petani tampak seperti dinamit yang siap membuat ledakan demi ledakan tak terduga selama abad-abad tersebut, di negeri-negeri tersebut.

Tapi demi keadilan sejarah, kelihatannya ada yang harus dikatakan lagi: petani berani menjadi pemberang, menjadi kekuatan revolusioner yang mudah meledak karena ada yang ”menjadikannya”. Sebaiknya disebutkan di sini bahwa petani merupakan bahan mentah yang baik untuk ”dijadikan” kekuatan revolusioner.

Dengan kata lain, petani menjadi kekuatan revolusioner itu karena ada kepemimpinan yang memungkinkannya demikian. Petani Banten kelihatannya tak akan mungkin tampil sebagai kekuatan revolusioner kalau dunia pesantren, terutama kalangan kiai tarekat, tidak turun tangan untuk menawarkan kepemimpinan yang begitu efektif dan penuh kewibawaan.

Karisma para kiai tarekat yang membagikan jimat-jimat, yang akan membuat mereka kebal peluru, telah membuat petani tak gentar menggempur kaum kafir yang berkuasa di negeri Banten, sebagaimana ditulis sejarawan Kartodirdjo dalam pemberontakan Petani Banten 1888 itu. Beruntung kita punya Bung Karno, yang memandang peran sejarah kaum tani dengan sikap romantis seorang tokoh pergerakan.

Dan untung kita punya Bung Karno yang kaya akan ungkapan metaforis. Kalau tidak, kita tak mungkin akan punya marhaen, yang dikapitalisasi menjadi marhaenisme dalam politik, yang begitu berwibawa dan memesona. Kalau petani disebut petani, datar, dan cenderung apa adanya begitu saja, siapa yang tergetar secara ideologis? Bung Karno punya itu.

Dan para pemimpin yang lain, sampai hari ini, tidak punya. Kecuali anaka-nak ideologis Bung Karno. Kemampuan menempatkan petani ke dalam ungkapan ideologis-metaforis, menjadi marhaen, atau kaum marhaen, telah mengubah realitas sosiologis petani menjadi realitas ideologis tanpa menghapus kenyataan bahwa kaum marhaen itu petani yang teraniaya dalam sejarah. Kaum marhaen lalu menjadi kekuatan perjuangan revolusioner untuk membela keteraniayaan itu.

Dan secara ideologis, kaum marhaen tetap kaum marhaen dalam kategori sosiologis sekarang: marhaen kita itu petani-petani yang tetap teraniaya dalam sejarah. Kaum marhaen, dan marhaenisme dalam ideologi kelihatannya tak akan pernah basi selama kaum nasionalis masih tetap nasionalis.

Di dalam politik kita yang belum bisa bersikap adil pada masyarakat, dan otomatis juga belum bisa berbagi kemakmuran secara merata, kaum marhaen tetap menjadi bahasa perjuangan— ada kalanya bahasa perlawanan—yang tetap memiliki sentuhan emosional yang menggetarkan.

Ketika kekuatan partai politik yang mengagungkan marhaenisme sedang menjadi partai penguasa seperti sekarang, perjuangan kaum marhaen seharusnya tidak di jalanan. Mereka tidak sibuk merespons kebijakan pemerintah yang tak sensitif terhadap kehidupan kaum marhaen, melainkan bermain dengan baik di dalam perumusan kebijakan publik yang menata kehidupan mereka.

Politisi-politisi mereka di dalam partai maupun di parlemen seharusnya lebih sensitif mengamati menteri dan lembaga yang berurusan dengan kaum marhaen agar kaum marhaen diberi perlakuan sebaik-baiknya di dalam kebijakan publik yang mereka rumuskan. Kalau partai marhaen berkuasa, tetapi kaum marhaen masih telantar, maka apa gunanya kekuasaan?

Apa pula gunanya perjuangan ideologis lewat partai, untuk memuliakan kaum marhaen, petani, yang tetap teraniaya? Kalau ketika berkuasa saja tidak bisa menggunakan kekuasaannya, apa yang bisa dilakukan ketika tak berkuasa? Kaum marhaen, petani, saat ini ibarat kata tercekik oleh banyak tekanan. Menyempitnya lahan pertanian karena desakan kebutuhan untuk membuat rumah, jelas mempersempit napas perekonomian mereka.

Tekanan-tekanan pasar global dan perdagangan global yang rakus, serakah, dan ekspansif, tak bisa dibiarkan begitu saja. Pemerintah, yang memiliki kewenangan regulasi pasar, harus turun tangan dan mengatur dengan bijaksana apa landasan ideologis beroperasinya sistem perdagangan.

Tidak bisa pemerintah yang berkuasa hampir atas segalanya, tapi malah menyerahkan hampir segalanya pula kepada pasar? Pasar bukan pemerintah. Maka pasar harus tunduk pada pemerintah yang memegang kekuasaan regulasi tadi. Apa yang sudah didominasi kekuatan global, dan yang segalanya sudah telanjur menjadi bagian aturan global, tak berarti kita sudah tak berdaya.

Di tingkat pelaksanaan, yang teknis-teknis, pada tingkat lokal, dan tersebar di berbagai wilayah negara kita, kekuasaan kita masih besar. Dengan kata lain, aturan-aturan yang sudah terlanjur menjadi porsi kekuatan global itu masih memiliki celah-celah dan di sana sini masih belum diatur dengan baik.

Di situ kita bermain. Disitu rakyat, kaum marhaen, petani, diberi kesempatan mengatur dirinya dengan baik. Syukur pula bila pemerintah memiliki sedikit keberanian dan kreativitas untuk meninjau kembali apa yang berupa peraturan serba global yang serakah itu.

Ideologi perjuangan yang bertumpu pada kaum marhaen, petani, dalam kekuasaan pemerintahan hanya merupakan cuilan kecil yang seharusnya tak terlampau sukar ditata untuk membuat kaum marhaen, petani, tak merasa terjajah dan teraniaya terus menerus oleh kekuatan-kekuatan besar yang tak terlawan.

Kaum marhaen, petani, terutama petani tembakau, yang disorot dari luar dengan mata setajam pitung penyukur , tujuh ketajaman silet tergabung menjadi satu, yang membuat mereka bergetar ketakutan, kepada siapa mereka berlindung kalau ketika partai berlandaskan marhaenisme yang sedang berkuasa saja tak mampu memberi perlindungan?

Perjuangan pembebasan ini begitu nyata, begitu jelas di depan mata. Hari ini, dan dalam situasi seperti ini, bukan lagi saatnya berteriak secara ideologis, yang hanya menambah polusi kata-kata di udara. Perjuangan partai, perjuangan para tokoh di parlemen dan para pemegang kebijakan publik di pemerintahan, berhadapan dengan persoalan teknis yang sama. Apa sulitnya melindungi petani, agar hidup mereka tak selamanya teraniaya? []

KORAN SINDO, 30 Maret 2016
Mohamad Sobary | Esais, Anggota Pengurus Masyarakat Bangga Produk Indonesia,
untuk Advokasi, Mediasi, dan Promosi. Penggemar Sirih dan Cengkih, buat Kesehatan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s