Tari dan Lakon

Oleh: Mohamad Sobary

Pesta seni tahunan di Institut Seni Indonesia Surakarta akhir bulan lalu menampilkan tema pokok: Menyemai Rasa Semesta Raga.

Pesta itu berupa menari selama 24 jam, dua hari, berturut- turut tanpa henti. Kelompok seni tari dari Institut Seni di berbagai daerah turut ambil bagian. Kekayaan seni tari seluruh Nusantara— itu pun kelihatannya belum mewakili semua kelompok yang ada—membuat suasana pesta menjadi begitu meriah. Dalam acara tahunan, yang kini sudah memasuki tahun ke- 10 itu, penampilan tiap kelompok tidak dimaksudkan untuk mencari juara satu.

Tiap kelompok hadir hanya untuk menampilkan suasana nasional yang “guyub”, rukun, dan berkesenian secara semarak. Seni membuat hidup terasa lembut, feminin, dan ramah. Berbagai kelompok yang hadir dari seluruh pelosok Tanah Air itu hadir karena masing-masing merasa perlu untuk hadir. Beberapa kelompok yang bersemangat sudah memesan tempat penginapan hampir setahun sebelum acara berlangsung. Pesta besar itu membuat tempat menjadi benda ekonomi yang mahal.

Mereka yang terampil mengantisipasi keadaan bisa memperoleh tempat yang mereka inginkan di lingkungan kampus: posisi strategis, dekat pusat kegiatan, tanpa transportasi tambahan, murah dan leluasa untuk memilih acara mana, atau agenda apa untuk diikuti. Acara 24 jam menari itu berarti dalam 24 jam itu para seniman menciptakan kelembutan, dan suasana kejiwaan yang “ning “, “tintrim“, dan damai.

Di kampus itu tak terdengar teriakan, makian, atau kejengkelan seperti di dalam suatu keramaian politik. Iringan lembut suara gamelan membikin jenis garis bawah yang menandai kelembutan ekspresi kejiwaan yang dalam, yang diolah dengan tertib, dengan dukungan gerak raga yang teratur, berpola, dan estetis. Inilah mungkin yang diungkapkan dalam tema: Menyemai Rasa Semesta Raga yang sudah disebut di atas. Raga itu utusan rasa. Raga hanya “manut “, dan taat pada dorongan gerak yang diperintahkan rasa.

Gerak itu dari waktu ke waktu kelihatannya “itu-itu” saja, statis dan pakem. Tapi, sebenarnya mungkin tidak. Demi kebutuhan estetika dan kematangan jiwa seorang penari maka gerak memperoleh kemungkinan untuk berkembang. Kreativitas seni membuat gerak menjadi bukan hanya dinamis, tapi penuh pemaknaan.

***

Sebenarnya gerak itu urusan rasa.

Seorang penari, termasuk yang sudah matang, ketika hatinya sedang “rongeh “, tak kerukeruan, tak mungkin bisa menghasilkan gerak estetis, dan penuh makna rasa mendalam. Di atas panggung dia akan kehilangan fokus karena kehilangan “komando”. Geraknya akan menjadi ibarat guratan- guratan tak jelas dalam suatu lukisan, karya pelukis yang gagal menyatukan dirinya dengan jiwa obyek yang dilukisnya.

Di dunia tari seorang maestro dan yang bukan maestro bisa saja menarikan suatu tema yang sama di atas panggung. Secara umum tarian mereka seperti sama saja di mata penonton awam seperti saya. Tetapi, penghayatan dan pemaknaan mereka atas tema tari tersebut jelas tidak sama. Kemampuan menukik ke “kedalaman” membedakan satu tari dari tari lainnya. Di malam penutupan acara dua hari di Institut Seni Surakarta bulan lalu itu ditampilkan tari dengan lakon Abimanyu Gugur. Mbak Retno Maruti, maestro besar dunia tari kita, mengolah tari itu didukung sejumlah besar penari ternama, yang membuat lakon tersebut tampil dengan pesona.

Kelembutan gerak, sekalipun dalam sebuah perang, ditata dengan baik. Tampak Abimanyu diwisuda sebagai senapati negeri Amarta, kemudian maju perang dan mengamuk. Satria muda remaja itu membikin bobol pertahanan pasukan Kurawa dan membunuh sangat banyak prajurit musuh. Pada mulanya, barisan musuh ibaratnya hanya tinggal selangkah memasuki “Pakuwon” Randu Watangan dan menangkap Raja Puntadewa dengan mudahnya.

Sesudah Raja itu tertangkap, perang dianggap berakhir, dan Kurawa akan dengan sendirinya keluar sebagai pemenang. Tetapi, tanpa diduga- duga, tiba-tiba Abimanyu mengamuk di peperangan, dan menerjang semua lawan. Pasukan Kurawa tak berdaya menghentikan amuk Abimanyu. Barisan musuh rusak, dan musuh dihalau jauh dari “Pakuwon” tempat pertahanan Raja Puntadewa.

Tapi, sebaiknya perang itu kita singkat hingga di sini. Intinya, Abimanyu yang gagah perkasa itu bisa dikalahkan musuh karena musuh bersatu mengeroyok satria yang hanya seorang diri itu. Mandi panah dan pukulan gada yang bertubi-tubi membuat satria itu gugur. Balas dendam Arjuna, ayah Abimanyu, tak usah dikisahkan lebih lanjut di sini. Dan, kita kembali pada pertunjukan tari malam itu.

Tari yang digarap dengan tangan ahli seorang maestro, Retno Maruti, membuat kita diam dan menyimak. Sebuah tari, dengan suatu lakon, memesona penonton mungkin tidak karena “lakon” yang dipentaskan, melainkan mungkin karena kualitas tarinya. Fokus kita pada gerak, yang merupakan duta dari rasa para penari bersangkutan. Kita menonton sebuah tarian dan sudah disuguhi tarian. Kita tak bertanya terlalu banyak tentang “lakon” yang dimainkan, dan bagaimana “lakon” itu menggetarkan kita.

Kalau kita bertanya agak terlalu jauh seperti ini, mungkin kita akan melebihi batas yang barangkali tak bisa dipertanyakan. Ketika kita menonton wayang orang dengan lakon yang sama, kita kecewa. Karena, wayang orang yang jauh lebih dekat dengan wayang kulit dibanding dunia tari, dalam lakon itu tak sedahsyat lakon wayang kulit. Ada distorsi psikologis yang jauh antara wayang kulit dan wayang orang. Abimanyu dalam wayang kulit memiliki karakter lebih kuat, lebih memesona dibanding tokoh yang sama di dalam wayang orang.

Susah- senang Abimanyu di dalam wayang kulit menjadi susah senang kita. Identifikasi atau pemihakan kita terhadap Abimanyu sangat kuat. Di wayang kulit tidak. Ketika Abimanyu gugur di dalam lakon wayang orang, dia gugur sebagai sosok satria yang tak ada hubungannya dengan kita. Dia gugur sebagai orang lain.

Kita tak terlalu terlibat ke dalam rasa sedih. Kita tak terlalu merasa kehilangan. Wayang kulit dan wayang orang yang begitu dekat pun terasa begitu jauh. Wayang orang tak bisa menampilkan Abimanyu dengan segenap karakter dan pesona sebagai satria agung yang membebaskan negeri dan rajanya dari musuh yang sudah begitu dekat.

***

Lakon Abimanyu gugur dalam tari? Mungkin tari adalah tari. Kita tak boleh menuntut mbak Retno terlalu banyak. Ketika garapan tarinya sudah tampil memesona, mungkin sudah cukup. Kita bisa mengharapkan agar kita tergetar dan turut bersedih atas gugurnya Abimanyu. Wayang orang pun gagal menampilkan pesona Abimanyu, sebagaimana bisa ditampilkan secara mendalam di dalam lakon wayang kulit.

Jadi tari, yang secara psikologis lebih jauh lagi dari lakon Abimanyu gugur dalam wayang kulit, sebagus apa pun garapannya, dia akan sulit memberi pesona kepahlawanan Abimanyu di dalamnya. Pesona keindahan tari itu mungkin sudah mencukupi.

Kelihatannya, di mata awam seperti saya, tari itu satu hal. Dan, lakon agaknya merupakan hal yang lain. Tari yang digarap dengan “sempurna” mungkin bisa mencapai “kesempurnaan” tari, tapi mungkin sedikit hampa kalau dilihat dari psikologi lakon yang dipentaskannya. []

KORAN SINDO, 19 Mei 2016
Mohamad Sobary | Esais, Anggota Pengurus Masyarakat Bangga Produk Indonesia, untuk Advokasi, Mediasi, dan Promosi. Penggemar Sirih dan Cengkih, buat Kesehatan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s