Sekolah yang Memerdekakan

Oleh: Mohamad Sobary

KELIHATANNYA kita mulai memiliki dalil pendidikan yang mengejutkan. Bunyinya: Sekolah yang baik hanya ‘mengantarkan’ anak didik untuk menjadi diri mereka sendiri. Mengantarkannya pun tak perlu jauh-jauh. Tiap anak sudah membawa bakat masing-masing.

Dalil ini bukan hanya menyangkut metode pendidikan, melainkan juga sistem yang utuh dan komprehensif mengenai arah pendidikan: ke mana anak hendak dibawa. Guru memfasilitasi kebutuhan anak untuk menapak di jalur kehidupan yang bisa membuat mereka menjadi diri sendiri tadi.

Tekanan utamanya jelas: anak ‘diantarkan’ atau ‘ditemani’ dalam perjalanannya untuk menjadi pribadi yang merdeka. Hanya itu. Dan itu sudah ‘sempurna’.

Sulit sekali menemukan filosofi dasar selain ini yang bisa dipegang untuk mengembangkan potensi besar setiap anak. Sistem tak pernah percaya pada anggapan bahwa ada anak bodoh. Sebaliknya, setiap anak dipandang ‘istimewa’ dan sekolah mengemban peran membangun pribadi yang merdeka.

Kita bisa bicara tentang apa yang ada, dan bukan berteori secara muluk dan abstrak. Ada contoh nyata, yaitu di Nitiprayan, Ngestiharjo, Kasihan, Bantul, Yogyakarta, ada SALAM, Sanggar Anak Alam. Ini sebuah lembaga pendidikan yang hingga kini sudah mengasuh anak-anak pada tingkat bermain sampai sekolah menengah pertama. Jadi belum lama.

Barang siapa melihat sendiri kegiatan ‘pendidikan’ di dalamnya, niscaya akan secara otomatis mengatakan bahwa ini ‘sekolahan’ istimewa. Keistimewaannya terletak pada komitmen untuk membangun sebuah sekolah alternatif.

Jika kita perhatikan sistem pendidikan yang diterapkan di sana, apa yang istimewa itu bukan terletak pada kata, melainkan pada tindakan memilih cara, metode, atau pendekatan yang dijadikan pilihan untuk menyampaikan pelajaran. Pengalaman menggambarkan, pelajaran yang sukar bisa ‘dibikin’ menjadi mudah dan anak-anak didik mengerti.

“Membuat anak didik mengerti Itu sebuah seni,” kata Toto Rahardjo, aktivis senior di bidang pendidikan sejak puluhan tahun lampau. Bersama istrinya, seorang guru, dan sejumlah tokoh pendidikan bergabung, dengan semangat mengabdi pada dunia pendidikan. Hasilnya sekolah ini. Toto, berpuluh tahun lalu, pernah magang di lembaga pendidikan ‘Edukasi Dasar’ pimpinan almarhum Romo Mangunwijaya.

Lembaga asuhan Romo Mangun dulu ‘keren’ bukan karena Romo seorang budayawan terkemuka dan memiliki wawasan alternatif secara mendasar di bidang pendidikan, tetapi juga karena isi dan metode pendidikan yang diterapkannya. Tak mengherankan Romo memang akrab dengan gagasan pendidikan Paulo Freire yang sangat ‘subversif’ itu.

Pemikirannya mengguncang dunia pendidikan. Kita dibikin menjadi yakin bahwa sistem pendidikan di seluruh dunia pada dasarnya salah.

Bagi Paulo Freire, metode pendidikan seluruh dunia diibaratkannya seperti gaya bank. Anak-anak dididik dengan cara yang mirip orang memasukkan uang dalam tabungan.

Anak didik dijejali dan disuruh menelan apa saja yang disampaikan guru tanpa pernah terlibat di dalam proses awalnya. Rupanya, ‘terlibat’ di sini menjadi kata kunci penting dalam pendidikan. Juga yang berlaku di SALAM. Di sini anak-anak terlibat ‘full’ dalam proses pendidikan yang berlangsung.

Sekolah itu terletak di tengah lahan persawahan yang hijau segar. Orang tua murid dan guru bekerja sama menyelenggarakan pendidikan bagi anak-anak mereka.

Anak-anak diajari tentang fakta. Dalam hitungan, 5×5 hasilnya 25 bukan diajarkan secara abstrak seperti sistem pendidikan konvensional kita melainkan dengan melihat fakta lapangan.

Anak disuruh mengambil 5 butir batu untuk ditaruh di suatu tempat, kemudian anak tadi mengambil 5 butir batu lagi, berturut-turut hingga 5 kali, ditaruh di suatu tempat tadi. Semua anak menyaksikan, hasilnya 25 sebagai benda nyata, faktual, dan bukan imajinasi abstrak.

Diam-diam ini praktik meneliti suatu benda secara sederhana. Kata ‘meneliti’ dan ‘menghitung’ itu tergabung menjadi satu pikiran dan satu tindakan. Ini mengajarkan anak-anak tentang cara berpikir faktual, nyata, dan bisa dibuktikan. Bukti bisa diulang-ulang tanpa mengalami perubahan.

Siapa pun yang mengambil 5 butir batu dan bolak-balik 5 kali akan terbukti hasilnya sama saja: 25. Akan menjadi kesalahan besar kalau kita mengira bahwa proses pendidikan itu hanya menyangkut persoalan menghitung 5×5. Bukan hanya itu.

Ini juga menyangkut segi pendidikan lain, yang biasanya baru diberikan secara sistematis di perguruan tinggi. Ini bisa disebut metode riset secara sederhana tapi mendasar. Di sini, sejak kecil anak-anak sudah dilatih melakukan suatu penelitian secara saksama.

Apa makna teoretis yang terkandung di dalamnya? Membangunkan ‘the sleeping giant’. Di lembaga ini ada kesadaran bahwa tiap anak memiliki potensi besar. Sistem di sini mengubah potensi ‘the sleeping giant’ itu menjadi kekuatan nyata. Potensi itu ada wujudnya.

Toto Rahardjo gandrung pada apa yang disebut nyata, faktual, dan wujud ini. Dia tak ingin mengajarkan apa yang hanya berupa omong yang tidak ada juntrungnya.

Di sini anak dilatih membuktikan diri bahwa mereka punya potensi bawaan yang besar. Caranya, dilatih meneliti secara sederhana tadi. Ini yang dimaksud mengantarkan anak tak perlu jauh-jauh. Begitu jalan dibuka, mereka bisa menempuh sendiri perjalanan secara merdeka untuk ‘menjemput’ sosok pribadi yang tak lain kecuali dirinya sendiri.

Ini diajarkan karena guru dan orang tua yang terlibat di dalam sistem itu menyadari bahwa penelitian lapangan itu suatu urusan penting. Penelitian itu suatu proses membuktikan sesuatu secara mandiri dan merdeka. Dan ini membuat—sekali lagi—mereka menjadi manusia merdeka.

Di sini tidak ada murid ‘nyontek’ seperti terjadi di tempat-tempat lain. Makna jujur, mandiri, dan memiliki integritas pribadi yang utuh bukan diomongkan, seperti dalam pendidikan ‘ceriwis’, melainkan diwujudkan, diamalkan, dan menjadi suatu tradisi intelektual yang kukuh dan terhormat. Semua ini masih dalam wujud sederhana tapi mendasar seperti disebut di atas.

SALAM tidak tiba-tiba memahami ini semua. Seperti para murid, lembaga ini juga bermula dari tidak tahu. Tapi pelan-pelan, bersama para murid, menghayati apa yang dilakukan dan mencoba memetik makna terdalam dari tindakannya. Mereka paham makna ungkapan: pengalaman merupakan guru terbaik.

Kalau anak-anak yang dididik seperti ini kelak menjadi peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) atau lembaga lain, kita tak perlu heran bila mereka sudah tampak istimewa dibanding mereka yang berasal dari produk sistem pendidikan yang lain.

Berbagai pelajaran menjadi pengalaman hidup yang dihayati oleh semua pihak, mungkin terutama oleh anak-anak. Kita tahu bahwa ini sudah merupakan bagian dari pembentukan watak, sifat,dan karakter yang kuat. Di sini sudah dibangun tradisi akademik yang ‘terhormat’ sejak dini.

Di sini suatu pelajaran bisa dimuai dari pertanyaan. Anak-anak memang dilatih bertanya mengenai berbagai hal secara kritis. Kalau anak bertanya mengenai ikan dan cara memancing ikan, guru dan orang tua ‘mengantar’ mereka untuk menemukan buku dan mereka sendiri yang membaca.

Buku bacaan tentang ikan sudah dipahami, kemudian mereka membuat suatu presentasi sederhana. Mereka juga membaca penjelasan tentang memancing. Kemudian presentasi lagi. Lalu secara sederhana menyusun rencana memancing hingga pertanyaan tentang ikan dan memancing ikan tadi terjawab. []

KORAN SINDO, 14 Januari 2017
Mohamad Sobary | Esais, Anggota Pengurus Masyarakat Bangga Produk Indonesia, untuk Advokasi, Mediasi, dan Promosi. Penggemar Sirih dan Cengkih, buat Kesehatan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s