Aku Punya Cinta

Oleh: Mohamad Sobary

MANUSIA punya cinta. Mungkin ada cinta pertama. Orang bilang cinta pertama itu suci. Dia lahir dari hati nurani. Mungkin tempatnya di lubuk hati yang terdalam.

Mungkin lubuk hati itu sebuah dunia tersendiri, yang tak terselami oleh panjangnya akal. Juga tidak oleh banyaknya aneka ragam pengalaman. Apalagi pengalaman manusia yang hanya dangkal. Pengalaman terdalam pun tak sampai sedalam lubuk hati—kadang kita menyebutnya hati nurani—yang menyimpan cinta suci tadi.

Di dalam cinta suci tak terdapat kalkulasi. Karena kalkulasi itu bikinan akal, sedangkan cinta suci bikinan hati. Buah hati. Dambaan hati. Mungkin cinta—juga cinta suci tadi—erat hubungannya dengan tragedi. Kelihatannya itu tidak mustahil.

Sebelum tragedi terjadi, cinta—biarpun sesuci salju yang belum tersentuh setitik pun debu— bawaannya membikin resah. Begitulah para seniman besar melukiskannya dalam novel, dalam puisi, dan juga drama, maupun film.

Romeo dan Juliet mungkin contoh klasik dan abadi. Tapi di negeri kita sendiri kisah macam itu tak kurang-kurangnya. Soalnya kita juga punya cinta. Seniman— juga seniman kita— sering menampilkan tragedi cinta itu sedemikian ekstrem, bisa berlebihan, dan menguras air mata pembaca novel atau puisi, penonton drama atau film. Dalam derita menanggung rindu, ibaratnya ”air diminum rasa duri, nasi dimakan rasa sekam”.

Begitu idiom kita jika menyangkut urusan cinta. Bukan hanya itu pula. Tak jarang cinta juga membuat kita merasa begitu melankolis, seperti dalam puisi Chairil Anwar, Cintaku Jauh di Pulau: Cintaku jauh di pulau/Gadis manis sekarang iseng sendiri/. Chairil rindu di mata, rindu di hati. Tabiat orang rindu, membuat apa yang jauh di mata menjadi begitu dekat di hati.

Tapi kedekatan tak identik dengan rasa tenteram. Dekat di hati tapi gelisah juga tak mustahil. Dalam cinta, Chairil juga bicara tentang kematian: Mengapa ajal memanggil dulu/Sebelum sempat berpeluk dengan cintaku/. Kemudian dia menutup puisinya dengan kelamnya kematian: Manisku jauh di pulau/ Kalau kumati, dia mati iseng sendiri//.

Orang bilang, cinta di dalam kategori ini umumnya lebih berarti pemilikan, bahkan penguasaan. Sumpah mengenai cinta sampai mati dan pesan untuk dikubur dalam satu liang buat dua jasad yang saling mencintai sebagaimana gambaran khas mengenai apa yang bisa disebut ”kisah kasih tak sampai” sangat digemari—dan menjadi sejenis mode—dalam ekspresi seni di kalangan kaum seniman zaman dulu.

Chairil Anwar tak termasuk kategori seniman zaman dulu. Maka kalau dia bicara perkara lain, dia begitu tegar: Aku ini binatang jalang/Dari kumpulannya terbuang/. Dan dia bukan hanya tak bicara tentang kematian. Sebaliknya, dia bahkan memproklamasikan: Kumau hidup seribu tahun lagi!

Dalam lagu cinta—gubahan Panbers—mungkin agak lain. Ada kesedihan, tapi tanpa kematian. Dia tegar: aku gagal kali ini/tanpa tangis dan duka/ hanya titik air mata dan senyum kehancuran/.

Kelihatannya ini hancur biasa, tapi sekali lagi, tak menyentuh kematian. Gagasan bahwa hidup ini layak—jauh lebih dari layak— untuk dipertahankan, tak pernah menghampiri kaum seniman klasik, yang jika cinta tak terwujud, hanya ada satu jalan pembebasan: mati.

Sangat remaja jiwanya. Rupanya, aku—manusia— punya cinta, tapi tak punya kebebasan. Cinta digambarkan bersebelahan dengan mati. Maka, bila terjadi kesalahan pada cinta tadi, bukan hidup dengan berbagai alternatif yang dimunculkan, melainkan kematian. Apakah cinta sejati yang tak sampai harus berujung kematian? Dalam kisah cinta yang lain, yang artinya pengabdian, atau penyerahan— dan bukan pemilikan atau penguasaan—cinta tampil dalam wajah yang begitu semringah. Hidup dipenuhi cinta. Kita tak memiliki.

Bahkan tak memiliki diri kita sendiri. Kita seperti tidak ada. Kita hanya ada untuk cinta. Kita tidur dalam alam cinta. Melek dalam dunia cinta. Duduk, berdiri, berjalan, berlari, tak pernah menawarkan makna lain selain bahwa kita duduk, berdiri, berjalan dan berlari dalam cinta yang diberkahi. Dan di sini tak disinggung apakah ini cinta pertama atau terakhir. Cinta ya cinta. Di dalamnya bukan hanya tak pernah ada kalkulasi, tapi ini lain: cinta berarti mengabdi.

Tak pernah ada pamrih. Tak pernah ada ”klaim” ini dan itu. Cinta ya cinta, seperti disebut tadi. Hidup untuk cinta. Jika ada balasan? Kita tak berharap. Kita di sini mewakili tokoh perempuan di dunia sufi: Rabiyah Al-Adawiyah. Dia memiliki ungkapan cinta yang dalam dan menggetarkan jiwa, ”Aku menyembah-Mu bukan karena takut neraka-Mu. Aku menyembah-Mu juga bukan karena berharap akan surga-Mu. Tapi aku menyembah-Mu karena aku memang harus menyembah-Mu.”

Mungkin inilah cinta yang memiliki semangat pembebasan. Cinta yang sama sekali tak terikat. Dan di dunia ini memang tak ada kekuatan yang mengikatnya. Surga-neraka bukan apa-apa, karena talinya tak bisa mengikat jiwa perempuan suci ini. ”Kalau Kau ingin memberiku tempat di neraka, berikan itu pada musuh-musuh-Mu. Kalau surga yang hendak Kau berikan padaku, berikan saja pada sahabat-sahabat-Mu. Dan aku? Engkau cukup bagiku.”

Bagaimana kita sekarang beragama? Mengapa kita tak meneladani kemuliaan cinta tokoh sufi ini? Mengapa ketika kita bersumpah dalam doa: kepada-Mu aku menyembah, tetapi sebenarnya kita menyembah politik dan segenap kepentingan politik kita?

Mengapa ketika kita bersumpah hanya kepada-Mu aku mohon pertolongan, tapi kita mohon pertolongan pada orang, sesama manusia, yang bisa menjanjikan posisi yang serba enak dan nyaman? Mengapa cinta kita tiba-tiba terasa begitu murah?

Mengapa kita bercinta sambil sekaligus mendengki? Mengapa kita bicara gerakan damai tapi di balik gerakan yang kasat mata ada agenda tersembunyi yang sama sekali tak berhubungan dengan cinta? Kita, tiap orang, bicara ”aku punya cinta”, tapi apa sebabnya hidup kita begitu gersang, penuh agenda kedengkian, penuh rencana mencelakai pihak lain?

Mengapa kita menutup akhir tahun bukan dengan cinta, bukan dengan keindahan yang bisa kita sebarkan pada sesama, dengan cara orang yang betulbetul punya cinta, melainkan sebaliknya: mengapa kita menghidupkan kedengkian? ”Aku punya cinta” seharusnya tak berarti lain, selain ”aku punya cinta” sebagaimana rasa dalam jiwa kita. []

Koran Sindo, 31 Desember 2016
Mohamad Sobary | Esais, Anggota Pengurus Masyarakat Bangga Produk Indonesia, untuk Advokasi, Mediasi, dan Promosi. Penggemar Sirih dan Cengkih, buat Kesehatan.

Ki Patih pun Punya Ambisi

Oleh: Mohamad Sobary

Dalam teater Jawa tradisional, yang bersumber pada sejarah Kerajaan Majapahit, disebutkan bahwa situasi politik mencemaskan. Kekuasaan raja putri, Dyah Ayu Kencanawungu, terancam. Jika Sri Baginda jatuh, Majapahit akan mengalami kekacauan. Dan, musuh akan bertahta menempati tahta raja putri itu. Tapi, Sri Baginda memperoleh jawaban meyakinkan.

Pada waktu bermeditasi terdengarlah sabda langit yang menyatakan bahwa bila Sri Baginda bisa menemukan seorang pemuda dari Desa Paluombo bernama Damarwulan, kerajaan akan tetap aman sentosa. Pemuda itulah yang bakal maju ke medan laga untuk mengusir musuh yang meniupkan ancaman menakutkan tadi.

Sri Baginda pun merasa lega. Diadakannya sidang darurat, terbatas, dan cepat. Hanya beberapa tokoh penting diundang. Intinya, Sri Baginda menjatuhkan perintah kepada Ki Patih Logender untuk segera menemukan pemuda desa tersebut.

”Carilah dan bawa menghadap kepadaku,” perintah Sri Ratu.

”Duh sesembahanku. Di mana hamba mencarinya? Di seluruh wilayah Kerajaan Majapahit tidak ada anak muda seperti itu,” jawab Ki Patih.

”Anak muda itu bahkan sudah ada di Istana Kepatihan,” sabda Sri Ratu lagi dengan sikap tegas.

”Sri Ratu sesembahanku yang aku muliakan. Di Kepatihan tidak ada anak itu. Yang ada kedua anakku sendiri, Seta dan Kumitir, dua anak muda perkasa yang bakal mampu menghadapi musuh kerajaan. Apakah dua anakku itu yang dikehendaki Sri Ratu?”

Ki Patih bertanya begitu karena Sri Ratu bersabda bahwa anak muda dari desa itu bakal menang menghadapi musuh dan dia bakal memperoleh hadiah sangat besar: duduk di tahta Majapahit dan memperistri Sri Ratu.

Inilah yang membuat Ki Patih gelap mata. Ambisinya meluap-luap tak terbendung lagi. Pemuda desa yang sebenarnya sudah ada di Kepatihan dan sudah menjadi suami putrinya, Anjasmara Arimami, dianggap tidak ada. Dia tak rela membiarkan kesempatan besar ini jatuh pada menantunya.

Ki Patih sudah merancang angan-angan agar dua anaknya itu yang berhak menerima hadiah luar biasa istimewa tadi. ”Aku tak menghendaki anak-anakmu. Pemuda desa yang namanya Damarwulan atau Damar Sasangka itu yang kucari. Dialah yang mampu mengatasi kemelut di dalam Kerajaan Majapahit.”

”Tetapi, anak itu tidak…”

”Ki Patih…” Sri Ratu memotong ucapan Patihnya dengan wajah merah padam. ”Aku perintahkan padamu. Cari pemuda itu. Atau, kau kupecat dari jabatanmu?”

Tanpa bisa berkutik lagi, Ki Patih akhirnya bersedia membawa Damar Wulan menghadap Sri Baginda. Ringkas cerita, Damar Wulan dipercaya memimpin suatu pasukan kecil, tapi terpilih untuk memasuki kerajaan musuh, Minakjingga di Belambangan, dengan diam-diam.

Digambarkan, Damar Wulan menantang Minakjingga berperang tanding. Dan, pemuda itu menang.

Masih ada akal licik Ki Patih untuk merebut kemenangan Damar Wulan itu agar dianggap sebagai kemenangan kedua putranya. Inilah Ki Patih untuk menguasai kerajaan.

Tapi, mungkin lebih baik kisah keculasan Ki Patih ini diakhiri di sini dengan satu catatan: meskipun seseorang sudah menduduki jabatan tinggi, selama ada jabatan lain yang lebih tinggi lagi, orang itu tak akan pernah bisa merasa puas. Jabatan lebih tinggi tetap lebih menarik.

Pangkat, jabatan, dan singgasana selalu memiliki pesonanya sendiri. Pesona itu memancarkan cahaya menyilaukan yang menggoda dan merangsang ambisi yang mungkin tak terbatas. Untuk memenuhi ambisi seperti itu, orang rela menipu. Ini pengkhianatan terhadap kebenaran. Tapi, apa salahnya berkhianat demi suatu jabatan, atau kedudukan, atau singgasana yang memancarkan cahaya kewibawaan dan keagungan?

Untuk menjadi orang ternama, dengan kedudukan tinggi, bahkan yang tertinggi, menipu, dan berkhianat itu perkara kecil. Demi posisi seperti itu, orang bahkan rela menikam teman seiring. Untuk memenuhi ambisinya, orang rela membunuh, sambil tersenyum, siapa pun yang harus dibunuh.

Pengkhianatan dalam politik dulu pun sudah terasa canggih. Apa yang ditempuh Ki Patih terasa seperti kekejaman yang tak bisa ditemukan bandingannya. Kita ngeri menyaksikan drama dalam politik kerajaan yang ditampilkan di dalam teater Jawa tradisional.

Drama modern, di dalam sistem politik modern, yang mengadopsi tata pemerintahan demokratis, akal-akalan, tipu menipu yang terlalu transparan untuk dilihat orang banyak, mengapa masih terjadi? Manusia modern, dalam peradaban modern, yang menjunjung tinggi sikap demokratis, ternyata bisa bertindak lebih mengerikan.

Justru dalih demokratis itu yang dimainkan. Orang mudah berdalil: kita hidup demokratis. Siapa saja berhak melakukan tindakan politik selama tindakannya demokratis. Ini dijamin konstitusi. Patih modern, dalam jabatan modern, juga bisa bertindak seperti Ki Patih Logender. Sikapnya lembut, licin, tak terdeteksi.

Pada zaman modern, zaman penuh pergerakan massa, penuh demo yang membiarkan kekuatan massa bergerak ke mana-mana, orang mudah bersembunyi. Apalagi, kekuatan massa itu terdiri atas berbagai golongan. Dan, di antara banyak golongan itu ada golongan kita sendiri. Mereka kita fasilitasi dengan baik. Mereka kita tata dengan tertitip. Mereka juga kita pesan agar tak menyebut nama kita, identitas kita, dan segenap ambisi yang kita miliki.

Dengan sedikit suntikan semangat ideologis, anak-anak itu akan taat pada kita. Mereka bahkan kagum pada kita. Sedikit uang, sedikit ideologi, sedikit kebohongan, siapa bisa mengetahuinya?

Menipu tidak dianggap nista. Berbohong dianggap lumrah. Menyimpangkan keluhuran nilai-nilai seperti ini tak mungkin ada yang tahu. Orang tak sempat memikirkannya secara kritis apa yang sebenarnya terjadi. Mereka mudah diajak keliru.

Dalam situasi seperti itu, Ki Patih duduk nyaman, minum teh, susu atau kopi, atau cokelat, di ruang sejuk dan megah, dengan perasaan lega. Dia memperhatikan dengan rasa puas layar televisi, yang merasa sedang menyiarkan realitas.

Tampaknya siaran itu tak menyadari bahwa realitas tak pernah tunggal. Tafsir realitas tak pernah menyajikan hanya satu makna. Kebenaran di lapangan telah dimanipulasi. Orang media tak terlalu menyadarinya? Mereka tak memahami ada manipulasi?

Tahu atau tidak, menyadari atau tidak, Ki Patih sudah puas. Dengan gigi emas yang gemerlap seperti gigi pedagang beras di pasar induk, dia tersenyum. Dia berbisik dalam hati: dunia ini penuh manipulasi. Gerakan massa bisa dimanipulasi. Jiwa manusia bisa dimanipulasi.

Dia pernah melakukan manipulasi. Kini dia mengulanginya. Dan, kelak akan mengulangi dan mengulangi terus-menerus karena Ki Patih pun punya ambisi yang harus dipenuhi. []

KORAN SINDO, 3 Desember 2016
Mohamad Sobary | Esais, Anggota Pengurus Masyarakat Bangga Produk Indonesia, untuk Advokasi, Mediasi, dan Promosi. Penggemar Sirih dan Cengkih, buat Kesehatan

Sri Warso Melukis Keresahan Zaman

Oleh: Mohamad Sobary

Inspirasi yang hadir dan mungkin mendesak-desak–jiwa Sri Warso beberapa tahun terakhir ini berhubungan dengan fenomena alam yang disebutnya rampogan. Dalam kesadaran kosmologis orang Jawa, rampogan sering dipahami sebagai gejala luar: sebuah peristiwa. Mungkin rampogan diidentikkan dengan ”huru-hara”, suatu kekacauan dalam tata kehidupan yang mengerikan, dan karena itu kita hindari.

Tapi, pelukis yang sensitif membaca gelagat alam dengan tajam ini memiliki penjelasan yang lebih dalam, lebih komprehensif. Dia menyebutkan bahwa rampogan merupakan fenomena alam raya, yang muncul ketika kehidupan suatu makhluk terganggu, terancam, dirongrong, dan ada serangan yang mengguncang harmoni jagat raya ini. Tapi, Sri Warso– saya memanggilnya Mas Sri– juga mengatakan bahwa rampogan bisa pula muncul karena suatu peristiwa sosial-budaya yang bisa merusak keseimbangan hidup. Dan, kita hidup dalam suatu zaman yang serba resah.

Dengan penalaran seperti itu, kita bisa pula menyebut rampogan sebagai sebuah ”goro-goro”: udan barat salah mangsa, deres awor lesus pinda pinusus, gunung jugrug, tirtaning samodra mengambak-ambak yayah ngelem daratan… hujan beserta badai yang terjadi bukan pada musimnya, deras bagai angin topan, gunung-gunung longsor, air laut bergejolak bagai hendak menelan daratan. Kahyangan para dewa pun terguncang.

Kawah candradimuka mendidih dengan panas melebihi ukuran biasanya. Para bidadari kelabakan lari ke sana ke mari setengah telanjang karena panas tadi. Tapi, sang Hyang Wenang, dewanya para dewa, segera mengamankan kembali keadaan.

Dalam perspektif ini rampogan lebih mengerikan daripada sekadar sebuah huru-hara seperti ketika Jakarta dibuat menjadi lautan api pada Mei yang mengawali munculnya zaman baru: reformasi yang masih tetap membuat kita resah. Gejolak ini pula yang memberi Mas Sri suatu rangsangan kreatif. Dia merenung. Mengendapkan dengan proses hening yang diam. Menerjemahkan, dan kemudian mengolah rangsangan–bisa disebut pula inspirasi– tadi menjadi seonggok kreasi. Ini hasil daya cipta.

Inilah rampogan itu. Tapi, apa wujud rampogan ? Daya cipta Mas Sri atas makna rampogan rupanya tak pernah tunggal. Banyak variasi bisa diwujudkannya. Dan, yang banyak itu tak berarti representasi gagasan yang menghuni dunia dalamnya sudah selesai sebagaimana kita saksikan dalam karya-karyanya.

Zaman yang resah telah membuatnya turut resah secara intens. Resahnya seniman menghasilkan karya edipeni, bisa juga adiluhung. Dan, puaskah dia? Jika seniman itu Mas Sri, jawabnya belum–dunia dalamnya–ceruk yang mungkin gelap dan tak teraba oleh kemampuan imajinasi kita itu agaknya menyimpan banyak keresahan. Ketika zaman makin resah, dia ikut resah. Dan, melahirkan karya, yang mungkin bisa disebut ”terjemahan” keresahan zaman tadi.

Di sini Mas Sri menjadikan dirinya ”kamera” zaman. Boleh jadi pula dia mewakili kita yang tak begitu tahu apa arti keresahan kita. Dan, Mas Sri menjelaskan: keresahanmu itu rampogan. Dan, keresahan sesudahnya? Juga rampogan. Tiap keresahan zaman melahirkan rampogan.

Ini mungkin proses dialektis yang bergolak di dalam jiwanya. Dan, mungkin tak berlebihan bila koreografer Sardono Kusumo–menurut penuturan Mas Sri sendiri–pernah mengatakan: kau ini pandai menafsirkan realitas dan mengekspresikannya ke dalam lukisanmu.

Seniman mengejek seniman lain mungkin biasa. Tapi, ketika seniman memuji seniman lain, kita bisa menerka, mungkin dia terpesona, mungkin aspirasinya terwakili, mungkin dia sendiri merasakan keresahan yang sama dan belum mengungkapkannya ke dalam suatu karya. Sekali lagi, seniman mengejek seniman lain itu biasa, tapi seniman memuji seniman lain mungkin istimewa.

Pujian macam itu boleh jadi keluar dari ceruk yang dalam tadi. Dan, untuk sesama seniman yang sudah memahami apa arti sebuah karya seni, ini bisa dicatat sebagai pujian yang diberikan karena yang dipuji memang layak menerimanya.

Di Bentara Budaya dua minggu lalu itu saya menatap salah satu rampogan Mas Sri seperti terpaku di bumi: diam, tak bergerak, tak bersuara. Apakah ini namanya? Mungkin pesona. Gerhana bulan. Anjing, mungkin serigala, begitu liar memandang bulan yang kelam. Kita tahu hewan itu tampak begitu liar. Dia tampaknya kegelisahan. Mungkin berahi. Ular ”njengek”, mengangkat kepala ke atas, bukan hanya ingin tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi. Tapi, mungkin hewan melata itu merasa terancam. Gajah menengadah, seperti sedang marah.

Alam kelihatannya sedang tidak ramah. Tampak sepotong wajah seorang laki-laki membara, matanya membelalak. Di bagian lain, tampak sesosok tubuh perempuan telanjang seperti terserang berahi dadakan. Bagi alam, hewan, serigala, dan perempuan tadi, manusia, sama belaka. Pada saat yang sama, mereka berahi oleh rangsangan yang sama, tapi mungkin tak mereka pahami.

Mereka boleh jadi berahi karena ”goro-goro” yang mengguncang, mengancam, dan membikin begitu banyak makhluk kalang kabut. Mungkin baik dicatat di sini bahwa yang dikatakan Mas Sri tentang rampogan yang bisa juga muncul atas suatu peristiwa sosial-budaya tadi, kelihatannya tak begitu tepat. Peristiwa sosial-budaya itu biasanya lunak. Suatu fenomena yang disebut ”gejolak sosial” itu bukan peristiwa sosial, tetapi lebih merupakan peristiwa politik. Dengan begitu rampogan muncul karena suatu ketegangan politik dan gejolak politik yang membara.

Jika gejolak itu tampil dalam wajah demonstrasi, sekarang sudah lazim muncul demonstrasi tandingan. Benturan rampogan putih dengan rampogan hitam terjadi. Kekerasan berbenturan dengan kekerasan. Dan, dalam rampogan hitam, para bandit sosial dan segenap ”bajingan” nyaru, seolah dirinya bagian dari kerumunan tadi. Mereka nyatu dalam barisan, tapi tak nyatu dalam jiwa. Itu sebabnya sebuah rampogan hitam muncul.

Rampogan memang lahir dari kekerasan politik dan segenap keserakahan serta watak ambisius orang-orang yang lihai mengendalikan kekuatan massa untuk dibenturkan. Dalam dunia modern yang materialistik ini, rampogan putih tak bisa sepenuhnya dianggap berjiwa putih. Tapi, rampogan hitam, biarlah kita sebut hitam. Di sini ibaratnya golongan hitam bertarung dengan golongan putih yang memang tak mungkin disatukan.

Rampogan yang memesona Mas Sri, dan membuatnya tekun melukiskannya, jelas kiranya lahir dari kanvas besar tatanan politik yang resah dan menebarkan keresahan zaman yang berkepanjangan. Di dalam dunia seni lukis, Mas Sri masternya. Di dalam sejarah sosial, yang penuh gejolak, dan diwarnai perbanditan sosial dan tampilnya para jagoan dan para bajingan, ini wilayah ”kekuasaan”; sejarawan Sartono Kartodirdjo yang masyhur itu. Sejarawan itu memelopori lahirnya aliran baru yang disebut sejarah sosial yang ditandai dengan zaman yang penuh keresahan itu. Mas Sri melukis keresahan zaman itu dalam kanvas lukisannya, dan mengabadikannya di sana. []

Koran SINDO, 24 September 2016
Mohamad Sobary | Esais, Anggota Pengurus Masyarakat Bangga Produk Indonesia, untuk Advokasi, Mediasi, dan Promosi

Tari dan Lakon

Oleh: Mohamad Sobary

Pesta seni tahunan di Institut Seni Indonesia Surakarta akhir bulan lalu menampilkan tema pokok: Menyemai Rasa Semesta Raga.

Pesta itu berupa menari selama 24 jam, dua hari, berturut- turut tanpa henti. Kelompok seni tari dari Institut Seni di berbagai daerah turut ambil bagian. Kekayaan seni tari seluruh Nusantara— itu pun kelihatannya belum mewakili semua kelompok yang ada—membuat suasana pesta menjadi begitu meriah. Dalam acara tahunan, yang kini sudah memasuki tahun ke- 10 itu, penampilan tiap kelompok tidak dimaksudkan untuk mencari juara satu.

Tiap kelompok hadir hanya untuk menampilkan suasana nasional yang “guyub”, rukun, dan berkesenian secara semarak. Seni membuat hidup terasa lembut, feminin, dan ramah. Berbagai kelompok yang hadir dari seluruh pelosok Tanah Air itu hadir karena masing-masing merasa perlu untuk hadir. Beberapa kelompok yang bersemangat sudah memesan tempat penginapan hampir setahun sebelum acara berlangsung. Pesta besar itu membuat tempat menjadi benda ekonomi yang mahal.

Mereka yang terampil mengantisipasi keadaan bisa memperoleh tempat yang mereka inginkan di lingkungan kampus: posisi strategis, dekat pusat kegiatan, tanpa transportasi tambahan, murah dan leluasa untuk memilih acara mana, atau agenda apa untuk diikuti. Acara 24 jam menari itu berarti dalam 24 jam itu para seniman menciptakan kelembutan, dan suasana kejiwaan yang “ning “, “tintrim“, dan damai.

Di kampus itu tak terdengar teriakan, makian, atau kejengkelan seperti di dalam suatu keramaian politik. Iringan lembut suara gamelan membikin jenis garis bawah yang menandai kelembutan ekspresi kejiwaan yang dalam, yang diolah dengan tertib, dengan dukungan gerak raga yang teratur, berpola, dan estetis. Inilah mungkin yang diungkapkan dalam tema: Menyemai Rasa Semesta Raga yang sudah disebut di atas. Raga itu utusan rasa. Raga hanya “manut “, dan taat pada dorongan gerak yang diperintahkan rasa.

Gerak itu dari waktu ke waktu kelihatannya “itu-itu” saja, statis dan pakem. Tapi, sebenarnya mungkin tidak. Demi kebutuhan estetika dan kematangan jiwa seorang penari maka gerak memperoleh kemungkinan untuk berkembang. Kreativitas seni membuat gerak menjadi bukan hanya dinamis, tapi penuh pemaknaan.

***

Sebenarnya gerak itu urusan rasa.

Seorang penari, termasuk yang sudah matang, ketika hatinya sedang “rongeh “, tak kerukeruan, tak mungkin bisa menghasilkan gerak estetis, dan penuh makna rasa mendalam. Di atas panggung dia akan kehilangan fokus karena kehilangan “komando”. Geraknya akan menjadi ibarat guratan- guratan tak jelas dalam suatu lukisan, karya pelukis yang gagal menyatukan dirinya dengan jiwa obyek yang dilukisnya.

Di dunia tari seorang maestro dan yang bukan maestro bisa saja menarikan suatu tema yang sama di atas panggung. Secara umum tarian mereka seperti sama saja di mata penonton awam seperti saya. Tetapi, penghayatan dan pemaknaan mereka atas tema tari tersebut jelas tidak sama. Kemampuan menukik ke “kedalaman” membedakan satu tari dari tari lainnya. Di malam penutupan acara dua hari di Institut Seni Surakarta bulan lalu itu ditampilkan tari dengan lakon Abimanyu Gugur. Mbak Retno Maruti, maestro besar dunia tari kita, mengolah tari itu didukung sejumlah besar penari ternama, yang membuat lakon tersebut tampil dengan pesona.

Kelembutan gerak, sekalipun dalam sebuah perang, ditata dengan baik. Tampak Abimanyu diwisuda sebagai senapati negeri Amarta, kemudian maju perang dan mengamuk. Satria muda remaja itu membikin bobol pertahanan pasukan Kurawa dan membunuh sangat banyak prajurit musuh. Pada mulanya, barisan musuh ibaratnya hanya tinggal selangkah memasuki “Pakuwon” Randu Watangan dan menangkap Raja Puntadewa dengan mudahnya.

Sesudah Raja itu tertangkap, perang dianggap berakhir, dan Kurawa akan dengan sendirinya keluar sebagai pemenang. Tetapi, tanpa diduga- duga, tiba-tiba Abimanyu mengamuk di peperangan, dan menerjang semua lawan. Pasukan Kurawa tak berdaya menghentikan amuk Abimanyu. Barisan musuh rusak, dan musuh dihalau jauh dari “Pakuwon” tempat pertahanan Raja Puntadewa.

Tapi, sebaiknya perang itu kita singkat hingga di sini. Intinya, Abimanyu yang gagah perkasa itu bisa dikalahkan musuh karena musuh bersatu mengeroyok satria yang hanya seorang diri itu. Mandi panah dan pukulan gada yang bertubi-tubi membuat satria itu gugur. Balas dendam Arjuna, ayah Abimanyu, tak usah dikisahkan lebih lanjut di sini. Dan, kita kembali pada pertunjukan tari malam itu.

Tari yang digarap dengan tangan ahli seorang maestro, Retno Maruti, membuat kita diam dan menyimak. Sebuah tari, dengan suatu lakon, memesona penonton mungkin tidak karena “lakon” yang dipentaskan, melainkan mungkin karena kualitas tarinya. Fokus kita pada gerak, yang merupakan duta dari rasa para penari bersangkutan. Kita menonton sebuah tarian dan sudah disuguhi tarian. Kita tak bertanya terlalu banyak tentang “lakon” yang dimainkan, dan bagaimana “lakon” itu menggetarkan kita.

Kalau kita bertanya agak terlalu jauh seperti ini, mungkin kita akan melebihi batas yang barangkali tak bisa dipertanyakan. Ketika kita menonton wayang orang dengan lakon yang sama, kita kecewa. Karena, wayang orang yang jauh lebih dekat dengan wayang kulit dibanding dunia tari, dalam lakon itu tak sedahsyat lakon wayang kulit. Ada distorsi psikologis yang jauh antara wayang kulit dan wayang orang. Abimanyu dalam wayang kulit memiliki karakter lebih kuat, lebih memesona dibanding tokoh yang sama di dalam wayang orang.

Susah- senang Abimanyu di dalam wayang kulit menjadi susah senang kita. Identifikasi atau pemihakan kita terhadap Abimanyu sangat kuat. Di wayang kulit tidak. Ketika Abimanyu gugur di dalam lakon wayang orang, dia gugur sebagai sosok satria yang tak ada hubungannya dengan kita. Dia gugur sebagai orang lain.

Kita tak terlalu terlibat ke dalam rasa sedih. Kita tak terlalu merasa kehilangan. Wayang kulit dan wayang orang yang begitu dekat pun terasa begitu jauh. Wayang orang tak bisa menampilkan Abimanyu dengan segenap karakter dan pesona sebagai satria agung yang membebaskan negeri dan rajanya dari musuh yang sudah begitu dekat.

***

Lakon Abimanyu gugur dalam tari? Mungkin tari adalah tari. Kita tak boleh menuntut mbak Retno terlalu banyak. Ketika garapan tarinya sudah tampil memesona, mungkin sudah cukup. Kita bisa mengharapkan agar kita tergetar dan turut bersedih atas gugurnya Abimanyu. Wayang orang pun gagal menampilkan pesona Abimanyu, sebagaimana bisa ditampilkan secara mendalam di dalam lakon wayang kulit.

Jadi tari, yang secara psikologis lebih jauh lagi dari lakon Abimanyu gugur dalam wayang kulit, sebagus apa pun garapannya, dia akan sulit memberi pesona kepahlawanan Abimanyu di dalamnya. Pesona keindahan tari itu mungkin sudah mencukupi.

Kelihatannya, di mata awam seperti saya, tari itu satu hal. Dan, lakon agaknya merupakan hal yang lain. Tari yang digarap dengan “sempurna” mungkin bisa mencapai “kesempurnaan” tari, tapi mungkin sedikit hampa kalau dilihat dari psikologi lakon yang dipentaskannya. []

KORAN SINDO, 19 Mei 2016
Mohamad Sobary | Esais, Anggota Pengurus Masyarakat Bangga Produk Indonesia, untuk Advokasi, Mediasi, dan Promosi. Penggemar Sirih dan Cengkih, buat Kesehatan.

Tari dan Puisi dalam Kehidupan Sehari-hari

Oleh: Mohamad Sobary

Sebuah pentas tari diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Malang. Panggung didirikan, dengan dukungan karpet warna merah yang kelihatan meriah. Di depan panggung ada kursi-kursi untuk para hadirin.

Mayoritas mereka mahasiswa, anggota- anggota HMI tadi. Ada pula anggota-anggota Persatuan Mahasiswa Islam Indonesia, PMII. Sebagian hadirin lain warga masyarakat yang bukan bagian dari dua kelompok tersebut. Minggu sore, 24 April 2016, sekitar menjelang jam 17 acara kesenian itu dimulai.

Mereka menyebut acara itu ”culture nite”, malam kebudayaan. Sebetulnya lebih tepat malam kesenian. Diperlukan sebuah orasi kebudayaan. Saya hadir di sana demi kepentingan itu. Di atas panggung—kadang-kadang saya mendekat para hadirin yang duduk di kursi-kursi tadi —saya bicara mengenai tari dan puisi dalam kehidupan kita sehari-hari untuk membuat acara pentas tari itu menjadi lebih meriah.

Demi kepentingan acara itu, kita dapat membedakan dua kategori tari. Satu, tari yang dipentaskan dalam suatu ritual khusus, yang sudah menjadi sebuah tradisi. Biasanya pentas tari seperti ini ada hubungan dengan agama. Kita menyebutnya tari ritual atau tari tradisi. Tarian Srintil dalam Ronggeng Dukuh Paruk yang dipentaskan di pelataran makam Ki Seco Menggolo, leluhur desa mereka, bisa disebut tari ritual tersebut.

Di daerah-daerah perdesaan Jawa, tari ritual juga dipentaskan ketika di suatu desa diselenggarakan ritual tahunan yang disebut bersih desa atau merti desa. Biasanya diperlukan seorang penari khusus, yang sudah berpengalaman dan memahami syarat-syarat kelengkapan tradisi. Unsur rohaniah menonjol sekali dalam tarian ritual seperti ini.

Dan, ini memang lebih merupakan peristiwa rohaniah daripada peristiwa seni. Di dalam tradisi kaum sufi, terutama yang dapat kita baca dalam sejarah sufi besar, wali Allah, Jalaluddin Rumi, tari ritual itu agak lain. Kita tak bisa menyebutnya tari tradisi meskipun kita tahu sesuatu yang diulang-ulang secara konsisten dan terus-menerus itu tak bisa disebut lain selain tradisi. Apa yang dilakukan Rumi lebih khusus.

Selain buat dirinya sendiri, tari ritualnya tadi juga dimaksudkan sebagai pelajaran bagi para murid yang jumlahnya sangat besar. Tari di sini representasi dari doa, pujaan, dan zikir, yaitu mengingat Allah dalam cinta. Mereka menari berputar-putar. Ini tarian para Darwisy: sebuah pujaan tanpa kata-kata.

Dan, dalam proses memuja tanpa kata-kata itulah para sufi memasuki kefanaan, alam hampa, dan secara psikologis mereka mengalami ekstase yang indah. Pada momentum khusus, ketika suasana jiwa terasa begitu dekat dengan Allah, sering sekali Rumi tiba-tiba menari sendiri, dengan keindahan yang hanya bisa dipahami oleh mereka yang mengerti arti kedekatan dengan Allah.

Tapi, serentak, para murid pun segera mengikuti tarian sang guru suci. Dan, kolese (sekolah) Rumi tiba-tiba penuh dengan para penari. Kedua, tari dalam kehidupan sehari-hari. Memang tidak setiap hari kita menari. Tetapi, pengertian tari dalam kehidupan sehari-hari ini maksudnya tari biasa, tari yang tidak sakral, yang bukan kelengkapan dari suatu ritus pemujaan.

Tari seperti ini banyak jenis dan variasinya. Semua jenis tari yang dipanggungkan demi kepentingan seni kita sebut sebagai tari dalam kehidupan sehari-hari ini. Ini tari untuk tari, seni untuk seni. Konten lain dan kepentingan lain tidak ada. Selain itu, kata ”tari” dalam kehidupan sehari-hari itu juga di sini bukan dimaksudkan sebagai tari dalam arti kata sebenarnya, melainkan tari sebagai ungkapan metaforik. Misalnya makna tari perjuangan. Jelas di sini maksudnya bukan tari biasa yang sudah kita kenal. Tapi, tari di sini hanya menjelaskan lebih dalam kata perjuangan tersebut.

Di sini perlu digarisbawahi bahwa tari itu penting dan menonjol dalam kehidupan kita. Seolah hidup ini tidak lain dari tari. Agama memerlukan tari. Pemujaan memerlukan tari. Tradisi memerlukan tari. Tari menjadi begitu penting dalam banyak sisi hidup kita. Tari bukan sekadar tari. Ibu Kartini pernah dikutip sejarawan Prancis, Lombard, yang menulis Nusa Jawa itu.

Bagi Ibu Kartini, dalam hidup orang Jawa, semua hal berubah menjadi puisi. Cinta menjadi puisi. Agama, iman, berubah menjadi puisi. Dan, perjuangan menjadi puisi. Demikian penting puisi dalam hidup kita seperti begitu pentingnya tari. Tari dan puisi dengan begitu bukan sekadar tari, bukan sekadar puisi. Ketika perjuangan berubah menjadi puisi seperti disebut di atas, kita tahu bahwa puisi bukan sekadar puisi.

Tapi, puisi juga cermin hidup kita. Dalam puisi ada perjuangan kita. Dalam puisi makna kesejatian hidup kita dipahatkan. Puisi berubah menjadi perjuangan. Tapi, jangan salah, perjuangan juga berubah menjadi puisi. Ketika kita berdemo untuk melawan segenap ketidakadilan, bukankah kita berpuisi?

Ketika dalam terik matahari di tengah kerumunan orang banyak yang sedang menuntut keadilan, dan pihak penguasa yang kita tuntut diam membisu tak peduli akan kehadiran kita, bukankah kita tidak mengamuk, melainkan menyanyi? Bukankah nyanyian itu sebuah puisi? Sebuah kerumunan besar, sepuluh ribu petani tembakau Temanggung, pada suatu hari berkumpul bersama dan mengisap kretek yang dibuat dari tembakau yang ditanam di ladang- ladang mereka sendiri.

Itu bukan momentum biasa. Tak pernah sebelumnya ada momentum seperti itu. Itu gambaran sebuah puisi dalam hidup mereka, yang pada hari-hari itu, yaitu pada 2012 merupakan momentum kritis, dan meresahkan dalam hidup petani tembakau. Di sebuah lapangan yang hanya sekitar 2 kilometer jauhnya dari Kota Temanggung, petani seperti bertriwikrama.

Mereka tampil menjadi semacam raksasa yang siap mencaplok bumi ini. Tapi, mereka bukan raksasa jahat. Mereka hanya bernyanyi di panggung. Nyanyian itu puisi mereka. Itu puisi perjuangan yang lembut, penuh rasa damai, dan bukan bentuk sebuah amuk masa. Mereka berpidato. Dan, pidato demi pidato itu mencerminkan perjuangan mereka melawan kebijakan yang tak adil.

Seperti kata Ibu Kartini, bukankah perjuangan mereka itu sebuah puisi. Mahasiswa, para anggota HMI di Malang, menari. Dan, tari mereka pun berubah menjadi puisi. Sebuah puisi perjuangan. Para petani tembakau Temanggung berjuang dalam langgam puisi yang tak membakar desa, dan tak membuat kerusakan.

Mereka berpuisi secara anggun dan damai. Dan, tuntutan dalam perjuangan mereka mengusik penguasa, dan membuat mereka tak mudah tidur nyenyak. Tari dan puisi dalam kehidupan sehari-hari rupanya bukan sekadar tari, bukan sekadar puisi. Tari dan puisi itu jerit rakyat yang tak mau lagi tertindas. []

KORAN SINDO, 28 April 2016
Mohamad Sobary | Esais, Anggota Pengurus Masyarakat Bangga Produk Indonesia, untuk Advokasi, Mediasi, dan Promosi. Penggemar Sirih dan Cengkih, buat Kesehatan

Ludruk dan Kontekstualisasi Dongeng

Sumber Tulisan : Disini

“Ludruk” dan “Ketoprak Mataram” satu sama lain memiliki persinggungan yang intim. Keduanya teater tradisional. Keduanya dimainkan tanpa teks, namun bukannya zonder cerita. Dialog-dialognya mempesona, kontekstual dan tajam. Ungkapan-ungkapannya bergelimang karakter dan kelakar segar.

Bintang di dalamnya sungguhlah bintang profesional kendati tampilan kesehariannya amat bersahaja. Di atas panggung mereka bolehlah kinclong-gemerlap. Namun, sesudah lakon berakhir, mereka undur ke dunia nyata, dunia keseharian rakyat biasa — bandingkan dengan artis ibukota, apalagi Hollywood.

Kita tahu ludruk bermain dengan dongeng-dongeng atau cerita rakyat, gambaran dari kehidupan di lapis bawah masyarakat, Ketoprak Mataram justru sebaliknya. Kesenian ini lebih sering — dan selalu lebih bagus — menampilkan kehidupan keraton, representasi dari kehidupan kaum bangsawan luhur. Kalau ketoprak memainkan dongeng atau cerita rakyat, acapkali para bintangnya kehilangan pesona. Tapi tidak bagi ludruk. Disitulah memang letak kompetensinya. Ludruk itu wakil rakyat, dan para bintangnya pun rakyat. Apa yang bikin kaget pemain dongeng dan cerita rakyat, yang manakala di panggung mereka pethakilan secara bersahaja, dan lantas bersahaja lagi ketika sudah di luar panggung?

Teater Jawa Timuran ini dalam arti tertentu pada hakikatnya lebih merupakan bagian dari rakyat. Sedangkan teater Jawa Tengahan ini menempatkan apa boleh buat rakyat biasa dalam posisi raja, permaisuri, pangeran, patih, adipati, hingga panglima. Di sana para pelakonnya, dalam semalam, merambahi mobilitas vertikal yang tajam. Dalam mobilitas itu mereka menempati peran-peran yang mustahil diraih dalam kehidupan di keesokan paginya, yakni tatkala mereka kembali ke dalam realitas ke-rakyat-an yang kontras — laksana bumi dengan langit — dibandingkan lakon-lakon yang diperankan.

Kedua jenis kesenian ini menuntut kreativitas yang lumayan tinggi. Dan ludruk, tampaknya, menuntut lebih tinggi lagi. Ludruk dituntut untuk mampu memancarkan daya tarik lebih memukau bila sebuah lakon selalu dinterpretasi-ulang sesuai konteks zaman. “Tukang” yang menciptakan tafsiran baru ini sudah barang tentu harus kaya akan sumber-sumber cerita, kaya bacaan, luas pergaulan, dan selalu — tanpa henti — menyerap local wisdom yang berkembang di masyarakat.

Kisah “Sarip Tambakoso” yang dipentaskan sekarang ini adalah contohnya. Dari zaman ke zaman tafsiran dibikin, diperbaharui, disesuaikan dengan konteks kekinian kehidupan. Dengan demikian, sang bintang dan lakonnya tetap merupakan cerminan kondisi rakyat yang dekat dengan kita. Dan sang Sarip pun, tak boleh kehilangan jiwa dan elan vital utamanya sebagai rakyat, yang gigih mewakili kepentingan zaman tadi.

Pada zaman Belanda doeloe, Sarip adalah tokoh yang melawan penjajah Belanda. Orde lama, Orde Baru, maupun Orde Reformasi, masin-masing menampilkan sarip sesuai kepentingan besar zamannya. Ini semua sah adanya. Tanpa kekeliruan. Tanpa cela. kali ini Sarip tampil dari segi yang tidak terlampau ideologis. Lakon ini ditetapkan sebagai lakon: apa adanya, sesuai kodratnya.

Lantas, apa kodrat lakon di atas panggung? Lucu, segar, menghibur. Dan jika mungkin atau jika perlu memberi barang sepercik dua renungan hidup.

Itu sudah cukup. Tak ada yang perlu ditanyakan. Tak ada yang dianggap kurang. Lantaran, ya memang hanya untuk kepentingan itulah cerita didesain.

Ada catatan yang mungkin patut menjadi pertimbangan tim kreatif pementasan ludruk ini kali. Pada era bergejolak akibat runtuhnya moralitas bangsa semacam ini, apa salahnya jika Sarip, yang orang biasa itu, misalnya ditampilkan sebagai tokoh antikorupsi tingkat kecamatan? Sarip yang ini, adalah Sarip yang gigih dan istiqomah dalam menunaikan panggilan hatinya sebagai musuh para pencuri yang membikin bangsa mendekati titik nadir kebangkrutan ekonomi, menyusul bangkrutnya moral yang kian susah tertolong lagi itu?

Undanglah Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi agar bisa belajar sedikit tentang strategis yang lebih sahih, lebih akurat, dalam menangani kasus sensitif yang menjadi pertaruhan segenap bangsa ini. Sangat boleh dan kesempatan terbuka lapang bila lakon diperkaya dengan konten yang kuat dalam memperjuangkan semangat toleransi, supaya agama bisa kita kembalikan ke dalam jiwanya yang luhur dan penuh rasa adil-manusiawi. Perlunya, agar menjadi alternatif dari keadaan yang membikin darah beku karena agama, suara Tuhan, kok tampil di bumi mewakili Mak Lampir dan Duryudono.

Bolehlah sesekali Sarip mewakili wong cilik yang rindu akan makna agama, dan Tuhan, yang jika nama-Nya saja disebut sudah mengguyurkan rasa tenteram. Olehnya, tanpa mengubah urusan ekonomi yang ruwet, rakyar bisa merasakan betapa jenjem, ayem, tenteram, dan damai “full” hatinya ketika nama Tuahan disebut, sembari mengamalkan ayat yang berbau perintah dan menjahui larangan. Rakyat biasa separti Sarip, walhasil bisa menikmati ketenteraman hidup meski berbekal sedikit ilmu agama, kerjenihan iman, dan cinta kepada Tuhan.

Untuk menyumbang ala kadarnya usaha bersama untuk membangun jiwa dan watak bangsa, serta ndandani kebudayaan yang sudah doyong, ludruk boleh membikin Sarip jungkir-balik sebagai tokoh pluralis. Dia akomodatif, tolerans, dan terbuka dalam menerima aspirasi pihak lain. Sarip bisa digambarkan sebagai umat Tuhan nan saleh yang hormat setulus-tulusnya pada agama dan pemeluk agama lain, karena mereka toh sama-sama warga negara yang berhak beroleh penghargaan sederajat pula.

Lakon demi lakon yang menampilkan Sarip boleh dan memang harus — selalu dinamis, tapi senantiasa harus menyodorkan kejernihan kaca benggala bagi kita semua. Karena, di dalam ludruk, Sarip adalah si pembawa suara hati zaman tak terkecuali Sarip dalam lakon ini kali, tentunya.

Sastra, Ideologi, dan Dunia Nilai

Mohamad Sobary
http://kompas-cetak/

Sastra menyodorkan ke hadapan kita ekspresi estetis tentang manusia dan kebudayaannya. Di dalamnya tercakup kompleksitas ideologi, dunia nilai, norma hidup, etika, pandangan dunia, tradisi, dan variasi-variasi tingkah laku manusia. Dengan kata lain, sastra berbicara tentang tingkah laku manusia di dalam kebudayaannya. Di dalam sastra, seperti halnya di dalam kajian tentang kebudayaan, manusia disorot sebagai makhluk sosial, makhluk politik, makhluk ekonomi, dan makhluk kebudayaan. Tak mengherankan sastra disebut cermin masyarakat, dan cermin zaman, yang secara antropologis merepresentasikan usaha manusia menjawab tantangan hidup dalam suatu masa, dalam suatu konteks sejarah tertentu.

Manusia individual, atau sang tokoh dalam sastra tersebut, hanya cuilan kecil dan bagian dari sastra yang besar dan luas: bagian dari sastra yang mewakili potret zaman dan cerminan masyarakat tadi. Tapi, sekecil apa pun peran sosialnya, manusia adalah aktor. Dia aktor penentu dalam hidupnya sendiri, dan dalam dunianya. Maka, ketika di zaman bergolak sastra dianalisis dalam kaitannya dengan?misalnya?semangat nasionalisme, sebagaimana analisis Keith Foulcher dalam Pujangga Baru: Kesusasteraan dan Nasionalisme di Indonesia, 1933-1942, Keith Foulcher memperlihatkan bahwa dalam gagasan Takdir (Sutan Takdir Alisjahbana) seniman memiliki peranan sebagai pemimpin dan penunjuk jalan dalam proses perubahan sosial. Pendirian ini menimbulkan perdebatan dan penentangan dari banyak kalangan, terutama, saya kira, dari Goenawan Mohamad, seperti dapat dibaca kembali dalam Sang Pujangga, buku yang diterbitkan untuk memperingati 70 tahun Polemik Kebudayaan dan menyongsong 100 tahun Takdir Alisjahbana.

Bagi Goenawan, perubahan tidak datang dari sastra dan seni, melainkan dari politik. Ia menolak gagasan Takdir bahwa sastra bisa menjadi penggerak masyarakat. Hal ini dianggapnya sebagai terlalu banyak berharap terhadap sastra dan seni. Goenawan beranggapan bahwa Takdir membesar-besarkan peranan seniman. Dalam buku itu juga Sutardji Calzoum Bachri menganggap seni terlalu lemah, dan sastra baginya cukup berhenti pada kata. Sastrawan ialah manusia “kata”, bukan manusia “tindakan”. Manusia “kata”, baginya, tak sama dengan manusia “tindakan”. Ia tak ingin seperti Takdir yang menempatkan seni di luar proporsinya, menuntut di luar kodratnya. Emha Ainun Nadjib, dalam buku yang sama, lain lagi cara memandangnya.

Takdir dan Goenawan dianggap orang-orang yang tertutup dari dialog sehat karena tak mau memahami kebenaran lain di luar diri mereka. Takdir bicara tentang sastra yang memiliki tanggung jawab besar, sementara Goenawan lebih membatasi sistem forma keseniannya dalam sistem nilai dan disiplin seni itu sendiri, sedangkan tanggung jawab sosial dianggap merupakan bagian dari perjuangan di luar dunia seni. Kedua tokoh ini dianggapnya hidup dalam blok-blok pemikiran dan mazhab?bila tidak kiri, ya kanan, bila bukan Barat, ya Timur?sehingga kemandirian mereka dalam berkesusastraan layak dipertanyakan. Bagi Emha, yang tampak ialah komitmen kemanusiaan para seniman dewasa ini umumnya lebih menyempit pada dirinya belaka.

Kita butuh sastra yang bukan Marxis, dan bukan kapitalis, melainkan sastra Indonesia yang merdeka dari dominasi siapa pun, termasuk dari dominasi panglima di bidang politik maupun kebudayaan sendiri. Saya kira, sastra bukanlah sekadar dunia simbol yang penghuninya semuanya hanya kata-kata, tapi juga bukan dunia pergerakan, yang penuh dengan segenap tindakan seperti dalam kerusuhan, dalam revolusi yang bergejolak, atau dalam suatu perhelatan. Sastra itu cermin hidup manusia, dan dunianya, dan di sana manusia berkata-kata, dan kata-katanya juga meninggalkan jejak, kata-kata?selemah dan sehalus apa pun?bisa memengaruhi dan memberi inspirasi bagi tumbuhnya suatu ideologi sosial. Dan sastra dengan begitu minimal secara tak langsung bisa memberi manusia gagasan membikin dunianya lebih baik.

Lebih tegas saya kira sastra membawa muatan, dan menawarkan pada kita, suatu corak ideologi, atau faham, misalnya faham kebangsaan, yang perlahan tumbuh dalam kesadaran kita setelah sebuah karya sastra bisa betul-betul dibaca banyak kalangan dan memberi mereka inspirasi. Apa pun maknanya, faham kebangsaan itu kita tangkap, merasuk di dalam diri, dan melekat menjadi bagian hidup kita. Ia menjadi “api” yang menyala, terutama, di zaman bergolak. Gagasan-gagasan simbolik Takdir dalam Layar Terkembang maupun dalam Kalah dan Menang, dan pemikiran para penentangnya, saya kira jelas sudah menjadi warisan kebudayaan yang memperkaya hidup kita, dan kita bersyukur bahwa perdebatan itu pernah ada.

Kita diberi tahu oleh perdebatan itu bahwa kita tak bisa bersikap apriori menolak, bahwa di masyarakat Minangkabau, misalnya, terjadi perubahan kebudayaan?terutama dalam kaitan kawin paksa?beberapa lama setelah roman Siti Nurbaya lahir. Kira-kira, roman itu lalu menjadi sejenis counter culture, yang mengejek pada tiap saat orangtua hendak memaksakan anaknya untuk kawin dengan orang yang dikehendakinya, dengan argumen: ini bukan lagi zaman Siti Nurbaya. Perubahan di dalam jiwa masyarakat lembut, dan tak terlihat, dan karena itu tak seorang ahli kebudayaan pun yang bisa menyusun hukum-hukum kebudayaan untuk memaksakan ini dan itu, atau menolak ini dan itu yang bisa saja terjadi di dalam suatu masyarakat.

Dunia agama yang dianggap kolot, dan statis, sebenarnya bergerak, dan berubah, akibat pengaruh kata-kata, dan juga perbuatan manusia. Di zaman bergolak, ketika faham kebangsaan yang baru pelan-pelan meresapi jiwa warga masyarakat kita, yang berjuang menentang penjajah?kaum kolonialis dan imperialis?jiwa kita bangkit, menyala, dan berkobarlah “api” kesadaran berbangsa yang menyulut ke mana-mana. Dalam kaitan ini kita semua tahu bahwa?misalnya puisi-puisi Chairil Anwar?turut menyediakan tungku pembakar semangat kebangsaan kita, semangat mandiri, otonom dan merdeka, sekaligus menumbuhkan sebuah pengertian dan kesadaran baru akan betapa tidak manusiawi, dan tidak adilnya kekuatan penjajah yang merampas hak asasi segala bangsa, dan karena itu kita sadar pula bahwa penjajahan, dalam bentuk apa pun, harus dihapuskan dari muka bumi, hingga bersih ke akar-akarnya.

Semangat kebangsaan ini menyala di dalam jiwa setiap pemuda progresif revolusioner?dan di zaman bergolak semua pemuda dan juga pemudi pada dasarnya progresif revolusioner?hingga tumbuhlah rasa harga diri kita, dan pelan-pelan kita kemudian membangun sebuah identitas bangsa. Apa identitas kita saat itu? “Bahwa kita bangsa cinta damai, tetapi bagaimanapun, kita lebih cinta kemerdekaan”. Maka, kita pun melanjutkan perlawanan terhadap kekuatan kaum kolonialis, dan imperialis, bukan untuk perlawanan itu sendiri, melainkan untuk bisa mewujudkan makna damai tadi. Dan karena itulah, selain terbentuk identitas diri, saat itu terbentuk pula aspirasi yang menjadi corak kontribusi kita pada tata kehidupan dunia yang merdeka, adil dan makmur. Apa kontribusi kita? “Turut serta menciptakan ketertiban dunia. Kita sadar, kita hadir di muka bumi bukan untuk diri sendiri, melainkan juga untuk dunia seluruhnya, yang rindu akan rasa damai, rindu kemerdekaan, rindu akan keadilan, dan sekaligus, dengan sendirinya, antipenjajahan, sebagai the root of all evils.”

Di tahun vivere perikoloso, tahun 1966 yang juga bergolak, kita mencatat Tirani dan Benteng karya penyair Taufiq Ismail, yang turut membakar semangat perlawanan pada ketidakadilan. Juga puisi-puisi Rendra yang sangat beken di tahun 1970-an, yang hadir di berbagai kampus di Tanah Air, dan memberi kekuatan kesadaran lebih kental di kalangan mahasiswa yang bergolak menentang kezaliman penguasa. Saya menganggap, inilah tampaknya, tugas para pemimpin bangsa di zaman bergolak. Ini tugas yang dinyalakan tungkunya oleh?antara lain?dunia sastra, dan para sastrawannya. Tapi warna zaman memang selalu turut menentukan tugas dan corak kepemimpinan.

Di zaman bergolak, kepemimpinan tak sama dengan apa yang tampil di zaman “tenteram”, di zaman yang oleh para pemimpinnya dipahami bahwa hidup hanyalah tinggal perkara bagaimana menjalaninya, hidup hanya tinggal urusan teknis karena hal-hal penting dan mendasar lainnya sudah selesai tertata. “Apa tugas para pemimpin di zaman ?tenteram?, zaman pembangunan, yang tinggal menyedot segenap tambang, dan aneka kekayaan alam kita?” Jawabnya, saya kira, mengejutkan kita semua: kita malah mengundang penjajah. Penjajahan ekonomi kita lestarikan dengan Pelita demi Pelita di zaman Orde Baru, yang buku Repelita-nya disusun atas sumbangan dan legalisasi dunia kampus dan segenap kaum intelektual di seluruh pelosok negeri.

Modal asing, Bank Dunia, Bank Pembangunan Asia, Dana Moneter Internasional, perdagangan luar negeri, dan sekarang aturan perdagangan bebas yang tak adil, semua kita terima dengan syukur dan takjub, seolah itu semua kiriman langsung dari tangan Tuhan sendiri. Penjajahan kebudayaan pun kita lestarikan dengan kekaguman tanpa rasa malu kepada Amerika, yang di zaman bergolak hendak kita setrika, dan juga pada bangsa Inggris, yang hendak kita linggis. Juga pada bangsa Nipon, wong kate yang kuning “kulite”, yang mampir ke sini dengan nyaru sebagai “saudara tua”, yang dengan semangat “Tiga A”-nya yang chauvinistic, pongah dan menjengkelkan, menganggap dirinya pemimpin, pelindung, dan cahaya Asia. Tiga setengah tahun dalam jajahan bangsa Nipon merupakan tahun-tahun traumatik, dan mengenaskan, yang terornya belum juga kita lupakan.

Di tahun-tahun ini kaum perempuan, yang diperlakukan sebagai barang dagangan yang sangat dilecehkan, memiliki catatan kegetiran zaman tersendiri. Tapi, sebagai si lemah yang bodoh dan diperbodoh, kita pun menghadap ke Jepang dengan wajah menunduk. Dan sampai saat ini kita masih tetap bodoh dan diperbodoh karena tiap saat kita menanti kiriman mobil, benda-benda elektrik, dan semua corak teknologi yang keluar dari industri mereka. Dulu kita dibikin menjadi kuli, tapi kita pernah bergolak melawan. Dan kini, ketika diperbudak secara kebudayaan, kita “liyep-liyep”, seperti bangsa terbius, yang hilang kesadaran kebangsaannya, hilang rasa harga dirinya. Saya kira, kita memang terbius oleh pesona industri dan teknologi mereka. Kita menjadi bangsa yang kagum, dan menyesali diri tertinggal ilmu dan teknologi, lalu kita bukan belajar mandiri, melainkan memperbudak diri di mata mereka. “Di mana, hari ini, rasa kebangsaan kita? Di mana harga diri kita, yang dulu ditanam dengan penuh kebanggaan oleh Bung Karno, Bung Hatta, dan Bung Sjahrir, dan kawan-kawan, yang menjadi pemimpin yang memimpin, dan menjadi tokoh yang mengerti arti harga diri bangsa, dan karena itu bergerak membangun harga diri dengan proyek nation building and character building? Di mana itu semua kini bekasnya?” Sastra membakar kita punya jiwa, dan semangat besar membangun bangsa.

Tapi, mengapa kita tak lagi membaca sastra? Mengapa di sekolah, guru-guru berhenti mengajar sastra? Mengapa sastra?yang pada sekitar 60 tahun lalu menjadi kekuatan mahadahsyat yang ikut menyumbangkan gairah perjuangan bangsa?kini kita anggap sebagai “kusta”, yang dijauhi dan dijauhkan dari kita, dan anak-anak, yang butuh dibakar jiwanya agar tahu siapa dirinya, dan siapa bangsanya? Mengapa kita dijauhkan dari puisi, yang membakar jiwa tapi juga memperhalus budi pekerti? Siapa yang mengajari kita jauh dari puisi? Pemimpin yang hanya mengerti mesin, dan besi-besi, dan karena itu menjadi pemimpin dungu tapi bertangan besi? Kita dijauhkan dari dunia sastra, termasuk puisi, oleh mereka yang mengagung-agungkan peranan teknologi, dan tak mengerti puisi dan karena itu tak punya kehalusan budi? “Kembalikan Indonesia Kepadaku” jerit penyair Taufiq Ismail, seorang Muslim yang saleh, dan warga negara Hutan Kayu yang nasionalis, yang dalam kesadarannya, dulu bangsanya punya harga diri, otonom dan merdeka di mata semua bangsa.

Tapi, ketika semua pemimpin, pertama pemimpin agama, hanya mengerti sabda suci, tapi tak mengerti cara menerapkannya di bumi, dan para pemimpin politik, dan ekonomi hanya mengerti angka-angka, bermain angka, mengotak-atik angka, untuk memperbesar korupsi mereka, dan membuat negeri kita menjadi hampir seburuk wajah neraka, maka menangislah penyair kita itu, dan menjerit dengan penolakan: “Malu (Aku) Menjadi Orang Indonesia”. Kita tak peduli apakah penyair Taufiq Ismail menulis hanya karena merasa harus menulis atau ia menulis dengan kesadaran politik yang menyala dan membakarnya, dan karena itu ia bermaksud membikin kita bangkit dan menyadari ketertiduran kita yang panjang bagaikan kisah para “ashabul kahfi” dalam kitab suci, tapi kita tahu satu hal: puisi, juga puisi Taufiq Ismail, memiliki kekuatan menggugah. Dan itu sudah cukup untuk peran puisi. Selebihnya, itu menjadi urusan pemimpin politik, pemimpin ekonomi, tentara, dan polisi, yang harus bertindak membikin hidup lebih baik. Sastra, juga puisi, menghibur, membuka wawasan, memperluas pandangan dunia, memberi kita gagasan-gagasan besar, kiblat ideologi, dan memperkaya khazanah nilai-nilai bagi hidup dan dunia yang kita huni. Puisi membikin lembut cita rasa hidup kita.

Puisi menawarkan pilihan dan membuka peluang memperbesar watak humanis kita, dan menghargai manusia dengan harga kemanusiaannya. Saya kira puisi membantu usaha manusia menjadi manusia. Tapi mengapa puisi dijauhkan dari hidup kita, seolah puisi penyakit menular dalam sekali sentuh seperti “kusta”? Siapa yang menjauhkan kita dari puisi? Mengapa Menteri Pendidikan membiarkan pendidikan buruk ini berlangsung di depan kita, dan tak ada yang berteriak mengenai perlunya pendidikan kesusastraan yang memadai agar anak-anak mengerti puisi? Mengapa penerbit-penerbit tak mau menyumbang bangsanya dengan menerbitkan buku-buku puisi gratis, atau menjualnya dengan harga murah, supaya warga negara menjadi lebih pintar, lebih sensitif, lebih manusiawi? Mengapa para bankir kikirnya luar biasa terhadap warga negara baik-baik, tapi luar biasa pemurah hatinya kepada pembobol bank dan para penipu yang bisa bikin mereka bangkrut? Sastra, juga puisi, memang bukan panglima, dan tak usah menjadi panglima agar kita hidup demokratis dan menghargai kesetaraan.

Tapi di tengah keserakahan dunia usaha kita, selalu kita dapati ketidakadilan yang melukai konstitusi dan harapan warga seluruh negeri. Dunia sastra menyindir keserakahan kita, misalnya dalam cerpen Leo Tolstoy, Berapa Luas Tanah yang Diperlukan Seseorang, yang menggambarkan keserakahan Pakhom, yang berakhir tragis. Pakhom petani yang didera ambisi memiliki seluas mungkin tanah. Dan ia tak pernah merasa cukup. Dalam usahanya memperoleh tanah, yang nyaris didapatkannya, ia mati. Dan kita tahu, yang dibutuhkannya hanyalah seluas kuburnya. Kata Tolstoy, “Hanya pelayan Pakhom saja yang tetap tinggal di situ. Ia menggali sebuah kuburan dengan panjang yang sama dengan tubuh Pakhom, dari ujung kepala sampai ke ujung kaki?tiga elo saja. Lalu ia menguburkan jasad tuannya.” Sastra, di tangan Tolstoy dalam cerpen ini, memandang orang serakah sebagai orang yang hidup dalam kesia-siaan.

Kita dibuat merenung, dan kembali merombak apa yang pernah kita anggap sudah “jadi” di dalam bingkai kehidupan moral, ideologi dan tata nilai kita, untuk diperbarui, atau diganti dengan bingkai moral, ideologi dan tata nilai yang lebih relevan, yang lebih menjawab kebutuhan manusia untuk menjadi manusia. Saya kira, sastra memberi kita pilihan-pilihan bebas, yang kaya, dan bervariasi, untuk membuat kita menjadi manusia yang lebih manusiawi. Karya alegoris Rumi, yang lembut, tapi tajam dan kaya nuansa rohani, membuat kita merenung, dan dengan nyaman menelanjangi segenap watak buruk kita. Dan pelan-pelan kata yang keluar dari lubuk hati Rumi pun menghuni dan memperkaya jiwa kita. Peradaban Islam menjulang hingga ke Kordoba sesudah periode “iqra”?sebuah sabda di goa Hira?yang juga hanya kata-kata. Dunia Minang berubah tajam sesudah gerakan kaum Padri, yang memegang ajaran dalam bentuk kata-kata. Muhammadiyah lahir karena ideologi keagamaan Abduh, yang dibawa ke Kiai Haji Ahmad Dahlan ke Yogyakarta. Nahdlatul Ulama lahir oleh panggilan dunia dari apa yang namanya ajaran, yang sumbernya juga kata-kata. Sastra dan agama menyentuh manusia, dan mengubahnya dari dalam. Dan pelan-pelan manusia mengubah dunianya.

Copy and WIN : http://ow.ly/KNICZ
Di ‘copy paste’ dari http://sastra-indonesia.com/2009/04/sastra-ideologi-dan-dunia-nilai/