Tari dan Puisi dalam Kehidupan Sehari-hari

Oleh: Mohamad Sobary

Sebuah pentas tari diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Malang. Panggung didirikan, dengan dukungan karpet warna merah yang kelihatan meriah. Di depan panggung ada kursi-kursi untuk para hadirin.

Mayoritas mereka mahasiswa, anggota- anggota HMI tadi. Ada pula anggota-anggota Persatuan Mahasiswa Islam Indonesia, PMII. Sebagian hadirin lain warga masyarakat yang bukan bagian dari dua kelompok tersebut. Minggu sore, 24 April 2016, sekitar menjelang jam 17 acara kesenian itu dimulai.

Mereka menyebut acara itu ”culture nite”, malam kebudayaan. Sebetulnya lebih tepat malam kesenian. Diperlukan sebuah orasi kebudayaan. Saya hadir di sana demi kepentingan itu. Di atas panggung—kadang-kadang saya mendekat para hadirin yang duduk di kursi-kursi tadi —saya bicara mengenai tari dan puisi dalam kehidupan kita sehari-hari untuk membuat acara pentas tari itu menjadi lebih meriah.

Demi kepentingan acara itu, kita dapat membedakan dua kategori tari. Satu, tari yang dipentaskan dalam suatu ritual khusus, yang sudah menjadi sebuah tradisi. Biasanya pentas tari seperti ini ada hubungan dengan agama. Kita menyebutnya tari ritual atau tari tradisi. Tarian Srintil dalam Ronggeng Dukuh Paruk yang dipentaskan di pelataran makam Ki Seco Menggolo, leluhur desa mereka, bisa disebut tari ritual tersebut.

Di daerah-daerah perdesaan Jawa, tari ritual juga dipentaskan ketika di suatu desa diselenggarakan ritual tahunan yang disebut bersih desa atau merti desa. Biasanya diperlukan seorang penari khusus, yang sudah berpengalaman dan memahami syarat-syarat kelengkapan tradisi. Unsur rohaniah menonjol sekali dalam tarian ritual seperti ini.

Dan, ini memang lebih merupakan peristiwa rohaniah daripada peristiwa seni. Di dalam tradisi kaum sufi, terutama yang dapat kita baca dalam sejarah sufi besar, wali Allah, Jalaluddin Rumi, tari ritual itu agak lain. Kita tak bisa menyebutnya tari tradisi meskipun kita tahu sesuatu yang diulang-ulang secara konsisten dan terus-menerus itu tak bisa disebut lain selain tradisi. Apa yang dilakukan Rumi lebih khusus.

Selain buat dirinya sendiri, tari ritualnya tadi juga dimaksudkan sebagai pelajaran bagi para murid yang jumlahnya sangat besar. Tari di sini representasi dari doa, pujaan, dan zikir, yaitu mengingat Allah dalam cinta. Mereka menari berputar-putar. Ini tarian para Darwisy: sebuah pujaan tanpa kata-kata.

Dan, dalam proses memuja tanpa kata-kata itulah para sufi memasuki kefanaan, alam hampa, dan secara psikologis mereka mengalami ekstase yang indah. Pada momentum khusus, ketika suasana jiwa terasa begitu dekat dengan Allah, sering sekali Rumi tiba-tiba menari sendiri, dengan keindahan yang hanya bisa dipahami oleh mereka yang mengerti arti kedekatan dengan Allah.

Tapi, serentak, para murid pun segera mengikuti tarian sang guru suci. Dan, kolese (sekolah) Rumi tiba-tiba penuh dengan para penari. Kedua, tari dalam kehidupan sehari-hari. Memang tidak setiap hari kita menari. Tetapi, pengertian tari dalam kehidupan sehari-hari ini maksudnya tari biasa, tari yang tidak sakral, yang bukan kelengkapan dari suatu ritus pemujaan.

Tari seperti ini banyak jenis dan variasinya. Semua jenis tari yang dipanggungkan demi kepentingan seni kita sebut sebagai tari dalam kehidupan sehari-hari ini. Ini tari untuk tari, seni untuk seni. Konten lain dan kepentingan lain tidak ada. Selain itu, kata ”tari” dalam kehidupan sehari-hari itu juga di sini bukan dimaksudkan sebagai tari dalam arti kata sebenarnya, melainkan tari sebagai ungkapan metaforik. Misalnya makna tari perjuangan. Jelas di sini maksudnya bukan tari biasa yang sudah kita kenal. Tapi, tari di sini hanya menjelaskan lebih dalam kata perjuangan tersebut.

Di sini perlu digarisbawahi bahwa tari itu penting dan menonjol dalam kehidupan kita. Seolah hidup ini tidak lain dari tari. Agama memerlukan tari. Pemujaan memerlukan tari. Tradisi memerlukan tari. Tari menjadi begitu penting dalam banyak sisi hidup kita. Tari bukan sekadar tari. Ibu Kartini pernah dikutip sejarawan Prancis, Lombard, yang menulis Nusa Jawa itu.

Bagi Ibu Kartini, dalam hidup orang Jawa, semua hal berubah menjadi puisi. Cinta menjadi puisi. Agama, iman, berubah menjadi puisi. Dan, perjuangan menjadi puisi. Demikian penting puisi dalam hidup kita seperti begitu pentingnya tari. Tari dan puisi dengan begitu bukan sekadar tari, bukan sekadar puisi. Ketika perjuangan berubah menjadi puisi seperti disebut di atas, kita tahu bahwa puisi bukan sekadar puisi.

Tapi, puisi juga cermin hidup kita. Dalam puisi ada perjuangan kita. Dalam puisi makna kesejatian hidup kita dipahatkan. Puisi berubah menjadi perjuangan. Tapi, jangan salah, perjuangan juga berubah menjadi puisi. Ketika kita berdemo untuk melawan segenap ketidakadilan, bukankah kita berpuisi?

Ketika dalam terik matahari di tengah kerumunan orang banyak yang sedang menuntut keadilan, dan pihak penguasa yang kita tuntut diam membisu tak peduli akan kehadiran kita, bukankah kita tidak mengamuk, melainkan menyanyi? Bukankah nyanyian itu sebuah puisi? Sebuah kerumunan besar, sepuluh ribu petani tembakau Temanggung, pada suatu hari berkumpul bersama dan mengisap kretek yang dibuat dari tembakau yang ditanam di ladang- ladang mereka sendiri.

Itu bukan momentum biasa. Tak pernah sebelumnya ada momentum seperti itu. Itu gambaran sebuah puisi dalam hidup mereka, yang pada hari-hari itu, yaitu pada 2012 merupakan momentum kritis, dan meresahkan dalam hidup petani tembakau. Di sebuah lapangan yang hanya sekitar 2 kilometer jauhnya dari Kota Temanggung, petani seperti bertriwikrama.

Mereka tampil menjadi semacam raksasa yang siap mencaplok bumi ini. Tapi, mereka bukan raksasa jahat. Mereka hanya bernyanyi di panggung. Nyanyian itu puisi mereka. Itu puisi perjuangan yang lembut, penuh rasa damai, dan bukan bentuk sebuah amuk masa. Mereka berpidato. Dan, pidato demi pidato itu mencerminkan perjuangan mereka melawan kebijakan yang tak adil.

Seperti kata Ibu Kartini, bukankah perjuangan mereka itu sebuah puisi. Mahasiswa, para anggota HMI di Malang, menari. Dan, tari mereka pun berubah menjadi puisi. Sebuah puisi perjuangan. Para petani tembakau Temanggung berjuang dalam langgam puisi yang tak membakar desa, dan tak membuat kerusakan.

Mereka berpuisi secara anggun dan damai. Dan, tuntutan dalam perjuangan mereka mengusik penguasa, dan membuat mereka tak mudah tidur nyenyak. Tari dan puisi dalam kehidupan sehari-hari rupanya bukan sekadar tari, bukan sekadar puisi. Tari dan puisi itu jerit rakyat yang tak mau lagi tertindas. []

KORAN SINDO, 28 April 2016
Mohamad Sobary | Esais, Anggota Pengurus Masyarakat Bangga Produk Indonesia, untuk Advokasi, Mediasi, dan Promosi. Penggemar Sirih dan Cengkih, buat Kesehatan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s