Mencari Pemimpin Sejati

Oleh: Mohamad Sobary

KITA hidup di zaman yang mungkin tak kita pahami dengan baik justru karena ulah kita sendiri. Kita, umat manusia, telah menciptakan ilmu pengetahuan dan teknologi yang mampu mengubah dunia dalam sekejap.

Teknologi informasi, media, dengan mudah mengubah manusia yang kemarin sore bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa, pagi ini telah membuatnya menjadi orang ternama. Media—tentu saja termasuk media sosial—berhasil menciptakan ustad, filsuf, jago motivasi, dan pemimpin masyarakat.

Ustad bikinan televisi kita berkhotbah untuk meyakinkan umat bahwa agama itu mudah. Filsuf mengajari pemirsa program televisinya tentang rahasia hidup bahagia, dengan cara begitu mudah dan sederhana. Dan, para pemirsa tergila-gila.

Jago motivasi berbicara dengan fasih mengenai rahasia sukses dalam hidup, dalam politik dan dalam bisnis. Dan pemimpin masyarakat? Ini lebih mudah.

Media cukup mengatakan bahwa dia jenis manusia istimewa, termasuk dalam ‘one hundred most influential young leaders’ . Ini bisa dicetak di dalam koran atau majalah, dan dibagi secara gratis ke sebanyak mungkin pembaca yang tak tahu apa-apa mengenai kebenaran orang yang ditokohkan tersebut.

Cukup wajahnya dipotret, disuruh nyengir, dan agak miring ke kanan tetapi di bagian lain, wajah nyengir itu disuruh miring ke kiri. Dan jadilah sudah.

Dia telah menjadi seperti yang ditulis. Tidak diperlukan proses apapun. Ini hanya sejenis ‘kun fa yakun’ masa kini. Dan para pembaca pun tersihir oleh pesona mengerikan itu.

Ustad, filsuf, jago motivasi dan pemimpin masyarakat diciptakan oleh media kita dengan proses yang mungkin serupa. Mereka hanya muncul, omong sedikit–termasuk menguraikan hal yang tak diketahuinya dengan baik—dan beres.

Dia telah terkenal di muka bumi. Media, pendeknya, membuat orang untuk cukup diam tak mengerjakan apa-apa, tak memiliki komitmen apa pun, tapi bisa dibikin terkenal tanpa tandingan.

Di dalam abad teknologi informasi ini, ilmu pengetahuan dan teknologilah yang harus maju. Dan manusia, ironisnya, tak begitu harus. Manusia cukup ‘plonga-plongo’ apa adanya, agak idiot sedikit juga boleh, dan ilmu pengetahuan serta teknologi bakal menutupi dengan sempurna segenap kekurangannya.

Ilmu pengetahuan dan teknologilah yang maju menjadi joki, menggantikan peran kemanusiaan, atau peran orang yang disebut pemimpin tadi, untuk tampil meyakinkan. Di dalam situasi seperti ini, masih mungkinkah kita mencari kebenaran mengenai sosok pemimpin yang tak terkontaminasi media? Masih mungkinkah sekarang kita menemukan contoh seorang calon pemimpin yang tak dipoles-poles secara manipulatif oleh kepentingan politik-ekonomi media?

Dengan kata lain, masih mungkinkah kita mencari pemimpin sejati di dalam masyarakat yang secara kebangetan memuliakan duit, popularitas, dan kemuliaan citra, tanpa memedulikan kenyataan bahwa semuanya itu hanya kecanggihan menata kebohongan?

Kata pemimpin sejati di sini jangan diartikan seperti makna guru ‘sejati’ di dalam dunia ilmu makrifat, ilmu batin, yang niscaya terlalu tinggi dan mungkin sudah tidak ada lagi. Pemimpin sejati di sini, di zaman penuh kesintingan, ambisi dan keserakahan, kira-kira hanya manusia yang tak tergoda untuk turut menjadi serakah, tak terlalu ambisius dan tidak sinting memandang jabatan sebagai segalanya.

Pemimpin sejati di sini orang yang tampil apa adanya, dengan segenap komitmen sosial politik yang jernih, untuk memimpin orang banyak demi panggilan hati nurani yang dilengkapi kemampuan teknis yang lebih dari sekadar memadai, dan kekuasaannya tak bakal dipakai buat kekuasaan itu sendiri melainkan buat menata kehidupan yang adil, manusiawi dan tentu saja demokratis.

Tidak ada ambisi pribadi yang berlebihan. Tidak muncul pamrih untuk terlalu memuliakan diri sendiri. Dia memimpin untuk membuat dunia yang penuh ketidakadilan ini menjadi lebih adil. Di tangannyalah hidup yang terlalu manipulatif ini ditata kembali menjadi corak kehidupan yang meluhurkan kebenaran.

Memang, di zaman kemajuan ini orang harus maju. Orientasi keilmuan menjadi sangat penting. Teknologi informasi harus dinikmati untuk memfasilitasi secara adil dan manusiawi langkah-langkah kita menjelaskan kepada publik komitmen sosial-politik kita. Teknologi itu fasilitas zaman yang harus disyukuri.

Tapi kita tak bisa dijajah oleh teknologi. Ciptaan kita bisa kita kendalikan. Sebaliknya, kita tak bisa menggunakannya menurut nafsu kita. Di sini mungkin kita berbicara mengenai etika. Mungkin etika keilmuan dan teknologi.

Siapakah di zaman seperti ini yang masih ingat akan etika, untuk mengendalikan ambisinya yang bergejolak seperti gelombang samudra yang diterpa badai? Ambisi manusia sering jauh lebih besar dari gelombang samudra. Orang tahu, teknologi bisa digunakan untuk memenuhi ambisinya. Di sini tidak ada yang salah. Manipulasi dianggap tidak salah. Berbohong dengan teknologi itu bagian dari kemajuan zaman? Bagaimana seharusnya kita memahami kemajuan?

Ini zaman yang sukar. Kiblat kehidupan kita ditentukan oleh teknologi. Mungkin karena kita terlalu memuja teknologi. Dan terlalu yakin bahwa teknologi telah memenuhi janjinya untuk membuat hidup kita lebih mudah, lebih enak.

Nilai-nilai hidup berubah. Etika jauh dikesampingkan. Apa yang berbau kemarin, masa lalu, dianggap tak lagi penting. Manipulasi dianggap wajar selama hal itu dilakukan untuk meraih kemajuan masa depan. Apa yang lebih penting dari kemajuan masa depan?

Hidup bergelimang dengan manipulasi sudah dianggap kewajaran. Kemajuan dan demokrasi dipahami dengan cara kaum muda sekarang memandang hidup. Kaum muda yang tak memiliki apa-apa, yang tak pernah memimpin apa-apa, dengan nyaman menyatakan dirinya sebagai kaum muda yang paling berpengaruh.

Kepada siapa pengaruh itu berkembang? Siapa yang memperoleh manfaat dari pengaruh yang sebenarnya tidak ada?

Dalam ketiadaan macam ini juga wajar kaum muda “nyalon’ ini ‘nyalon’ itu. Maju dalam pemilihan ini dan pemilihan itu.

Kita tidak bisa lagi menerapkan prinsip etis: mengapa tidak malu? Mengapa hidup dibangun hanya di atas ambisi demi ambisi, dan bukan di atas kebenaran yang menerangi kegelapan jagat raya?

Masih adakah kesempatan bagi kita sekarang memikirkan kemungkinan mencari atau menemukan pemimpin sejati? Ada problem serius di dalam dunia kepemimpinan kita zaman ini.

Kita wajib memilih. Ada dua pilihan yang tersedia. Satu, pemimpin ambisius yang manipulatif dan menjual diri kepada basis pemilih dengan penuh kebohongan. Dua, pemimpin yang berjuang dengan gigih melawan segenap manipulasi tadi. Dengan kata lain, ini tawaran tentang pemimpin sejati, yang tak menipu kita. []

Koran Sindo, 24 Desember 2016
Mohamad Sobary | Esais, Anggota Pengurus Masyarakat Bangga Produk Indonesia, untuk Advokasi, Mediasi, dan Promosi. Penggemar Sirih dan Cengkih, buat Kesehatan.

Jokowi ‘Ngluruk Tanpo Bolo’

Oleh: Mohamad Sobary

DALAM sebuah diskusi yang bersifat akademis, ada peserta yang kelihatannya secara meyakinkan menyatakan bahwa demo itu bagian tak terpisahkan dari demokrasi. Dalam pernyataannya ada semangat menyalahkan aparat keamanan yang mengingatkan bahwa demo tak dilarang selama tak menimbulkan sikap anarkistis.

“Demo sebagai bagian dari demokrasi tak usah dihubung-hubungkan dengan watak anarkistis,” kata peserta diskusi tersebut.

“Bagaimana kalau demo dibiayai? Diskusi akademis seperti ini tak pada tempatnya menyinggung kecurigaan-kecurigaan adanya pihak yang menunggangi massa yang sedang berdemo. Juga kurang pantas berbicara mengenai pihak yang membiayai suatu demo.

Seandainya dugaan atau pernyataan pihak yang didemo bahwa adanya pihak yang membiayai demo itu bukan sekadar ilusi, bukan omong kosong, bagaimana Anda memahami ini?” tanya salah seorang peserta.

“Membiayai demo seperti itu sama dengan membiayai tumbuhnya demokrasi di negeri ini. Jadi membiayai demo baik sekali,” jawabnya.

Bagaimana logika ini bisa muncul dalam benak peserta diskusi tadi? Membiayai demo jelas merusak demokrasi karena demo dilakukan bukan demi aspirasi politik untuk menumbuhkan semangat demokrasi, tetapi demi uang. Membiarkan orang membiayai demo seperti itu akan membuat banyak kalangan selalu siap turun ke jalan untuk melakukan demo, tetapi motivasinya bukan politik, bukan demokrasi, melainkan uang.

Demo, uang. Demo, uang. Dengan begini lalu akan tumbuh kebiasaan, orang menurunkan barisan pendemo, tetapi khalayak sudah tahu bahwa demo telah berubah menjadi suatu perusahaan yang mendatangkan uang. Demo menjadi pekerjaan pokok. Mungkin demo lalu erat hubungannya dengan pengangguran dan kesukaran mencari pekerjaan.

Diskusi itu terjadi sesudah demo besar 4 November dan dekat menjelang demo besar berikutnya tanggal 2 Desember 2016 di Jakarta. Demo demi demo melanda kehidupan kita.

Demo demi demo, biarpun itu merupakan pupuk yang menyuburkan demokrasi, juga merupakan suatu potensi ancaman kekerasan di dalam masyarakat. Ini bukan karena niat menjelekkan demo, melainkan karena pengalaman yang selalu terjadi menunjukkan bahwa hal itu benar.

Kalangan etnik China atau minoritas lain takut trauma yang sudah pernah terjadi akan terjadi lagi. Mungkin ketakutan seperti ini bukan dibuat-buat. Mereka takut karena demo yang demokratis itu bisa berkembang ke arah yang tak kita bayangkan sebelumnya.

Dapatkah dalam situasi politik seperti itu kita bicara bahwa membiayai demo berarti membiayai demokrasi? Demokrasi macam apa kalau di dalamnya bisa muncul aneka macam kekerasan, membakar kota, dan memerkosa orang-orang yang tak berdosa? Ucapan apa yang harus kita berikan kepada orang yang berjasa membiayai demokrasi macam itu? Mengapa demokrasi menimbulkan kebakaran, kematian dan trauma berat bagi korban-korban pemerkosaan?

Dua demo besar yang disebut di atas, terutama demo 2 Desember, disebut sebagai aksi damai dan doa untuk bangsa. Kita pandai memilih ungkapan. Media percaya pada ungkapan polesan itu. Media membesarkan berita: aksi damai. Doa untuk bangsa.

Ini damai yang berisi niat menjatuhkan Presiden? Gosip politik beredar. Namanya juga gosip. Belum tentu semuanya benar. Tapi belum tentu pula semuanya salah. Tapi bagaimana kalau ternyata benar seperti kabarnya diucapkan oleh tokoh hebat dari Yogyakarta yang sudah punya prestasi turut mendalangi langkah politik menjatuhkan Gus Dur dulu?

Tokoh ini dikabarkan—atau digosipkan—telah mengatakan di suatu masjid bahwa bangsa Indonesia mendapat fasilitas Tuhan untuk menjatuhkan Presiden Jokowi. Kita semua menjadi saksi bahwa dia sangat benci dengan Presiden Jokowi.

Gejala apa yang bisa dengan enak dia terjemahkan sebagai fasilitas Tuhan itu? Apa dalam benaknya Tuhan bisa meridai tindak durjana dan aneka macam kekerasan yang memamerkan kebencian terhadap sesama? Bagaimana aksi tersebut bisa pada saat yang sama disebut aksi damai dan doa buat keselamatan bangsa?

Apakah ada kedamaian yang di dalamnya sekaligus terdapat kebencian untuk menjatuhkan presiden yang sah memangku jabatannya? Apa ada kata damai tapi dengki? Lalu logika apa yang bisa dipakai untuk menyebut kedamaian itu ada hubungannya dengan doa untuk keselamatan bangsa?

Ancaman keselamatan bangsa macam apa yang direspons secara massal dengan doa? Siapa yang mengancam dan siapa yang diancam? Kita tahu jawabannya.

Dan tokoh dari Yogya itu niscaya menari-nari dalam hati melihat massa sebanyak itu turun ke jalanan untuk menyambut fasilitas dari Tuhan?

Apa dia ingin menyatakan Tuhan membiayai demo itu? Apa dia juga bisa dengan nyaman berkata bahwa Tuhan bersamanya ketika menari-nari dalam hati mensyukuri banyaknya massa yang penuh damai menyambut turunnya fasilitas Tuhan tadi?

Jokowi tahu situasi. Ketika orang-orang yang jiwanya penuh rasa damai itu salat di Monas, Jokowi memutuskan ikut bersama mereka. Kabarnya—mungkin ini juga gosip—aparat keamanan melarang beliau turun. Tapi Jokowi punya perhitungan sendiri. Sekali memutuskan ikut, tetap ikut.

Peta situasi mungkin sudah diurai dengan baik dan tepat sehingga turun ke lapangan di tengah-tengah mereka menjadi kewajiban yang tak usah ditunda. Jutaan orang dihadapinya dengan tenang. Jokowi ibarat “buruan” masuk ke dalam jaring yang dipasang para pemburu?

Bisa saja dimaknai begitu. Tapi itu bukan satu-satunya makna. Bagaimana kalau kita memberi tafsir bahwa kehadiran Jokowi di tempat penuh damai tersebut sebagai representasi peribahasa Jawa ngluruk tanpo bolo, melabrak barisan musuh yang begitu besar sendirian dengan penuh sikap kesatria?

Ngluruk tanpo bolo itu berbahaya. Maka mungkin Jokowi tetap waspada, tetapi tidak dikuasai kemarahan atau rasa dengki. Marah tak perlu dibalas marah. Dengki tak bisa dibalas dengki. Tapi prajurit yang begitu banyak cukup dihadapi sendiri. Ngluruk tanpo bolo cukup sendiri, dalam keyakinan Tuhan memihak kebenaran dan tak mungkin memfasilitasi segenap penyimpangan. []

Koran Sindo, 10 Desember 2016
Mohamad Sobary | Esais, Anggota Pengurus Masyarakat Bangga Produk Indonesia, untuk Advokasi, Mediasi, dan Promosi. Penggemar Sirih dan Cengkih, buat Kesehatan.

Orientasi Ideologis Kaum Pergerakan

Oleh: Mohamad Sobary

Urusan pribadi. Jarang di antara mereka yang mewarnai pengalaman hidup dengan suatu sikap politik maupun ideologis yang dipersembahkan bagi kehidupan masyarakat, negara, dan wujud pengabdian lain yang tak berhubungan langsung dengan kepentingan pribadinya.

Komitmen sosial mereka pun terbatas pada ungkapan-ungkapan verbal yang tak berjejak di bumi. Pengaruh gaya kepemimpinan Orde Baru terhadap mereka alangkah besarnya.

Mudah dipahami karena para tokoh sekarang ini lahir di zaman Orde Baru dan menjadi pemuda atau dewasa sebagi sarjana juga di zaman Orde Baru. Sejarah pergerakan kemerdekaan kita kaya akan tokoh besar, orang-orang pergerakan, yang hingga kini kita kenang dengan rasa hormat dan kekaguman yang tak perlu kita sembunyikan.

Sebaliknya, kekaguman pada sikap dan ketulusan mereka harus dipupuk. Mereka itu kiblat budaya. Mereka suri teladan agung. Sebutan ini mungkin tidak berlebihan bila dibandingkan dengan gaya hidup, sikap, dan tingkah laku politik para tokoh kita hari ini yang setiap hari hanya menyuguhi kita tontonan monoton, membosankan, dan membikin perasaan agak muak karena hampir semua hanya berbicara tentang kepentingan pribadi.

Orang-orang yang berseliweran di media cetak, radio maupun televisi kita berbeda sekali dari mereka. Pengalaman hidup tokoh-tokoh hari ini rata-rata berkisar pada muda yang dipompa dengan semangat dan kesadaran ideologis kaum militer yang mengendalikan jalannya pembangunan.

Ormas-ormas pemuda merupakan wadah menjinakkan kaum muda dengan jejalan ideologi yang menggelembung seperti balon raksasa yang kosong dan tak menawarkan kebebasan berpikir kritis. Apalagi kemerdekaan memilih suatu warna ideologi lain yang tidak militeristik dan bebas dari orientasi serba-pembangunan yang sebenarnya tidak membangun apa-apa. Kaum muda, yang memiliki watak kritis dan siap memberontak, dilatih untuk tunduk, taat, dan berbakti pada suatu kiblat kekuasaan yang tak terbantah.

Mungkin benar, kaum muda tumbuh menjadi boneka yang orientasi ideologisnya bersifat membebek. Boleh dikatakan mereka itu hidup tanpa sikap. Mereka tak dilatih untuk belajar memahami arti penting perbedaan. Mereka bukan orang-orang yang memiliki karakter politik yang bersifat militan.

Sejak masih mahasiswa mereka sudah terlatih membungkuk dalam-dalam menghadapi penguasa. Organisasi intrakurikuler maupun ekstrakurikuler mahasiswa juga menjadi sarana penundukan dan penjinakan yang penuh strategi untuk menawarkan cara hidup, cara berpikir dan berpolitik yang mengabdi. Jika kemudian tokoh-tokoh ini tumbuh dewasa dan memasuki dunia bisnis atau politik, mereka hanya akan menjadi penjaga sikap normatif yang kaku dan legalistik-formalistik tanpa jiwa, tanpa semangat yang bisa memberi pihak lain suatu perspektif kebebasan yang sehat.

Pemikiran Romo Mangun mengenai pilihan mendidik jiwa manusia merdeka tidak pernah ada. Dengan begitu mereka tidak pernah belajar bertanggung jawab terhadap kehidupan di luar diri mereka sendiri. Tokoh politik, tokoh birokrasi di dalam pemerintahan, tokoh militer, tokoh polisi, tokoh bisnis, tokoh pendidikan atau kaum akademisi, tokoh pergerakan, aktivis LSM, juga para tokoh dunia rohani—para rohaniwan—apa bedanya jika mereka berbicara tentang kekuasaan?

Mengapa tiba-tiba semua pihak tergila-gila terhadap kekuasaan? Mengapa mereka juga sama dalam segi kemampuan melihat batas-batas kompetensi pribadi? Tiap kali bicara mengenai kekuasaan, mengapa semua pihak membelalak dan siap bertarung memperebutkan suatu jabatan tanpa bisa lagi menyadari bahwa mereka tidak mampu?

Di sini ukuran-ukuran etis tak berlaku. Orang mudah berpindah dari suatu tempat ke tempat lain asal di sana lebih dekat dengan kekuasaan. Orang mudah melupakan orientasi ideologis, meninggalkan suatu kiblat ideologis yang dibelanya secara mati-matian untuk berganti kiblat ideologis lain demi sebuah kursi dalam suatu jabatan?

Patut menjadi catatan bahwa ini, kurang lebih, merupakan wajah politik kaum muda kita. Orang yang semula gigih membela suatu ideologi keagamaan, serbamoral, serbaetika, serbakeluhuran, dengan mudah berganti ideologi yang keras dan serbaduniawi. Tak perlu membuat kita heran bahwa dengan mudah sekali pula orang menerima tawaran dukungan politik dari suatu partai yang membikin banyak kalangan marah.

Di dalam hidupnya—hidup yang sejak dulu sudah terlatih membebek, mudah tunduk, mudah taat demi materi, jabatan, dan hal-hal duniawi lainnya—tak perlu ada suatu sikap. Baginya, tak punya sikap itu juga sikap. Dan tuduhan bahwa dia tak punya prinsip moral itu juga sudah merupakan prinsip moral tersendiri. Mudah baginya mengubah sikap, mengubah prinsip, karena perubahan itu akan menemukan sikap baru dan prinsip baru yang sudah disebut di atas: tanpa sikap tanpa prinsip.

Rohaniwan berjualan rohani pun kini menjadi biasa. Rohaniwan kaya punya banyak mobil mewah dan rumah-rumah mewah kini merupakan persoalan biasa. Sang rohaniwan pun bisa berdalil, dengan dalil-dalil kitab suci bahwa hal itu biasa. Ini pun representasi tokoh-tokoh muda kita. Boleh dikatakan bahwa mereka ini melanggar semua etika, melanggar khutbah-khutbah mereka dan mungkin juga menyobek perasaan mereka sendiri.

Tokoh muda dunia pergerakan, yang bersikap kritis dan seolah hendak merobohkan semua kekuasaan yang disaksikannya, dan mungkin dikagumi oleh sebagian kalangan, tiba-tiba mendadak berubah. Dia tidak tahan hidup dalam semangat pergerakan yang telah dilaluinya. Dia kemudian bergabung dengan partai politik yang memberinya kemakmuran.

Dulu semua partai politik dianggap nonsense, omong kosong, mandul, dan tak punya gereget perjuangan. Tapi kini dia lupa akan caci maki dan kutukan itu. Dia memasuki dunia kemapanan, hidup necis, dan makmur. Dan tak merasa risi. Apalagi berdoa.

Ini bagian dari kaum pergerakan, kaum muda yang dulu penuh optimistis menghadapi kerasnya pergerakan di bidang politik. Tapi dia termasuk kaum muda yang cepat patah. Ada sinisme terhadap kaum muda seperti itu sebagaimana diucapkan Joel Brainer dalam film koboi: The Magnificent Seven: The graves are full of young men who brave and optimist. Dan kita prihatin, terus menerus, tiap kali menyaksikan drama politik tentang idealisme yang selalu mati muda. Ini dimulai di zaman Orde Baru dan berkembang di kalangan militer, birokrat sipil, dan para loyalis terhadap rezim yang militeristik itu.

Di dunia pergerakan lain, di LSM, banyak caci maki karena sebagian dari mereka yang sangat kritis dan berani menghadapi risiko perjuangan, selalu bersikap terbuka dan mengkritik pemerintah tanpa tedeng aling-aling. Sinisme terhadap mereka masih terasa sekarang. Ada yang beranggapan bahwa LSM telah kehilangan peran karena banyak peran penting telah diambil oper partai politik.

Ini agak berlebihan. Partai politik mengambil hanya sebagian, terutama yang berhubungan dengan hal-hal penting dan sensitif, yang nilai politiknya tinggi. Di luar itu, sangat banyak persoalan yang menanti datangnya politisi untuk melakukan pembelaan, tetapi mereka diam membisu. Tak pernah ada suara, tak pernah ada tanda-tanda bakal datangnya orang partai. Kita sampai berpikir bahwa partai politik itu tidak ada.

Kita harus adil dalam menilai. Sampai saat ini LSM masih merupakan alternatif dari kekuatan pemerintah. LSM juga alternatif kekuatan partai politik. Dalam hal-hal yang besar, politis, dan sensitif secara global, siapa yang berani mengambil inisiatif untuk bersuara? Pemerintah? Tidak mungkin. Pemerintah terjerat banyak konvensi dan subasita politik global.

Partai politik? Tidak. Di parlemen pun mereka sunyi senyap. Kadang mereka hanya tahu persoalan dari media. Siapa yang berani bersuara? LSM. Tak diragukan lagi, lewat jaringan yang dikenal sebagai New Social Movement, mereka bisa bersikap jelas. Suatu isu lokal bisa diangkat ke tingkat global dan menjadi kepedulian bersama. Mereka waspada terhadap tiga musuh utama: global market, global capitalist, state, dan state policies.

Kaum pergerakan di LSM dengan begitu jelas memiliki ”musuh” utama di tingkat global maupun di tingkat lokal. Orientasi ideologis mereka? Mohon maaf, ini agak kurang jelas.

Tak sedikit tokoh yang bekerja di LSM bersikap sebagai pegawai. Dia bekerja dan merasa berhak digaji tiap akhir bulan.

Di sini aktivisme pergerakan tak terasa penting. Dia bekerja, bekerja, dan bekerja secara teknis, apa adanya, dan tak lebih dari sekadar mencari sandang pangan, mencari penghidupan seperti halnya serombongan semut yang setiap hari juga mencari penghidupan.

Aktivis di LSM bukan semut. Mereka orang terpelajar. Mungkin mereka bisa disebut concerned intellectuals, devoted intellectuals, atau kaum sekolahan yang harus memanggul peran profetik buat begitu banyak kegiatan pembebasan: membebaskan rakyat dari kemiskinan, dari kebodohan, dari ketidakadilan, dan dari berbagai jenis ketertindasan.

Ancaman global melalui bisnis ritel dalam dunia perkebunan, pertambangan, perbankan, rumah sakit, sekolah. Kita ditindas, kita digilas sampai tak berdaya. Tapi banyak aktivis LSM yang membisu. Peran profetik kita mengajari agar kita bertindak. Tidak bisa kita hanya omong atau hanya bertindak asal bertindak.

Kita diminta melakukan tindakan revolusioner yang mengubah dunia di sekitar kita. Kita mencari palagan tempur, the battle field, tempat mencucurkan keringat, keprihatinan, dan jerih payah dalam kerja mewujudkan komitmen sosial kita. Seperti inilah representasi ideologis kita. []

Koran SINDO, 29 Oktober 2016
Mohamad Sobary | Esais, Anggota Pengurus Masyarakat Bangga Produk Indonesia, untuk Advokasi, Mediasi, dan Promosi. Penggemar Sirih dan Cengkih, buat Kesehatan.

Orang-orang Jujur

Sumber Tulisan: Disini

Pemimpin kita hanya membuat kesan tapi tak pernah mencetak kenyataan.

Dalam sejarah Islam ada satu babak yang disebut Periode Madinah. Rasul yang membawa risalah kebenaran “langit”, kebenaran ilahiah, yang mutlak dan tak terbantah, dimusuhi kekuatan-kekuatan mapan—terutama penduduk Mekah yang tak ingin tradisi lamanya digoyang-goyang, tetapi padahal sudah goyah, dan tak mungkin lagi dipertahankan.

Memerangi Rasulullah artinya memerangi kebenaran yang tak terbantah tadi, dianggap satu-satunya jalan mempertahankan tradisi mereka.

Dalam kisah, ada dua musafir yang kedapatan oleh Abu Sofyan, tokoh paling gigih dalam usaha mempertahankan kekafiran yang sudah mapan dalam tradisi tadi. Keduanya ditangkap dan diinterogasi.

“Mau ke mana kalian?”

Keduanya ragu-ragu.

“Kalau kalian berniat membantu Muhammad, kalian kutangkap dan kubunuh. Tapi kalau sekadar lewat, dan tak ada hubungannya dengan Muhammad, kalian bebas. Tapi, awas, jangan bohong. Kalau kalian kedapatan bohong, kalian juga kubunuh.”

“Tidak. Kami hanya mau ke Madinah.”

“Apa urusan kalian? Membantu orang yang mengaku dirinya nabi itu?”

“Tidak. Kami tidak ikut-ikut urusan perang. Tapi kami ingin ke Madinah.”

Mereka dibebaskan. Ketika tiba di Madinah, keduanya memang menemui Rasulullah saw untuk bergabung dalam pasukan beliau. Keduanya menceritakan apa yang terjadi dalam perjalanan dan apa janji yang diucapkan kepada Abu Sofyan.

Nabi tidak suka mendengar cerita itu. Keduanya disuruh tetap di Madinah, seperti yang dikatakan sebelumnya, dan tidak boleh bergabung dengan tentara Rasulullah.

“Penuhi janjimu. Tunjukkan pada mereka bahwa kalian orang-orang jujur. Aku suka kalian ingin membantuku tapi aku tidak suka kalian berbohong.”

Kedua pemuda itu terpana. Bagi mereka ini hanya sebuah kebohongan kecil, bohong sebagai cara dan bukan tujuan. Bagaimana bisa membantu Rasulullah kalau tidak bohong? Mereka tidak mengerti.
Rasulullah memanggul kebenaran “langit”, kebenaran suci, yang tak bisa dinodai. Sedikit noda bisa membahayakan. Di sini tak ada tawar-menawar.

Bohong

Di sekitar kita banyak rohaniwan. Mereka diketahui publik, atau umat yang mereka pimpin, sebagai orang-orang yang berjuang di jalan rohani. Mereka membela urusan-urusan rohani. Mereka hidup dengan panduan rohani, mengutamakan rohani, menjunjung tinggi rohani.

Di negeri ini ada banyak agama. Berarti ada banyak panduan rohani yang berbeda. Mengapa panduan yang berbeda warnanya, berbeda motif, dan coraknya, tetap menghasilkan hal yang sama? Mengapa di sekitar kita, orang yang hidup di bawah panduan rohani, dan para pengikut mereka yang juga nampak mengutamakan rohani, tapi dalam hidup sehari-hari yang mereka utamakan bukan rohani melainkan benda-benda duniawi?

Orang baik-baik, berpakaian baik, berkedudukan baik, dan berkata baik, ternyata hanya kelihatannya baik. Rohaniwan, yang hidup dalam kebenaran rohaniah, berkhotbah mengenai urusan-urusan rohani, siap ke sana ke mari menyebarkan rohani, tapi hidup mereka tak dipandu rohani.

Mereka juga mengutamakan kemewahan, dan demi kemewahan itu mereka siap memperjual-belikan apa yang berbau rohani. Mereka yang menjaga kantornya, memelihara asetnya, tetapi mereka juga mencuri aset-aset itu. Mereka juga mempertaruhkan rohani untuk kepentingan jasmani dan berbohong.

Para lawyer yang bersumpah menegakkan kebenaran walaupun langit runtuh menimpa jidat mereka, jarang betul yang hidupnya dipandu hukum dan keadilan. Mereka memahami hukum tapi mereka yang merusak hukum, ditukar dengan rumah mewah, mobil mahal, atau duit yang jumlahnya tak terhitung.

Hakim, orang yang “benar”, yang gigih membela semua yang “hak” dan yang adil, merusak keadilan di lembaga bernama pengadilan. Jaksa yang menuntut orang demi keadilan, tidak lagi bicara keadilan. Jaksa bicara tentang duit dan duit, dalam penyimpangan demi penyimpangan yang merusak hukum, keadilan, dan masyarakat.

Politikus yang bicara lembut, berpakaian bersih, dan penuh lambang-lambang agama, peci, dan jubah, hidupnya tak berurusan dengan semua lambang itu. Lambang hanya lambang. Apakah sikap sopan, halus, lembut mengesankan sikap jujur?

Itu hanya kesan. Pemimpin kita hanya membuat kesan tapi tak pernah mencetak kenyataan. Kesan dianggap penting. Tapi di balik kesan, semua hanya kepalsuan.

Kita marah karena polusi udara. Polusi air telah mengancam kehidupan kita. Tapi para penggede yang mengatur kebijakan perdagangan, membuka seluas mungkin investasi asing yang jelas membuat hancur lingkungan.

Gunung kita dihancurkan. Laut kita dihancurkan. Sungai, telaga, pepohonan, semua dihancurkan. Ini hasil sebuah kebijakan yang dibuat para pemimpin yang menguasai dunia hukum, perdagangan, pengamanan hak-hak rakyat, tapi hak itu tak diamankan.

Kita mencari orang-orang jujur, tapi hampir tak ada lagi stok yang tersisa. Di mana mereka sekarang? Hanya dalam sejarah agama? Dalam kisah-kisah orang istimewa, yang kini tinggal nama?

Media mungkin tahu jawabnya. Media mengungkap semua keculasan, hingga kita merasa tak ada lagi orang jujur di sekitar kita. Tapi media tahu sisanya, orang-orang jujur mereka sembunyikan di balik berita. Mereka ada, tapi tunggu, media akan mengungkapnya.

*Penulis adalah budayawan

Sumber : Sinar Harapan

Sikap para pemimpin yang adil

Sumber Tulisan : Disini

KITA mengenal Raja Sulaiman— juga seorang nabi—yang bijak dan adil. Tentang sikap bijak ini Raja Sulaiman kelihatannya menjadi rujukan istimewa. Beliau dikenal sebagai Sulaiman yang bijak.

Selebihnya beliau memiliki derajat istimewa: menguasai bahasa hewan dan berbicara dengan hewan. Beliau memahami bahasa semut,binatang kecil, tapi juga bahasa binatang yang besar-besar. Gusti Kanjeng Nabi Muhammad SAW juga pemimpin yang sangat adil. Kepada para musuh, orang-orang kafir yang mengancam hidupnya pun beliau bersikap adil, tidak marah, dan tidak mendengki.

Keadilan merupakan watak istimewa beliau. Dalam salah satu bagian dari kisah beliau disebutkan, pada suatu hari beliau berjalan-jalan di luar pagar kebun orang kaya. Tak ada urusan penting bagi beliau untuk memasuki kebun itu, tapi entah bagaimana, beliau sendiri tak begitu memahaminya, tapi beliau masuk. Di dekat pintu masuk itu terikatlah seekor induk domba liar yang wajahnya tampak bersedih.

Ketika beliau menengok hewan itu, beliau tahu, ada sesuatu yang hendak disampaikannya pada beliau. Benar. Ketika beliau mendekat, induk domba itu melaporkan bahwa dia tertangkap oleh pemilik pekarangan itu dan kini, seperti dapat dilihat, dia terikat tak berdaya. Padahal dia harus menyusui anak-anaknya yang masih kecil-kecil. Ini sudah mendekati tengah hari, saat mereka minum.

Rasulullah SAW mengerti apa yang diinginkannya. Beliau bertanya—untuk meyakinkan sikapnya—apakah jika diberi izin kembali sebentar ke hutan untuk menyusui anak-anaknya, dia mau berjanji untuk kembali ke sini, dan hewan itu menjawab: “Saya berjanji.” “Apakah kau bersedia memenuhi janji itu?” “Saya bersedia.” “Kalau pemilik kebun ini memberimu izin menyusui anak-anakmu yang kehausan itu, apakah kau tidak lupa pada janjimu?” “Tidak. Aku tidak akan melupakannya.

” Dengan jaminan Rasulullah sendiri, tuan pemilik kebun itu percaya pada si induk kambing. Pendeknya, dia boleh pergi sebentar. Dia percaya hewan itu tak akan ingkar janji. Memang benar. Dia berlari sekencang- kencangnya menemui anakanaknya, dan memberi mereka minum hingga masing- masing puas. Sesudah itu induk kambing itu kembali. Rasulullah gembira sekali.

Beliau sayang pada hewan yang baik hati ini. Kepada pemilik kebun itu beliau menanyakan, apakah induk kambing hutan ini boleh dibeli. “Rasulullah . Bagaimana aku bisa bicara mengenai jual beli tentang sesuatu yang menarik hati Rasulullah?” “Bagaimana maksudmu? Aku tidak jelas,” jawab Rasulullah. “Maksudku, jika benar Rasulullah tertarik pada hewan itu, aku siap dan ikhlas mempersembahkan nya pada Rasulullah, tanpa bicara mengenai jual-beli.

”Rasulullah sangat gembira. Tentu saja, dengan terima kasih yang dalam, beliau terima hadiah itu. Adapun kepada si induk kambing itu, beliau berkata dengan nada sangat gembira bahwa dia boleh kembali ke hutan, hidup kembali dengan anak-anaknya seperti semula. Kita seperti terlempar ke dalam dunia dongeng: sebuah dunia di mana apa pun bisa terjadi. Tapi, ini bukan dunia dongeng, melainkan tarikh— sejarah—perjuangan dan kehidupan pribadi Rasulullah.

Tentu, dengan sendirinya, ada catatan tambahan: Rasulullah itu pemimpin rohani atau pemimpin “langit” yang ditugaskan di bumi. Jangan lupa, tugas beliau itu memimpin kehidupan rohani umat, tapi sekaligus pemimpin politik, kepala negara, kepala pemerintahan yang menampilkan sosok ”good governance” dan sekaligus “clean government” sekitar lima belas abad lampau, yang di sini, sekarang ini, masih kita perdebatkan. Formula “good governance” itu bahkan masih kita rumuskan .

Betul, disana sini sudah kita coba laksanakan sebagai proyek rintisan, proyek percobaan, untuk menjajaki adakah kita memiliki kemampuan yang dibutuhkannya. Alhamdulillah, kita punya. Di sana sini kita memperoleh hasil yang kita inginkan. “Good governance” dan gagasan mengenai “clean government” dua-duanya memerlukan kehadiran sosok pemimpin yang adil. Syukur juga bijaksana.

Kita, yang sudah agak gembira melihat hasil-hasil rintisan mengenai “good governance” itu, sebagai proyek kebudayaan pada tingkat “grass-root” di masyarakat kita, tiba-tiba, di dalam kehidupan tingkat atas, yang bermain kebijakan dan merumuskan pilihan-pilihan politik, kita dirundung rasa kecewa berkepanjangan. Pemimpin demi pemimpin, pada tingkatan birokrasi yang berbeda-beda, di wilayah operasional yang juga dan berbeda-beda, hampir tak ada yang memiliki sifat adil, apalagi yang bijak.

Konvensi dalam suatu partai politik, untuk memilih pemimpin— katanya—yang adil, bersih, dan demokratis, sesuai tuntutan konstelasi politik internasional maupun kebutuhan lokal” kita sendiri, apakah ini artinya? Kita menjaring calon pemimpin bangsa, dari kalangan putra-putri kita sendiri? Kita percaya pada idiom ini: pemimpin bangsa, dari putra-putri kita sendiri? Kita percaya pada lembaga survei yang selalu bisa menjawab secara instan setiap keperluan politik, dari suatu pihak, termasuk untuk sekadar membangun citra “sontoloyo” yang durhaka, dan memalsu kebenaran ilmiah?

Kita percaya pada lembaga survei baru, yang gagah berani bicara—di tengah kegusaran kita yang nyata, karena sukarnya menemukan pemimpin yang baik, dan dia tiba-tiba bicara dengan tegas, mengenai “a few good men” yang tingkat “reliability”-nya meragukan, apalagi ketika sosok “a few good men” itu diungkap satu persatu, dan kita tahu mereka semua, kita tahu latar belakang mereka.

Kalau golongan ilmuwan— lain lagi yang agak palsu, dan hanya pura-pura ilmuwan— juga bohong pada publik demi uang, kepada siapa kita bertanya tentang kebenaran? Dalam situasi memalukan seperti ini, apa mau dikata kalau para pemimpin resmi yang mengendalikan pemerintahan ini juga bohong, korup, dan menodai dasar negara kita dan tujuan kita bernegara? Di mana gagasan mengenai pemimpin yang adil itu kita peroleh? Mungkin kita tak punya pemimpin seperti itu. Kita tak punya.

MOHAMAD SOBARY
Budayawan

Sekadar tegas tidak cukup

Sumber Tulisan : Disini

NEGERI Alengka itu rajanya sangat tegas. Ketegasannya bahkan tak bisa diukur dengan sekadar menggunakan kriteria yang biasa kita pahami dalam kehidupan sehari-hari. Jika dia melihat tingkah laku raja dari negeri lain yang menyinggung perasaannya, dia putuskan segera negeri itu harus diserbu dan dihancurluluhkan.

Keputusannya merupakan hukum yang tak bisa dibantah. Perintahnya merupakan kewajiban yang tak bisa ditunda, apalagi dibantah. Patih atau perdana menteri, panglima perang, dan seluruh kerabat istana tak lebih dari orang-orang yang bergerak karena kemauannya. Mereka tak boleh memiliki kemauan sendiri. Kepada mereka yang bersedia menjadi ”bayangan” sang raja, mereka hidup makmur dan posisinya istimewa.

Tapi, sebaliknya, kepada mereka yang memiliki jiwa merdeka dan pendirian yang berseberangan dengan pendirian baginda raja, orang seperti itu tidak ada gunanya. Kepandaian dan kejujuran sikap yang menjunjung tinggi kebenaran tidak mendapat tempat di hati baginda raja. Itulah ketegasan yang mencolok di dalam karya sastra pedalangan kita, yang tiap dipertontonkan, kita para penonton menyimak baik-baik sepak terjang raja itu dengan perasaan ngeri dan kita siap untuk menyingkirkannya dari dari kamus kehidupan kita.

Raja-raja di sekeliling negeri Alengka sudah menjadi orang jajahan yang diperlakukan sebagai budak. Negeri-negeri yang masih merdeka cemas bila sewaktu-waktu digempur dengan kekuatan militer yang tak terbayangkan ganasnya. Hidup seolah hanya berisi kecemasan. Kekuatan negeri Alengka bukan merupakan jaminan perlindungan bagi negeri-negeri kecil dan lemah, melainkan merupakan ancaman.

Raja itu memang tidak dilahirkan sebagai pelindung. Kita tahu, raja itu memang manusia yang belum ”jadi” dan mungkin tak akan pernah ”jadi”. Dia raksasa yang terlahir dari sikap terkutuk, hidup di lingkungan yang juga terkutuk. Maka, kepemimpinannya pun terkutuk. Ketegangannya merupakan keganasan yang siap menghancurkan siapa saja yang tak sejalan dengan sikapnya.

Rasanya orang tak perlu menjadi ahli politik atau pemikir ulung untuk mengetahui bahwa ketegasan seperti ini bukan model sikap yang kita cari untuk memperbaiki kehidupan bangsa kita. Kita sudah mengalami zaman Orde Baru yang supertegas. Tapi kita melakukan reformasi secara total, menyeluruh, dan berusaha menghindari semua jenis ketegasan Orde Baru yang tak memberi jaminan rasa aman.

Pak Harto (mantan Presiden Soeharto) memang tegas. Apa maunya jelas. Beliau bisa menguraikan secara terperinci apa yang harus dilakukan. Para menteri kemudian tinggal menjalakan perintahnya. Semua hanya tinggal perkara teknis pelaksanaan. Ini jelas dan tegas. Tapi kita tak menyukainya karena di balik ketegasannya, orang tak diberi alternatif berpikir lain dan menjadi diri yang lain yang tak berada di dalam bayangan kekuasaannya, membungkam kalangan pemuda dan mahasiswa.

Di zaman ini kita menghadapi persoalan ruwet yang tak pernah dipecahkan secara tegas. Jangan salah, ini bukan karena sikap terbuka dan demokratis, melainkan karena tidak tahu apa yang harus dilakukan dan jika tahu, dia tak punya keberanian bertindak. Kebebasan seperti ini membuat rakyat frustrasi dan mengejek sampai jauh di luar batas sopan santun. Orang pun bebas menamakannya apa saja.

Kita bosan hidup di bawah pola kepemimpinan yang membiarkan segala persoalan berkembang menjadi perdebatan ”liar” tanpa kendali dan tanpa kebijakan yang jelas. Maka dalam situasi itu orang merindukan ketegasan. Pemimpin harus tegas. Pemimpinan harus punya kemauan dan harus punya kiblat tersendiri, yang diikuti rakyatnya.

Tegas itu apa?
Sopir-sopir taksi, tukang ojek, tukang bajai, pedagang asongan, dan kalangan bawah pada umumnya bicara hal yang sama. Tapi ketika ditanya apa yang dimaksud ketegasan, tak ada yang bisa menjelaskannya. Mereka hanya rindu pada apa yang disebut ketegasan. Dengan ketegangan semua soal selesai dengan cepat.

Tapi ketika diingatkan tentang ketegasan Orde Baru, yang di baliknya terdapat ancaman mengerikan dan matinya kebebasan berpikir sehingga Daud Jusuf yang merasa diberi tempat mewah sebagai menteri pendidikan dan kebudayaan siap membungkam kalangan pemuda dan mahasiswa, mereka ogah. Sebagai menteri pendidikan Daud Jusuf siap tidak mendidik.

Sebagai menteri kebudayaan Daud Jusuf siap meniadakan kebudayaan yang bisa berkembang menjadi kapital masa depan. Kebudayaan dimatikan melalui kematian kebebasan kreatif dan kemandirian dalam cara memandang hidup dan masa depan kita sendiri. Jika sekadar bicara perkara ketegasan, Daud Jusuf kurang tegas apa? Kampus-kampus di seluruh pelosok negeri menggeram karena marah sekaligus karena tak berdaya.

Pendidikan macam apa yang melahirkan ketakutan dan ketidakberdayaan macam ini? Apa makna ketegasan bila tegas hanya punya satu makna: menakutkan atau membuat kita tak berdaya? Tegas, semata-mata tegas, yang menjadi kata benda ”ketegasan” itu sama sekali tidak cukup. Bahkan mungkin ketegasan macam itu bukan yang kita cari untuk memandu kehidupan dan jalan mencari penyelamatan masa depan kita. Kemiskinan sudah menjadi ancaman menakutkan.

Tapi karena kita sudah terbiasa hidup di dalamnya, kemiskinan tidak lagi kita lihat sebagai ancaman, tetapi kita tahu kita harus bebas dari kemiskinan itu. Ini saja, sejak kita merdeka, masih menjadi problem tak terpecahkan. Maka janganlah ditambah-tambah dengan sesuatu yang tak kita pahami seperti ketegasan tadi.

Apa artinya tegas kalau buka mulut pun dilarang? Apa artinya tegas––sekali lagi setegas Daud Jusuf––jika nalar tak boleh berkembang menurut jalur yang bukan jalur resmi pemerintah? Apa artinya tegas jika cara memandang dunia sudah ditentukan dan tak boleh menyimpang dari cara pandang orangtua yang tak tahu makna kehidupan generasi masa depan? Raja, presiden, yang memimpin hanya dengan ketegasan, bukan jawaban bagi masalah nasional kita.

Ketegasan tidak cukup. Kita menggunakan kelemahan kepemimpinan sekarang dan mencari model kepemimpinan yang sebaliknya. Ini bahaya masa depan yang jelas. Orde Baru yang otoriter tak bisa diselesaikan dengan demokrasi yang kita miliki. Demokrasi bukan jawaban bagi problem Orde Baru.

Maka, kelemahan mencolok gaya pemimpin hari ini tak bisa sekadar diganti gaya kepemimpinan yang tegas, sekadar tegas. Kita tak boleh terperosok kembali ke dalam kesalahan cara memandang pemimpin dan kepemimpinan. Patut menjadi catatan kita: sekadar ketegasan tidak cukup.

MOHAMAD SOBARY
Budayawan