Sekolah yang Memerdekakan

Oleh: Mohamad Sobary

KELIHATANNYA kita mulai memiliki dalil pendidikan yang mengejutkan. Bunyinya: Sekolah yang baik hanya ‘mengantarkan’ anak didik untuk menjadi diri mereka sendiri. Mengantarkannya pun tak perlu jauh-jauh. Tiap anak sudah membawa bakat masing-masing.

Dalil ini bukan hanya menyangkut metode pendidikan, melainkan juga sistem yang utuh dan komprehensif mengenai arah pendidikan: ke mana anak hendak dibawa. Guru memfasilitasi kebutuhan anak untuk menapak di jalur kehidupan yang bisa membuat mereka menjadi diri sendiri tadi.

Tekanan utamanya jelas: anak ‘diantarkan’ atau ‘ditemani’ dalam perjalanannya untuk menjadi pribadi yang merdeka. Hanya itu. Dan itu sudah ‘sempurna’.

Sulit sekali menemukan filosofi dasar selain ini yang bisa dipegang untuk mengembangkan potensi besar setiap anak. Sistem tak pernah percaya pada anggapan bahwa ada anak bodoh. Sebaliknya, setiap anak dipandang ‘istimewa’ dan sekolah mengemban peran membangun pribadi yang merdeka.

Kita bisa bicara tentang apa yang ada, dan bukan berteori secara muluk dan abstrak. Ada contoh nyata, yaitu di Nitiprayan, Ngestiharjo, Kasihan, Bantul, Yogyakarta, ada SALAM, Sanggar Anak Alam. Ini sebuah lembaga pendidikan yang hingga kini sudah mengasuh anak-anak pada tingkat bermain sampai sekolah menengah pertama. Jadi belum lama.

Barang siapa melihat sendiri kegiatan ‘pendidikan’ di dalamnya, niscaya akan secara otomatis mengatakan bahwa ini ‘sekolahan’ istimewa. Keistimewaannya terletak pada komitmen untuk membangun sebuah sekolah alternatif.

Jika kita perhatikan sistem pendidikan yang diterapkan di sana, apa yang istimewa itu bukan terletak pada kata, melainkan pada tindakan memilih cara, metode, atau pendekatan yang dijadikan pilihan untuk menyampaikan pelajaran. Pengalaman menggambarkan, pelajaran yang sukar bisa ‘dibikin’ menjadi mudah dan anak-anak didik mengerti.

“Membuat anak didik mengerti Itu sebuah seni,” kata Toto Rahardjo, aktivis senior di bidang pendidikan sejak puluhan tahun lampau. Bersama istrinya, seorang guru, dan sejumlah tokoh pendidikan bergabung, dengan semangat mengabdi pada dunia pendidikan. Hasilnya sekolah ini. Toto, berpuluh tahun lalu, pernah magang di lembaga pendidikan ‘Edukasi Dasar’ pimpinan almarhum Romo Mangunwijaya.

Lembaga asuhan Romo Mangun dulu ‘keren’ bukan karena Romo seorang budayawan terkemuka dan memiliki wawasan alternatif secara mendasar di bidang pendidikan, tetapi juga karena isi dan metode pendidikan yang diterapkannya. Tak mengherankan Romo memang akrab dengan gagasan pendidikan Paulo Freire yang sangat ‘subversif’ itu.

Pemikirannya mengguncang dunia pendidikan. Kita dibikin menjadi yakin bahwa sistem pendidikan di seluruh dunia pada dasarnya salah.

Bagi Paulo Freire, metode pendidikan seluruh dunia diibaratkannya seperti gaya bank. Anak-anak dididik dengan cara yang mirip orang memasukkan uang dalam tabungan.

Anak didik dijejali dan disuruh menelan apa saja yang disampaikan guru tanpa pernah terlibat di dalam proses awalnya. Rupanya, ‘terlibat’ di sini menjadi kata kunci penting dalam pendidikan. Juga yang berlaku di SALAM. Di sini anak-anak terlibat ‘full’ dalam proses pendidikan yang berlangsung.

Sekolah itu terletak di tengah lahan persawahan yang hijau segar. Orang tua murid dan guru bekerja sama menyelenggarakan pendidikan bagi anak-anak mereka.

Anak-anak diajari tentang fakta. Dalam hitungan, 5×5 hasilnya 25 bukan diajarkan secara abstrak seperti sistem pendidikan konvensional kita melainkan dengan melihat fakta lapangan.

Anak disuruh mengambil 5 butir batu untuk ditaruh di suatu tempat, kemudian anak tadi mengambil 5 butir batu lagi, berturut-turut hingga 5 kali, ditaruh di suatu tempat tadi. Semua anak menyaksikan, hasilnya 25 sebagai benda nyata, faktual, dan bukan imajinasi abstrak.

Diam-diam ini praktik meneliti suatu benda secara sederhana. Kata ‘meneliti’ dan ‘menghitung’ itu tergabung menjadi satu pikiran dan satu tindakan. Ini mengajarkan anak-anak tentang cara berpikir faktual, nyata, dan bisa dibuktikan. Bukti bisa diulang-ulang tanpa mengalami perubahan.

Siapa pun yang mengambil 5 butir batu dan bolak-balik 5 kali akan terbukti hasilnya sama saja: 25. Akan menjadi kesalahan besar kalau kita mengira bahwa proses pendidikan itu hanya menyangkut persoalan menghitung 5×5. Bukan hanya itu.

Ini juga menyangkut segi pendidikan lain, yang biasanya baru diberikan secara sistematis di perguruan tinggi. Ini bisa disebut metode riset secara sederhana tapi mendasar. Di sini, sejak kecil anak-anak sudah dilatih melakukan suatu penelitian secara saksama.

Apa makna teoretis yang terkandung di dalamnya? Membangunkan ‘the sleeping giant’. Di lembaga ini ada kesadaran bahwa tiap anak memiliki potensi besar. Sistem di sini mengubah potensi ‘the sleeping giant’ itu menjadi kekuatan nyata. Potensi itu ada wujudnya.

Toto Rahardjo gandrung pada apa yang disebut nyata, faktual, dan wujud ini. Dia tak ingin mengajarkan apa yang hanya berupa omong yang tidak ada juntrungnya.

Di sini anak dilatih membuktikan diri bahwa mereka punya potensi bawaan yang besar. Caranya, dilatih meneliti secara sederhana tadi. Ini yang dimaksud mengantarkan anak tak perlu jauh-jauh. Begitu jalan dibuka, mereka bisa menempuh sendiri perjalanan secara merdeka untuk ‘menjemput’ sosok pribadi yang tak lain kecuali dirinya sendiri.

Ini diajarkan karena guru dan orang tua yang terlibat di dalam sistem itu menyadari bahwa penelitian lapangan itu suatu urusan penting. Penelitian itu suatu proses membuktikan sesuatu secara mandiri dan merdeka. Dan ini membuat—sekali lagi—mereka menjadi manusia merdeka.

Di sini tidak ada murid ‘nyontek’ seperti terjadi di tempat-tempat lain. Makna jujur, mandiri, dan memiliki integritas pribadi yang utuh bukan diomongkan, seperti dalam pendidikan ‘ceriwis’, melainkan diwujudkan, diamalkan, dan menjadi suatu tradisi intelektual yang kukuh dan terhormat. Semua ini masih dalam wujud sederhana tapi mendasar seperti disebut di atas.

SALAM tidak tiba-tiba memahami ini semua. Seperti para murid, lembaga ini juga bermula dari tidak tahu. Tapi pelan-pelan, bersama para murid, menghayati apa yang dilakukan dan mencoba memetik makna terdalam dari tindakannya. Mereka paham makna ungkapan: pengalaman merupakan guru terbaik.

Kalau anak-anak yang dididik seperti ini kelak menjadi peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) atau lembaga lain, kita tak perlu heran bila mereka sudah tampak istimewa dibanding mereka yang berasal dari produk sistem pendidikan yang lain.

Berbagai pelajaran menjadi pengalaman hidup yang dihayati oleh semua pihak, mungkin terutama oleh anak-anak. Kita tahu bahwa ini sudah merupakan bagian dari pembentukan watak, sifat,dan karakter yang kuat. Di sini sudah dibangun tradisi akademik yang ‘terhormat’ sejak dini.

Di sini suatu pelajaran bisa dimuai dari pertanyaan. Anak-anak memang dilatih bertanya mengenai berbagai hal secara kritis. Kalau anak bertanya mengenai ikan dan cara memancing ikan, guru dan orang tua ‘mengantar’ mereka untuk menemukan buku dan mereka sendiri yang membaca.

Buku bacaan tentang ikan sudah dipahami, kemudian mereka membuat suatu presentasi sederhana. Mereka juga membaca penjelasan tentang memancing. Kemudian presentasi lagi. Lalu secara sederhana menyusun rencana memancing hingga pertanyaan tentang ikan dan memancing ikan tadi terjawab. []

KORAN SINDO, 14 Januari 2017
Mohamad Sobary | Esais, Anggota Pengurus Masyarakat Bangga Produk Indonesia, untuk Advokasi, Mediasi, dan Promosi. Penggemar Sirih dan Cengkih, buat Kesehatan.

Advertisements

Sekolah Tanpa Stres

Oleh: Mohamad Sobary

PROBLEM pokok dunia pendidikan kita mungkin terletak pada bahasa. Mulai dari kelompok bermain, taman kanak-kanak, sekolah dasar, sekolah menengah pertama, kemudian sekolah menengah atas hingga perguruan tinggi, anak didik berbicara dalam bahasa orang tua.

Ungkapan sehari-hari anak-anak cerminan ungkapan orang tua. Anak-anak memandang dunia dengan kaca mata orang tua. Di sini orang tua itu guru. Mungkin kepala sekolah berpidato resmi setiap Senin dalam citarasa orang tua dan mengira anak-anak mendengarkannya.

Kelihatannya ada anggapan yang tak dinyatakan, tetapi dipraktikkan di dalam kehidupan sehari-hari bahwa anak merupakan orang tua dalam bentuk kecil. Tak begitu mengherankan bila praktik pendidikan kita memaksa menjadikan anak sama dengan orang tua.

Padahal anak-anak adalah anak-anak. Mereka itu bocah-bocah yang memiliki dunianya sendiri. Mereka memiliki bahasa sendiri: khas bahasa anak-anak. Mereka juga memiliki cara pandang sendiri dan kegemaran sendiri.

Anak-anak bukan orang tua. Mereka ingin menikmati dunia dengan cara anak-anak. Cara berpikir mereka penuh warna, imajinatif, alamiah, dan murni. Begitulah dunia anak-anak. Dunia itu memiliki bahasanya sendiri.

Kegagalan orang tua memahami anak-anak dijadikan kegagalan anak untuk menyesuaikan diri dengan aturan sekolah. Problem guru dijadikan problem anak-anak. Mereka disebut anak-anak bermasalah. Padahal jelas itu problem guru yang tak memahami anak-anak.

Guru selalu lebih berkuasa menghadapi anak-anak. Dan guru yang lebih berkuasa itu pula yang memutuskan anak yang dianggap bermasalah harus dikeluarkan dari sekolah. Anak bermasalah dipindah ke sekolah lain. Berbahagialah anak-anak kalau sekolah lain tadi betul-betul lain.

Tapi sekolah kita, di mana pun, kurang lebih sama saja. Jika di sekolah yang baru itu anak-anak juga gagal, jelas bahwa mereka itu korban sistem dan orang tua yang tak paham dan tak pernah ingin paham akan dunia dan bahasa anak-anak.

Buktinya, tidak ada guru yang merasa prihatin atas nasib anak-anak yang dipindahkan. Guru tak pernah mencoba tahu bagaimana nasib anak-anak yang diusir dari sekolah tadi. Di sini guru kelihatan tidak bertanggung jawab atas keputusannya.

Di Jepang ada Sekolah Tomo, sekolah istimewa yang diceritakan di dalam buku klasik yang judulnya Toto Chan, gadis kecil di tepi jendela. Buku ini mengisahkan seorang gadis kecil yang selalu berisik, tidak rapi, tidak menurut tata tertib yang ditetapkan sekolah.

Sudah jelas, kalau sedang belajar di dalam kelas, anak-anak harus tenang, tertib, dan tak membuat suara-suara apa pun. Tapi gadis kecil ini lain. Sebentar-sebentar dia mengeluarkan buku-buku dan pensil di dalam lacinya. Kemudian memasukkannya kembali. Suaranya jelas berisik.

Pernah bahkan dia berdiri di tepi jendela dan bercakap-cakap dengan orang lain di luar sana. “Sedang apa kau ini?” tanya si gadis kecil.

Dan guru menanyakannya dengan siapa dia berbicara dan si gadis itu menjawab, dia bertanya kepada seekor burung yang hinggap di suatu dahan di luar gedung sekolah itu. Guru merasa kewalahan. Gadis kecil itu disuruh pindah ke sekolah lain.

Orang tuanya sedih. Dicobanya mencari sekolah yang mungkin bisa menerima kebiasaan anaknya dan ditemukan. Sebuah sekolah aneh yang ruang belajarnya gerbong kereta api.

Suasana itu menarik bagi anak-anak. Waktu belajar guru mengawasi mereka dengan penuh kesabaran. Guru memahami bahwa anak-anak ya anak-anak. Dunia mereka itu campur aduk antara yang nyata dan yang imajinatif. Aturan sekolah ada. Tapi tak dijejalkan begitu saja kepada mereka.

Sekolah Tomo dibuat untuk anak-anak dan bukan sebaliknya seperti di sini: anak-anak dibuat demi sekolah. Situasi sekolah serba-menyenangkan. Aturan makan sehat dan bergizi jelas ada. Waktu makan siang bersama guru berkata: “Mari kita buka yang dari laut dan dari gunung.”

Suasana meriah. Anak-anak menikmati strategi pendidikan seperti ini. Apa yang dari laut itu? Maksudnya ikan. Lauk sehat bagi manusia di mana pun. Yang dari gunung? Itu semua jenis sayuran.

Ikan dan sayuran makanan sehat bagi mereka dan bagi siapa pun. Diam-diam ini pendidikan mengenai kesehatan dan anak-anak bahkan tak begitu menyadarinya, tetapi mereka mempraktikkannya.

endidikan tak usah terlalu banyak kata. Pendidikan bukan khotbah. Lakukan, amalkan. Tradisikan semua yang baik. Ini yang paling mendasar. []

Koran Sindo, 7 Januari 2017
Mohamad Sobary | Esais, Anggota Pengurus Masyarakat Bangga Produk Indonesia, untuk Advokasi, Mediasi, dan Promosi. Penggemar Sirih dan Cengkih, buat Kesehatan.

Menciptakan Para Empu Kehidupan

Oleh: Mohamad Sobary

SUATU diskusi terbatas, diprakarsai Prof Malik Fajar MA, salah seorang anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres). Diskusi diselenggarakan di Universitas Muhammadiyah Surakarta, tanggal 11 Agustus 2016. Mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang dan Surakarta yang juga mantan menteri agama dan menteri pendidikan nasional ini bermaksud memberikan masukan kepada presiden tentang pendidikan agama dan keagamaan di dalam konteks pendidikan nasional.

Prof Malik Fajar–saya menyebut beliau Mas Malik–menaruh perhatian besar terhadap perkara pendidikan agama, terutama yang langsung menjadi bagian dari pendidikan nasional kita. Banyak soal yang menyangkut pendidikan agama yang harus ditata kembali sebaik-baiknya. Pendidikan kita berbasis agama dan kebudayaan untuk mewarnai dan memberi bobot moral dan kebudayaan.

Dengan begitu pendidikan tak sekadar membuat anak dididik menjadi manusia yang pandai belaka. Unsur moral dan kebudayaan dianggap sebagai kekuatan yang memberi landasan dan melengkapi kepandaian tersebut. Mas Malik menghubungkan pendidikan dengan gagasan Bung Karno mengenai nation building dan character building itu. Di sinilah peran agama dan kebudayaan membantu pembentukan watak bangsa tersebut.

Diskusi itu merujuk pada tujuan pendidikan nasional kita yang dituangkan ke dalam 8 unsur penting: (1) membentuk manusia beriman dan bertakwa, (2) berakhlak mulia, (3) sehat, (4) berilmu, (5) cakap, (6) kreatif, (7) mandiri, (8) demokratis dan bertanggung jawab. Tujuan ini menjadi titik tolak berpikir para pembicara. Sebagian menyinggung sedikit. Sebagian yang lain langsung memberi masukan baru untuk melengkapi delapan unsur tadi.

Lima pembicara pagi itu terdiri atas Prof Dr Bambang Setiaji, rektor Universitas Muhammadiyah Surakarta, Prof Dr Komaruddin Amin, Dirjen Pendidikan Islam Kementerian Agama Dr Hamid Muhammad, Dirjen Pendidikan Dasar Dan Menengah, Kemendikbud, Dr Fatah A Santosa, M Ag, Fakultas Agama Islam universitas Muhammadiyah Surakarta dan saya.

Di dalam esai ringkas ini tak mungkin saya mengomentari kontribusi yang diberikan oleh para pembicara lain, kecuali satu: ada suara-suara yang mengusulkan pendidikan agama untuk dijadikan mata pelajaran yang diuji dalam ujian nasional kita. Usul ini bisa menimbulkan persoalan ruwet, terutama jika ujian agama hanya menguji dimensi kognitif para murid dan mengabaikan sisi moral dan tingkah laku dalam kehidupan sehari-hari.

Mungkin patut menjadi perhatian pemerintah bahwa sekarang ini agama telah direduksi menjadi pasal-pasal hukum atau fikih belaka. Dengan semangat reduksionis ini anak didik dijejali hukum untuk apa yang disebut menegakkan syariah, tapi juga untuk dengan mudah menakut-nakuti pihak lain. Agama, yang memberi cerminan moral, etika, sejarah, tradisi intelektual, arsitektur, dan kebudayaan tak boleh direduksi hanya menjadi pasal-pasal perintah dan larangan, halal dan haram, dan sejenisnya. Agama itu sosok peradaban besar yang mengagumkan.

Dalam diskusi tersebut saya menyumbangkan pikiran secara lisan, tanpa makalah tertulis. Tapi saya memberi judul “Kesalehan Sosial dan Kearifan Bangsa” di dalam uraian yang saya sampaikan. Saya menyoroti delapan tujuan pendidikan nasional kita itu dengan kritik bahwa tujuan tersebut dicapai melalui pengajaran yang lebih ditekankan pada dimensi kognitif, untuk membuat anak didik menjadi pandai. Semata-mata pandai.

Memang ada sedikit unsur afektif yang disentuh. Tapi dimensi evaluatif, yang secara dialektif ‘mempertemukan’ nilai-nilai ideal dengan realitas keseharian kita sehingga terbentuklah etos (bukan hanya etos kerja) yang memberi ciri identitas pribadi kita. Di sana disiplin, kerja keras, gigih, teguh maupun jujur dalam perjuangan hidup terwujud. Perlu ditekankan di sini bahwa etos bukan cermin kepandaian semata, tetapi sekali lagi, di dalam etos itu juga tecermin watak atau karakter yang memberi ciri kepribadian kita.

Tekanan pada dimensi kognitif di dalam pendidikan kita agak jelas bisa kita lihat di dalam dunia akademik, hanya menghasilkan kaum penghafal. Agak mirip burung beo. Jika tekanan diberikan pada dimensi evaluatif, dunia akademik akan melahirkan para penemu yang gigih dan kreatif bekerja di lapangan maupun di dalam laboratorium eksperimen ilmiah. Betapa mencolok beda antara kaum penghafal dan para penemu.

Kaum penghafal memang menemukan ilmu, tetapi sifatnya bukanlah ilmu yang amaliah, dan tak bisa memproduksi amal ilmiah. Ilmu amaliah, dan amal ilmiah hanya bisa dicapai oleh atau melalui pendekatan yang menekankan dimensi evaluatif tadi.

Kaum penghafal tadi mungkin pula bisa menjadi orang-orang saleh secara ritualistik berkat pendidikan agama tadi. Para penemu yang gigih dan kreatif dalam kerja keras mereka di lapangan maupun di laboratorium bukan hanya mampu menjadi orang saleh secara agamais dan ritualistis. Tapi, selebihnya, mereka mencerminkan kesalehan sosial dan menjadikan diri mereka bermanfaat lebih besar bagi orang lain dan bagi dunia di sekitarnya.

Inilah gambaran kesalehan sosial yang saya bayangkan sebagai produk pendidikan agama dalam sistem pendidikan nasional kita, yaitu agama yang bukan hanya bicara pasal-pasal hukum tentang salah-benar, halal-haram dan sejenisnya.

Tujuan pendidikan nasional kita sangat kentara, hanya ditekankan pada pribadi anak didik untuk memiliki delapan sifat yang disebut di atas. Dengan kata lain, di sini jelas bahwa tujuan pendidikan berhenti pada pribadi. Saya kira ini wajib dibenahi sejak dalam perencanaan. Tujuan pendidikan itu harus diarahkan pada kepentingan yang lebih besar: membentuk sikap, watak atau karakter bangsa kita.

Ketika Bung Karno dengan penuh semangat berbicara mengenai nation building dan character building diskursus politik itu berdiri sendiri sebagai cita-cita ideal beliau. Tidak pernah terdengar adanya tokoh dunia pendidikan yang menangkap semangat Bung Karno tadi dan menempatkannya di dalam sistem pendidikan nasional kita. Semangat Bung Karno didengar dan diikuti dengan pujaan, tetapi mirip seperti kita memuja burung di angkasa, tanpa kesadaran menyediakan kurungan bagi burung pujaan itu. Seharusnya, nation building dan character building” itu ditempatkan di dalam wadah, yang disebut ‘kurungan’ tadi, yaitu sistem pendidikan nasional kita.

Orang-orang saleh secara sosial tadi, yaitu para penemu di dalam dunia ilmu pengetahuan, bergulat dengan gigih, tanpa mengenal lelah meskipun gaji mereka kecil. Ini bagi mereka yang menjadi pegawai negeri. Gaji kecil tak menjadi penghalang. Tapi pemerintah yang manusiawi dan sungguh mendambakan terbentuknya kebudayaan bangsa yang gigih, kreatif, kerja keras, tanpa mengenal lelah. Jika ciri identitas pribadi ini menjadi ciri bangsa, betapa hebat kita.

Maka marilah kita ubah. Tujuan pendidikan tidak berhenti hanya pada tingkat pribadi, melainkan juga pada pembentukan sikap dan watak bangsa sebagaimana disebut di atas. Orang-orang saleh secara sosial, yaitu para ilmuwan yang membangun sikap keilmuan yang amaliah dan menjadikan amal mereka sebagai amalan ilmiah, perlahan-lahan akan sampai pada suatu tahap dalam kehidupan mereka untuk memasuki suatu wilayah keilmuan di mana tumpuan hidup dalam perjuangan mereka bukan berkutat pada teori lagi, melainkan pada tingkat filsafat yang lebih tinggi.

Pergeseran dari tahap atau “makom” teori ke filsafat ini memiliki nama yang di dalam dunia kaum sufi disebut makrifat. Mereka kaum makrifat di dalam ilmu-ilmu duniawi. Kaum makrifat ini memiliki kompetensi lain yang kita sebut kearifan. Mereka orang-orang arif. Penemu saleh secara sosial, makrifat, dan arif. Merekalah yang membangun kearifan bangsa. Orang-orang seperti itu di sini disebut para empu kehidupan. Intinya mereka orang-orang terpilih. []

Koran SINDO, 13 Agustus 2016
Mohamad Sobary | Budayawan

Bukan Salah Bunda Mengandung

Sumber Tulisan : Disini

Apa yang buruk, itu hasil budi pekertimu sendiri.

Pepatah itu ungkapan bijak yang mendalam. Isinya sebuah renungan yang harus kita “gali” sendiri untuk menjadi sejenis “kaca benggala” tempat kita bercermin dan “mengolah” hidup. Terutama hidup kita sendiri.
“Mengolah” hidup? Apa hidup masih mentah? Ya, hidup masih mentah. Apa yang disodorkan di depan kita dan semua yang kita hadapi, tak bisa ditelan begitu saja.

Kita harus “mengolahnya” secara hati-hati dan penuh sikap bijaksana. Apalagi bila kita bicara tentang kehidupan -terutama birokrasi pemerintahan- yang banyak penyimpangannya, penggelapannya, maling, kecu, berandal, dan garongnya.

Di sana tak ada teman, saudara, guru, dan sahabat. Semua pihak bisa saja menipu, mengecoh, bahkan sengaja menjerumuskan. Omongan mereka tak bisa ditelan mentah-mentah. Tiap kata pendeknya, wajib “diolah” dengan cermat hingga matang, baru boleh kita “kunyah” pelan-pelan dan hati-hati dengan keraguan yang tak boleh disanggah.

Seserius itukah keadaannya? Mungkin bahkan lebih dari itu. Hidup yang hanya sekali dan tak lebih dari seabad harus dilalui dengan kewaspadaan yang tak bisa ditunda hingga lusa karena dalam banyak hal penting, menanti hingga lusa berarti terlambat.

Sebuah kuitansi yang disodorkan kepada kita yang minta ditandatangani dan amplop tebal berisi uang, tak mungkin kita lahap begitu saja. Kuitansi itu bisa saja mengandung jebakan. Duit itu, yang mungkin terasa enak, belum tentu enak dalam pengertian seutuhnya.

Saat ini dia enak, tetapi bulan depan belum tentu. Kuitansi itu? Saat ini dia bagian wajar dan sehat dari apa yang disebut manajemen keuangan. Dia barang yang sah dan sehat dilihat dari sudut pengelolaan uang. Namun bulan depan? Tahun depan? Dua tahun yang akan datang?

Berlalunya waktu, bukti penerimaan, dan legalitas aturan pengelolaan uang itu bisa berganti wajah menyeramkan: tanda bukti bagi KPK atas keterlibatan seseorang ke dalam suatu perilaku menyimpang, yang bisa disebut penggelapan, penyelewengan, dan bahwa keduanya bisa diberi arti memperkaya pihak lain, serta merugikan keuangan negara, bahwa tindakan itu melawan hukum, tindak pidana, bahkan bisa kedudukannya disebut tindak kriminal. Ringkasnya, korupsi.

Momentum

Momentum pendek antara detik-detik perenungan untuk menolak dan bujukan lembut dari dalam jiwa kita sendiri untuk bersedia menandatangani kuitansi tadi, berlalu dengan cepat. Namanya saja momentum pendek. Momentum itu tak bisa menunggu. Ada desakan keras yang membingungkan. Lalu kita lalai.

Dalam momentum pendek itu kuitansi tadi ditandatangani. Momentum itulah penentu utama baginya untuk masuk bui. Momentum pendek itu situasi kritis. Dia membisikkan “kalimah toyyibah”, yang berisi kata-kata pilihan surgawi. Sebaliknya, ada bujukan lembut, seolah kelembutan itu wujud surga itu sendiri. Siapakah yang bisa disalahkan dalam perkara ini?

“Bukan salah bunda mengandung”. Begitu kata sebuah pepatah lama, yang sekarang hampir tak berlaku lagi. Semua, apa pun yang terjadi, jangan bawa-bawa nama ibu. Jika suratanmu baik, itu karyamu sendiri. Jika yang terjadi sebaliknya? “Buruk suratan tangan sendiri.” Apa yang buruk, itu hasil budi pekertimu sendiri.

Dan ibu? Kebanyakan ibu hanya merana, tetapi mungkin harus dicatat juga, ada ibu yang mati-matian menyangkal kejahatan anaknya. Kronologi peristiwa menyimpang, sikap sengaja menggelapkan, dan pencurian uang negara (artinya juga uang rakyat) sudah dipaparkan dengan jelas, gamblang, dan “sahih”, serbakuat, tetapi ada ibu yang mati-matian menyangkal.

Pendeknya, semua dianggap tidak mungkin. Semua terasa ganjil karena anaknya itu sopan, lemah lembut, penuh tata krama, sering memakai peci atau sorban, serta kalau memberi ibunya uang, jumlahnya aduhai besarnya. Ibunya ikut kaya karena anaknya yang sopan selalu menyetor uang dalam jumlah besar tadi.

Ibu-ibu yang lain, pada umumnya, sekali lagi, sengsara. Ibu ikut tercoreng wajahnya, namanya ikut buruk. Betapa malunya dia lewat di depan rumah Pak RT dan para tetangga yang lain. Juga ketika hadir di dalam kelompok ibu-ibu arisan. Kasihan ibu tadi.

Apakah kejahatan itu hasil didikan sang ibu? Apakah “kekudangan”, dambaan sang ibu memang agar anaknya menjadi pencuri uang negara, yang menyengsarakan rakyat yang sudah lama sengsara itu?
Jelas tidak.

Ibunya pernah mendambakan anaknya bekerja dengan baik, memperoleh penghasilan yang baik, halal, bersih, dan penuh berkah. Biar pun setitik kecil, jangan hendaknya ada noda yang melekat pada rezeki itu. Apa yang ternoda, biar pun sedikit, tetap noda dan itu memalukan. “Nila setitik” kata pepatah yang lain, merusak susu sebelanga.

Perasaan Ibu

Susu warnanya putih tanda kesucian. Nila itu hitam warnanya dan hitam tanda kekotoran. Maka setitik nila hitam itu, bisa bikin hitam sebelanga susu yang putih bersih itu. Begitu ibu-ibu pada umumnya.

Bagaimana kira-kira perasaan para ibu yang pernah melahirkan anak-anak, yang ketika besar dan menjadi pejabat, korupsi besar-besaran, dan menjadi kaya, memiliki beberapa rumah di satu kompleks perumahan, memiliki mobil-mobil mewah, serta anaknya berkata: apa salahnya kaya?

Akankah ibunya menjawab bahwa ucapan anaknya benar belaka? Akankah ibu merasa bangga atas kekayaan anaknya? Tidak. Ibu yang baik tak boleh menyangkal bahwa anak itu anaknya. Namun, dia tak boleh nekat membela mati-matian kejahatan anaknya.

Ibu yang baik mungkin menangis sejadi-jadinya. Jika anaknya menyodorinya uang maka uang itu, biar pun disimpan di dalam kulit durian, akan dilemparkannya ke wajah anaknya. Anak tetap anak.

Namun, ada pemisahan rohaniah yang jelas. Kejahatan anak terjadi bukan karena “salah bunda mengandung”. Semua jenis kejahatan itu, tanda bahwa “buruk suratan anaknya” menjadi tanggung jawabnya sendiri. Itu hasil tangannya dan bukan karena buruk kandungan ibunya.

*Penulis adalah budayawan.

Kondomisasi Remaja

Sumber Tulisan : Disini

Sebagai isu sosial, gagasan “kondomisasi” yang dilontarkan menteri kesehatan untuk mencegah penyakit menular, terutama HIV, yang muncul akibat hubungan seks, sudah lewat.

Tiap saat saya menimbang untuk menulisnya, selalu saja kalah dengan isu lain yang lebih “in”, lebih mendesak, dan memberi rangsangan lebih besar untuk menggarapnya.

Munculnya “pro”-“kontra” yang berkembang di dalam masyarakat tidak penting sama sekali untuk diulang. “Pro”-“kontra”, dalam satu segi, merupakan hak setiap orang, setiap warga negara, yang memahami dan menghargai kebebasan berpendapat, yang dijamin konstitusi kita.

Meskipun begitu, “pro” atau “kontra” buta, yang tak didasarkan argumen yang kuat, jelas menyia-nyiakan hak berpendapat, membuang-buang waktu, karena tak memberi perspektif apa pun.

Kita tahu, pihak yang “pro” sedikit jumlahnya. Di dalam kategori sikap ini jelas, terutama pastilah menteri dan orang-orang di sekitarnya, yang sejak semua terlibat dalam mengolah dan mematangkan ide yang dianggap “cemerlang” itu. Kelompok itu kemudian meluas, meliputi jumlah yang lebih besar, yaitu orang-orang di dalam kantor menteri, yang terlibat dalam proses perumusan kebijakan tersebut.

Boleh jadi ada staf menteri yang tak begitu setuju dengan gagasan itu, bahkan frontal menolaknya, tetapi mungkin mereka kalah wibawa dengan menteri. Seperti lazimnya sikap orang di dalam pemerintahan, tidak setuju setengah mati pun memilih untuk membisu seribu bahasa.

Tidak enak melawan menterinya sendiri. Bagi kita, “melawan” demi kebaikan pun dianggap tidak etis. Birokrasi pemerintah bukan tempat percaturan ide-ide dan pemikiran bebas dan kebebasan berbicara.

Setidaknya, di sana belum lazim orang mempertengkarkan suatu ide, demi kebenaran ilmiah maupun demi kemaslahatan seluruh bangsa.

Bahkan, demi menyelamatkan nama baik atasan pun tidak. Pilihan untuk membisu akhirnya menjadi strategi mencari selamat yang dianggap anggun, sopan dan tahu akan etika birokrasi “yes Sir” dan “yes Madam” yang memanjakan atasan.

Kita lalu mengerti, apa gunanya sok berani-beranian mengambil risiko jabatannya hilang. Anak buah, staf, dan bawahan harus taat pada atasan, yang merasa lebih mengerti persoalan. Melawan dengan argumen keilmuan dicap sok pinter, sok tahu. Memberi alternatif dengan pertimbangan-pertimbangan moral dicap sok suci.

Ketulusan menyampaikan pandangan demi kebaikan atasan dan masyarakat dikutuk sok bijaksana. Betapa celaka hidup di dalam lingkungan beku seperti itu. Inilah “barisan” yang “pro” gagasan kondomisasi buat kalangan remaja itu. Pihak yang “kontra” tak usah dibahas kelompok demi kelompok, apalagi orang per orang, karena jumlah mereka aduhai, betapa banyaknya.

Apakah ini artinya?

Isu Sensitif

Dokter, pada umumnya, sudah berbahagia dengan argumen teknis. Apalagi dokter zaman sekarang. Ilmu teknisnya sudah dibanggakan sejak masa kuliah dan tidak mau memandang -sebelah mata pun- ilmu-ilmu lain. Apalagi ilmu sosial yang hafalan dan dianggap sepele dibanding ilmu kedokteran yang bergengsi di masyarakat.

Mari kita bandingkan dokter hari ini dengan dokter di masa lampau, seperti Dokter Tjipto Mangoenkoesoemo. Kecuali dokter, beliau juga orang politik, orang partai, orang gerakan. Bacaannya banyak. Argumen-argumen kedokterannya tidak teknis, tidak sempit, tidak birokratis. Kondomisasi itu bagi beliau mustahil dikemukakan ke masyarakat sebagai langkah kesehatan mencegah penyakit.

Dokter Tjipto belajar etika, filsafat, dan moral, sama seriusnya dengan beliau belajar kedokteran. Bagi beliau, dokter tidak cukup mengobati dan sekadar mengobati pasien-pasiennya. Dokter wajib tahu politik, wajib tahu komunikasi massa, dan harus paham akan akibat politik dari suatu isu dalam kebijakan publik.

Di negeri kita, kebijakan -sehebat apa pun- yang secara moral tak mudah diterima, kontan diserang. Adakah menteri kesehatan ini pernah mempertimbangkan isu moral di balik kebijakannya? Adakah stafnya, yang cukup sensitif, dan memberinya peringatan agar gagasan ini tak usah disosialisasikan?

Kalau ada, betapa nekatnya menteri itu. Agama itu sensitif sekali. Kita semua tahu hal itu karena bukankah kita masih orang Indonesia?

Orang pandai, terpelajar, modern, kosmopolit, dan liberal dalam memandang hidup, boleh saja menolak semua bentuk “kepicikan”(?) itu. Tapi, orang dalam posisi menteri, yang hendak menerapkan kebijakan publiknya, namun menolak semua hal sensitif itu, jelas gagal total.

Menyatakan sikap keagamaan yang diberi “merek” liberal pun menjadi masalah. Kawin lintas agama masih belum bisa diterima. Orang masih memberinya cap “haram”, “melanggar”, “zina”, dan sejenisnya. Ini tak bisa diabaikan begitu saja.

Pindah agama karena perkawinan, sering dikutuk -termasuk secara diam-diam- dan dicemooh di dalam masyarakat “kaum beriman”, yang menganggap menjaga “iman” secara konsisten sebagai corak ketulusan beragama, dan kesungguhan “mencintai” Allah -membacanya Alloh- dengan ketulusan cinta ilahiah.

Ini semua mau diabaikan? Secara pribadi silakan kalau siap menghadapi risiko. Tapi, seorang menteri tak boleh mengabaikannya, kecuali siap memilih gagal total seperti program kondomisasi ini. Agama perkara serius.

Agama jangan dimain-mainkan. Jangan diremehkan, seolah sekadar seperti baju; bisa ditukar, bisa diganti kapan saja, ketika kebutuhan itu timbul. Pejabat yang bersikap teknis, miopik, tidak sensitif, dan memandang remeh agama dan sikap keberagamaan bangsanya, jelas parah. Parah sekali.

*Penulis adalah budayawan.

Murid mengencingi gurunya sendiri

Sumber Tulisan : Disini

DI dalam masyarakat agraris-tradisional, ikatan kekerabatan dan usaha menjaga keutuhan tradisi merupakan bagian terpenting dari kelestarian hidup itu sendiri. Harmoni kehidupan bersanding dengan dinamika.

Perubahan sosial yang cepat dikawal nilai-nilai dan etika. Pertumbuhan ekonomi dan peningkatan taraf kemakmuran masyarakat disertai keseimbangan rohaniah sehingga limpahan materi tidak membuat manusia lupa diri. Kemajuan, perubahan, dan kemakmuran tidak menjerumuskan manusia ke dalam kekosongan makna hidup yang bersifat “meaninglessness”, tetapi sebaliknya: hidup tetap berarti “meaningfulness” dan secara rohaniah manusia bisa mencapai cita-cita idealnya: “happiness”.

Dunia memang bukan surga sebagaimana gambaran menggiurkan di dalam kitab suci. Tetapi, sistem kemampuan masyarakat dapat ditingkatkan semaksimal mungkin untuk membangun sejenis “kerajaan surga” di bumi sehingga apa yang hanya fana ini—sefana apa pun—pernah bisa bermakna. Di sana apa yang “pribadi” tak boleh melukai apa yang “sosial”, apa yang “materi” tidak boleh menghapuskan apa yang “rohaniah”, dan semangat kemajuan tak boleh lepas dari kendali “kepantasan” dan segenap tata krama yang telah teruji dalam usaha menjaga supaya hidup tetap mengalir sesuai fitrahnya sendiri.

Dalam tatanan seperti itu filsafat dan landasan hidup dijaga, diamalkan, dan dihormati keutuhannya, tapi bukan keutuhan beku seperti sebuah kuburan. Kehidupan tetap kehidupan yang di dalamnya banyak tingkah laku menyimpang. Tapi, kaum bijak bestari di dalam masyarakat bersangkutan menggariskan tatanan secara lentur, luwes, estetis, namun kekuatannya sebagai aturan hidup tidak lenyap dalam estetika itu. “Guru kencing berdiri, murid kencing berlari” menjadi contoh aturan etis itu.

Orang yang dianggap seranting ”ditinggikan”, selangkah “didahulukan” tidak boleh main-main dalam hidup ini. Dia dianggap ”panutan” orang banyak. Siapa tahu malah merupakan “junjungan” yang sangat dimuliakan sehingga orang rela menjaga segenap kehormatannya dengan menutup kemungkinan ”aib-aib”- nya yang tersingkap. Kepatuhan orang kepadanya membuat mereka bersedia “mikul duwur”, menghormati setinggi-tingginya, dan “mendem jero”, merahasiakan apa yang memang rahasia.

Tapi, bila orang dalam tahap rohaniah dan sosial seperti ini masih juga bertindak sembarangan, menabrak apa yang terlarang, dan bersikap menghalalkan apa yang secara sosial, ekonomi, dan politik maupun moral haram, dunia sosial di sekitarnya telah ambruk. Apa yang haram tetap haram. Hanya sebangsa setan, menurut sufi besar, Abdul Qodir Jaelani, yang membuat apa yang haram menjadi halal. Yang lain, yang bukan setan, tak bisa melanggar senekat itu.

“Apa efek pelanggaran macam itu, dari golongan elite setinggi itu?” Dulu efeknya ini: kalau “guru kencing berdiri”, “murid kencing berlari”. Itu dulu. Hari ini siapa tahu itu tak begitu relevan lagi. “Apa yang sekarang tampak lebih relevan?” “Sekarang, kelihatannya kalau “guru kencing berdiri”, “murid mengencingi gurunya.” “Haaaah?” Jelaslah. Guru seperti itu tak pantas dianggap guru.

Dia tidak bisa “digugu”, dianut, dan “ditiru”, diteladani. Dia bukan kiblat politik, bukan kiblat sosial, bukan pula kiblat moral. Guru “dikencingi” murid itu masih lebih baik. “Ada yang lebih parah lagi?” “Ada. Dilupakan. Dibiarkan sendirian. Tidak dikunjungi. Tidak menjadi tempat bertanya. Tidak menjadi apa-apa. Dia boleh menunggu. Tapi, yang datang tak akan pernah ada. Sanksi sosial seperti ini berat. Dia sanksi yang berubah menjadi siksaan batin yang parah. Amat parah.

Di dalam kehidupan masyarakat Nusantara hal ini bukan perkara baru. Apa yang disebut “raja adil raja disembah, dan raja lalim raja disanggah”, apa bedanya dari fenomena tadi? Contoh modern—maksudnya mutakhir—banyak sekali. Ketua partai yang “plintat-plintut” dan tidak bijak sama sekali, yang mengutamakan keluarganya sendiri, kebijakannya dilawan. Ketua partai ingin “begini”, diam-diam, orang melawan, dan yang terjadi bukan yang “begini” tadi.

Ketua partai ingin anak emasnya menempati posisi penting ternyata dalam proses politik yang licin anak emasnya terdepak seperti—maaf, anjing kurap—dan apa makna politisnya? Orang tak mau menuruti keinginannya. Dia sudah dianggap ”guru yang kencing berdiri”. Dia sudah dianggap memorak-porandakan tatanan hidup. Dia sudah mengguncang kehidupan itu sendiri. Apalagi gunanya guru seperti itu? “Apa yang dilakukan murid kepadanya?” “Murid itu mengencingi gurunya”.

Cara ini langsung, nyelekit, dan menghancurkan harmoni kehidupan gurunya. Bahkan mematikannya. Kalau masih berkuasa saja dilawan orang, dan ibarat guru sudah “dikencingi” muridnya sendiri, apa kira-kira yang terjadi kelak bila yang bersangkutan sudah tiba masanya untuk, secara hukum, secara politik, dan secara alamiah, dilucuti jabatannya? “Ya, karena itu ‘ojo dumeh’ lagi berkuasa,” kata orang yang dizaliminya, dan yang menaruh rasa dendam politik kepadanya.

Dia akan mengamati secara dekat, apa yang bisa dilakukan kelak. Dalil politik yang berkata bahwa politik “is the art of possible”, ya itulah maknanya. Cita-cita membutuhkan kesabaran. Ini “seni menunggu”: selamban apa pun waktu berjalan, seolah seminggu terasa sewindu, tapi yang ditunggu itu akan datang dan pasti datang. Sejarah penguasa zalim di seluruh dunia, termasuk yang dicatat dalam kitab-kitab suci, kalau penguasa sudah menjadi ”guru yang kencing berdiri”, dalil politiknya sangat jelas: “sehabis jaya datanglah binasa”.

Hukum-hukum sejarah— sejauh menyangkut perkara seperti ini—tidak pernah ramah. Beberapa bahkan sangat mengerikan. Bulu kuduk kita berdiri ketika akhirnya “kebinasaan” yang berkuasa. Tapi, inilah ironi dunia: para penguasa tak pernah belajar dari hukum sejarah. Rupanya, mereka ingin dikenai langsung oleh hukum itu sendiri. Ibarat guru, mereka ingin para “murid mengencinginya”.

MOHAMAD SOBARY
Esais, Anggota Pengurus Masyarakat Bangga Produk Indonesia,
untuk Advokasi, Mediasi, dan Promosi.
Penggemar Sirih dan Cengkih, buat Kesehatan.
Email: dandanggula@hotmail.com

Kebenaran ilmiah & kebenaran Ilahiah

Sumber Tulisan : Disini

Sebelum rumus, dalil atau hukum-hukum kebenaran alam semesta dirumuskan oleh para pencari hakikat kebenaran, atau para ilmuwan, di mana kebenaran bersembunyi?

Pendeknya, sebelum peradaban bisa berbicara tentang kebenaran ilmiah karena kebenaran jenis itu belum ditemukan di zaman itu kebenaran diberi “merek”apa dan menjadi milik siapa?

Dengan bahasa agama, mungkin kita bisa menyebut, saat itu kebenaran masih disembunyikan di dalam genggaman Allah. Saat itu belum ada yang bertanya mengenai kebenaran dengan sungguh-sungguh, melalui kerja tekun, memakai percobaan, perenungan, maupun pengamatan sistematis terhadap berbagai gejala alam semesta.

Di zaman itu kebenaran semata milik Allah, dan kita menyebutnya kebenaran ilahiah: satu-satunya jenis kebenaran dan sumber dari jenis semua kebenaran.

Ketika Newton mengamati apel jatuh dari tangkainya ke tanah, dia bertanya terus-menerus mengapa dan mengapa, dia menemukan hukum gaya berat, hukum gravitasi bumi. Ini disebut kebenaran ilmiah. Rahasia Allah, yang tertutup misteri kegelapan selama abad-abad yang lewat, terungkap.

Maka itu, dalam arti tertentu,kebenaran ilmiah ini bisa disebut milik manusia. Ini hasil kerja “ilmiah” dan melahirkan kebenaran “ilmiah” tadi.Apa yang “ilmiah” ini berkembang pesat.

Dunia kedokteran dan pengobatan modern merupakan anak kandung dari kerja “ilmiah”jenis ini. Mereka pun kemudian merumuskan formula obat-obatan. Umat manusia pun “beriman” pada formula “ilmiah” yang teruji dan terpuji itu.

Di luar dunia “ilmiah”yang jelas meneguhkan kehebatan dunia modern, ada dunia lain, yang dengan kearifannya sendiri, mencoba merespons fenomena alam semesta, dan mencari kebenaran melalui pengamatan tekun, juga teruji.

Jamu-jamu bikinan nenek moyang kita dahulu kala, yang kini kita terima sebagai warisan kebudayaan yang megah itu, jelas lebih penting, lebih berharga, daripada sekadar memberi gengsi,dan merek eksotik dunia Timur.

Apakah hasil kerja tekun mereka itu juga “ilmiah”? Label ilmiah vs tidak ilmiah, kelihatannya tak menjadi isu, atau persoalan penting.

Apa salahnya tidak ilmiah, tapi “ngurakapi”, terbukti memenuhi kebutuhan masyarakat, menyembuhkan penyakit, menyelamatkan kehidupan? Apa salahnya tidak ilmiah? Sebaliknya, apa mulianya “ilmiah”, tapi tak mampu menjawab persoalan hidup yang sangat mendesak, dan kritis sifatnya?

Apa nilai lebihnya “ilmiah” jika persoalan gawat mengenai “hidup” atau “mati”-nya seseorang tak ada jawabnya? Orang kampung memiliki kreativitas dan nalar “mencoba” yang dahsyat.

Mereka bisa melakukan eksperimen dan kerja tekun. Singkong beracun yang mustahil dimakan, dibikin menjadi “mungkin”. Singkong itu dikupas, direndam air beberapa jam lebih dahulu, untuk membuang racun di dalamnya.

Racun itu memang hilang karena ketika dimasak dan kemudian dimakan, singkong tadi enak, dan terbukti menyelamatkan kehidupan. Diakui atau tidak oleh dunia ilmu modern, kreativitas itu juga wujud kebenaran ilmiah.

Boleh saja diejek kebenaran ilmiah cara kampung, semata karena hal itu tak terjadi di Eropa, atau Amerika. Tapi, apa yang merupakan kebenaran ilmiah di kampung itu juga akan tetap merupakan kebenaran ilmiah di Eropa atau Amerika bila eksperimen dilakukan di kedua negeri itu.

Anda tahu, di kampung-kampung ada sejenis talas beracun, yang bisa membikin gatal-gatal di kulit yang menyentuhnya? Atau di lidah dan mulut yang telanjur memakannya? Talas itu punya nama: senthe. Dibakar gatal. Direbus gatal. Digoreng juga gatal.

Sebenarnya orang tahu, senthe tak layak lagi dimakan. Dia buah yang dijauhi. Tapi, mereka yang mengerti “tabiat” umbi itu, mudah menanganinya. Senthe direndam air garam beberapa jam.

Paling lama empat jam. Racun gatal-gatal itu luruh di dalam air dan pergi ketika air dibuang. Dia kemudian menjadi makanan yang aman bagi kemanusiaan kita. Ada lagi umbi bernama gadung: buah di dalam tanah yang sangat beracun.

Tapi, orang kampung bisa menjinakkannya. Gadung itu dikupas, diiris-iris tipis-tipis, dibalur abu, lalu dijemur. Sesudah kering, gadung tadi direndam semalam, dan paginya, airnya dibuang.

Gadung direndam lagi semalam berikutnya, dan besok paginya, air rendaman dibuang lagi. Begitu berturut-turut, setidaknya tiga kali. Sesudah itu, gadung yang beracun itu pun siap dimasak. Dikukus bisa.

Digoreng, menjadi gadung goreng yang kemripik dan gurih juga bisa. Hasil karya orang kampung itu ternyata bisa menjadi makanan orang kota, modern, bahkan dari kelas paling elitenya. Sekampung-kampungnya sebutan, hasil karya ini juga merupakan“kebenaran ilmiah”.

Di sana ada formula alam, air sebagai kekuatan peluruh racun, dan garam penjinak jenis racun yang lain. Ini bukan hanya kebenaran ilmiah tingkat kampung.

Tapi, kebenaran ini juga akan menjadi kebenaran di Eropa dan Amerika. Dia tak pernah memilih tempat. Orang kampung bisa menjadi pawang ular, pawang gajah, dan pawang harimau. Orang kampung yang lain bisa menjadi pawang singkong beracun, senthe beracun, dan gadung beracun.

Bagi orang kota,barang beracun macam itu mustahil dimakan karena membahayakan kehidupan. Benda-benda itu beracun itu adapawangnya. Para pawang menundukkan mereka bukan dengan mantra-mantra “sim salabim”, melainkan dengan formula ilmiah yang mencerminkan kebenaran ilmiah.

Apa yang mustahil diubah menjadi mungkin. Di sana kebenaran ilmiah mereka bertemu dengan kebenaran ilahiah, yang sudah ada jauh sekali sebelumnya.

Dr Gretha dan Prof Dr Sutiman B Sumitro,yang bertahuntahun, dengan ketelitian ilmuwan modern, yang rendah hati dan selalu “bertanya” penuh sikap para hamba yang hanief, yaitu tekun, gigih mengamati, cermat mencatat, telah meneliti dan menemukan tembakau sebagai obat.

Radikal bebas di tembakau dibikin luruh dan hilang berkat teknologi nano yang beken. Maka itu, tembakau yang banyak racunnya menjadi aman dikonsumsi.

Dalam tembakau yang sudah dibikin sehat secara ilmiah, bukan hanya menjadi kebenaran ilmiah, melainkan juga, sekaligus, menjadi kebenaran ilahiah.

Barang siapa mengingkari kebenaran ilahiah, mengingkari nikmat Allah. Orang ingkar macam itu, namanya kufur nikmat. Kufur itu kata yang sama dengan kafir. Mengapa kau masih juga gigih menentangnya?

MOHAMAD SOBARY
Anggota Pengurus Masyarakat Bangga Produk Indonesia,
untuk Advokasi, Mediasi, dan Promosi.
Penggemar Sirih dan Cengkih, buat Kesehatan.